Di Balik Terbatasnya Kinerja Indeks Reksa Dana Saham

Reksa dana saham mengalami kinerja yang kurang baik meski secara indeks komposit telah mencapai rekor tertinggi. Ada apa dengan reksa dana saham?

Pandu Gumilar

29 Nov 2021 - 17.22
A-
A+
Di Balik Terbatasnya Kinerja Indeks Reksa Dana Saham

ilustrasi reksa dana

Bisnis, JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) telah bergerak di zona positif akhir-akhir ini, bahkan sukses menyentuh rekor baru pada pekan lalu. Namun, pada saat yang sama, kinerja reksa dana saham pekan lalu justru memerah. Sepanjang tahun ini pun instrumen ini kinerjanya sangat terbatas.

Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja indeks reksa dana saham (IRDSH) atau Infovesta Equity Fund Index sepanjang pekan lalu, 19-26 November 2021, turun paling dalam yakni -2,03 persen. Di posisi kedua ada indeks reksa dana campuran (IRDCP) atau Infovesta Balanced Fund Index yang turun 1,21 persen.

Di kalangan reksa dana syariah, Infovesta Sharia Equity Fund Index juga turun paling tajam, yakni -1,65 persen, disusul Infovesta Sharia Balanced Fund Index yang juga melemah -1,00 persen.

Pelemahan ini tentu wajar, sebab pekan lalu IHSG juga anjlok 2,36 persen, terutama di akhir pekan. Padahal, IHSG sebelumnya sempat menyentuh rekor 6.723,39 pada Senin (22/11). IHSG melemah dalam pada Jumat (26/11) sebesar -2,06 persen ke level 6.561,55.

Namun, terlepas dari itu, kinerja reksa dana saham sepanjang tahun ini cenderung sangat terbatas. Jika diukur sepanjang tahun berjalan atau secara year-to-date (YtD), IHSG hingga akhir pekan lalu sudah meningkat 10,08 persen, sedangkan IRDSH hanya naik 1,40 persen.

Demikian juga pada IRDCP, sepanjang tahun ini baru naik 4,35 persen YtD, padahal indeks acuannya yakni gabungan 50 persen IHSG dan 50 persen Indonesia government bond index (IGBI) sudah naik 6,99 persen YtD.

Sementara itu, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 12 November, jumlah dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana saham mencapai Rp120,15 triliun. Bila dibandingkan dengan akhir tahun lalu, jumlah itu turun 1,50 persen dari posisi Rp122 triliun.

Adapun untuk reksa dana saham syariah terpantau naik dari posisi Rp5,81 triliun menjadi Rp6,21 triliun. Namun, secara produk mengalami penurunan dari 66 unit menjadi 60 unit.

Sementara itu, NAB reksa dana pendapatan tetap terpantau mengalami pertumbuhan dari posisi Rp133,54 triliun pada akhir tahun lalu menjadi Rp155 triliun. Dari sisi produk pun mengalami pertumbuhan 315 unit menjadi 319 unit.

Indeks reksa dana pendapatan tetap (IRDPT) pekan lalu hanya turun 0,04 persen, sedangkan sepanjang tahun berjalan sudah naik 2,13 persen YtD atau lebih tinggi dari IRDSH. Hanya saja, kinerja IRDPT juga tidak setinggi jika dibandingkan dengan acuannya, yakni gabungan 50 persen IGBI dan 50 persen Indonesia corporate bond index (ICBI) yang naik 4,20 persen YtD.

Perbandingan kinerja indeks reksa dana saham (IRDSH), indeks reksa dana campuran (IRDCP), indeks reksa dana pendapatan tetap (IRDPT), dan indeks reksa dana pasar uang (IRDPU) dengan indeks acuannya masing-masing sepanjang tahun berjalan. Sumber: Infovesta Utama.

Head of Investment Research Infovesta Wawan Hendrayana mengatakan dalam 5 tahun terakhir IHSG memang kalah dibandingkan dengan indeks obligasi pemerintah.

“Hal ini karena pertumbuhan ekonomi yang melambat terutama sejak pandemi, sementara obligasi memberikan pendapatan pasti dari kuponnya,” katanya kepada Bisnis pada Senin (29/11).

Meski demikian, Wawan menilai peminat reksa dana saham masih tetap ada. Dia berharap kinerja reksa dana saham akhir tahun ini masih bisa ditopang oleh momentum window dressing pada Desember 2021.

Terutama karena IHSG kembali terkoreksi dibawah 6.600 akibat kekhawatiran atas Covid-19 varian omicron. Menurutnya, IHSG masih dapat ditutup sekitar level 6.700 pada akhir tahun.

Sementara itu, untuk tahun depan dengan asumsi PPKM tidak diperketat akibat varian baru Covid-19, target pertumbuhan IHSG sekitar 10-12 persen, atau menuju ke 7400-7500.

“Reksa dana saham diperkirakan akan mengikuti. Instrumen ini adalah investasi jangka panjang, kapan saja bisa masuk dengan jangka waktu investasi minimal 5 tahun,” pungkasnya.

AKIBAT BLUE CHIP

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan selama tahun berjalan produk reksa dana saham mengalami perlambatan akibat kinerja saham-saham blue chip yang melemah. Padahal, di sisi lain, IHSG telah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Menurutnya, pada periode selama tahun berjalan IHSG telah naik 9,74 persen per 25 Nov 2021. Namun, pada saat yang sama saham blue chip yang diwakili IDX-30 dan LQ-45 hanya naik 0,11 persen dan 0,67 persen.

“Saham blue chip merupakan portofolio kebanyakan reksa dana, sehingga walaupun IHSG sudah rekor tertinggi tapi bagi reksa dana saham yang portofolionya blue chip masih belum rekor tertinggi,” katanya kepada Bisnis.

Akibatnya hal itu juga berdampak terhadap dana kelolaan karena tergantung dari dua faktor, yakni pembelian atau penjualan unit reksa dana dan naik turunnya aset dasar. Adapun, Panin Asset Management mencatat dana kelolaan per Oktober 2021 sebesar Rp5,56 triliun.

Bila dibandingkan dengan dana kelolaan per Desember 2020, nilai itu mengalami penurunan tipis dari posisi Rp5,84 triliun. Rudiyanto mengakui telah terjadi penurunan karena ada aksi profit taking dari investor ketika IHSG mencetak rekor.

Meski demikian, Rudiyanto optimistis reksa dana saham akan mengalami peningkatan dalam waktu dekat. Hal itu ditopang oleh kenaikan harga seiring dengan dana asing yang terus masuk.

Sector rotation diperkirakan akan terjadi dan sebenarnya sudah berlangsung. Saham-saham blue chip yang valuasinya murah serta wajar dan laporan keuangan bagus diyakini akan mengalami kenaikan,” katanya.

Menurutnya pada tahun depan, IHSG diperkirakan antara 7400-7600 sehingga diharapkan kinerja reksa dana saham dapat positif tahun depan.

Selain itu, dia menyarankan selama investor memiliki tujuan investasi jangka panjang di atas 5 tahun. Maka penurunan yang terjadi beberapa hari belakangan ini dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk masuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.