Free

Digitalisasi Perbankan: Syariah Punya Selera

Era digital bakal menjadi kesempatan bagi perbankan syariah untuk mengejar ketertinggalannya dibanding perbankan konvensional. Sejumlah bank syariah pun menyadari hal ini dan mulai gencar memacu ekspansi digitalnya melalui serangkaian layanan.

Emanuel Berkah Caesario

9 Nov 2022 - 18.52
A-
A+
Digitalisasi Perbankan: Syariah Punya Selera

Ilustrasi keuangan syariah. Sumber: Canva

“Tak, Tak, Tak!!” suara langkah kaki Permana terdengar cepat. Di lobby Wisma Bisnis Indonesia, dia berjalan tergesa-gesa. Mobil sedan hitam sudah lama menunggu. Baru menyentuh gagang pintu, lelaki bertubuh tinggi putih itu, membalikkan badan. Tersentak oleh sebuah pertanyaan.

“Bagaimana menurut bapak digitalisasi di perbankan syariah?” tanya seorang wartawan yang sudah menunggunya dekat mobil sedan.

“Digital merupakan kesempatan bagi bank-bank kecil dan menengah, termasuk syariah, untuk berakselerasi sejajar dengan bank-bank besar,” jawab Achmad Kusna Permana, Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk., pada awal 2022.

Menurut pria kelahiran 13 Juni 1965 itu, dengan adanya digital, persaingan antar bank tidak lagi mengacu pada banyak-banyakan kantor cabang. Digital membuat bank syariah mampu menjangkau lebih banyak calon nasabah baru dan nasabah eksisting tanpa harus menghadirkan kantor fisik. Hal ini mendorong efisiensi di perbankan, sekaligus inklusi keuangan.

Secara teori, pemahaman tersebut benar adanya dan telah disampaikan Brett King dalam bukunya Bank 4.0. King menceritakan bagaimana digital mendorong inklusi keuangan di Bangladesh dan Kenya dengan signifikan.

Pada tahun 2000, inklusi keuangan di Bangladesh berada pada posisi 14 persen. Ketika tiba era digitalisasi, hampir 40 persen populasi dewasa di Negara Bangla, sebutan untuk Bangladesh, telah menggunakan bKash dan melakukan transaksi pembayaran harian menggunakan ponsel.  

bKash adalah layanan keuangan seluler di Bangladesh yang beroperasi di bawah otoritas Bank Bangladesh sebagai anak perusahaan dari BRAC Bank Limited.

Kemudian, pada tahun 2000 inklusi keuangan di Kenya berada di angka 27 persen. Namun pada 2020, hampir 100 persen orang dewasa di Kenya menggunakan uang digital M-Pesa secara aktif.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia?

Digitalisasi di Indonesia terus berkembang pesat. Pada 2018, jumlah pengguna internet sekitar 171 juta pengguna. Setelah 4 tahun, jumlahnya bertambah 39 juta pengguna menjadi 210 juta pengguna.  Penetrasi internet pun meningkat dari 64,8 persen (2018) menjadi 77,02 persen (Q2/2022).


Sejalan dengan pertumbuhan penetrasi internet tersebut, inklusi keuangan juga meningkat dari 76,19 persen pada 2019 menjadi 85,1 persen pada 2022. Namun, pertumbuhan inklusi keuangan dan penetrasi internet di Indonesia yang signifikan tersebut tidak serta merta membuat pangsa pasar perbankan syariah tumbuh cepat.  

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pangsa pasar atau market share perbankan syariah Indonesia per Agustus 2022 mencapai 7,03 persen, hanya tumbuh 63 bps dibandingkan dengan Maret 2021. Sebanyak 92,97 persen pangsa pasar perbankan masih dikuasai oleh bank umum, termasuk bank digital.

Taring bank syariah dalam memanfaatkan kanal digital untuk tumbuh masih kurang tajam jika dibandingkan dengan bank konvensional, apalagi yang mengklaim perusahaan mereka digital dengan bunga simpanan tinggi.

 

TAKTIK BANK SYARIAH

Perbankan syariah sebenarnya tidak tinggal diam di era digital. Sejumlah bank syariah berusaha mengembangkan kapabilitas digital yang mereka miliki pada tahun ini dan tahun depan.

Ditemui pada sela-sela acara Indonesia Sharia Economic Festival 2022, Direktur Information Technology PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI), Achmad Syafii, mengatakan bahwa BSI tengah mengembangkan super aplikasi yang dapat memberikan layanan secara menyeluruh kepada nasabah.

Layanan perbankan digital BSI, akan disulap tidak hanya melayani transaksi finansial, tetapi juga memiliki fitur-fitur sosial dan spiritual.

“Ini akan menjadi pembeda dengan perbankan lain yang umumnya transaksional. Kalau itu sudah pasti kami miliki sebagai layanan digital BSI. Tetapi di super aplikasi kami, layanan sosial dan spiritual akan menjadi nilai tambah,” kata  Syafi’i kepada Bisnis beberapa waktu lalu.


Super aplikasi BSI, lanjutnya, akan menempel 24 jam di seluruh aktivitas masyarakat. Mulai dari jadwal sholat, mencari masjid terdekat, mengaji, hingga kegiatan sosial dapat dilakukan lewat super aplikasi BSI nantinya.

Dia mengatakan saat ini seluruh kebutuhan finansial sudah dapat dipenuhi lewat aplikasi BSI. Perusahaan ingin menghadirkan pengalaman baru, yang belum perna ada sebelumnya di aplikasi perbankan lainnya. Dengan memenuhi seluruh kebutuhan nasabah, harapannya masyarakat akan makin lekat dengan BSI.

“Nasabah ingin melihat jadwal sholat, masjid terdekat, atau mengaji tidak perlu buka aplikasi yang lain, cukup layanan digital BSI,” kata Syafii.

Syafii menuturkan saat ini pengembangan aplikasi tersebut dalam tahap uji coba dan perizinan. Pengembangan super aplikasi BSI berlangsung dengan lincah, sehingga dapat terus ditingkatkan, dengan fitur-fitur baru.

Dalam peta jalan BSI, pengembangan super aplikasi miliknya tidak akan selesai pada satu tahap saja. Namun, akan selalu ditingkatkan dan dihadirkan fitur-fitur baru dan bermanfaat.

“Investasi kami besar di kapasitas back-end, revamp front end, itu sudah sangat besar. Estimasinya sampai dengan 2024  sekitar Rp700-an miliar,” kata Syafii.

Kemudian dari sisi talenta digital, kata Syafii, perusahaan terus melakukan pengembangan sesuai dengan pengembangan developer. BSI juga memiliki tim yang sudah tersertifikasi dengan pengembangan digital, mengikuti pola-pola yang dibutuhkan.

Dalam pengembangan digital, perseroan tidak hanya melakukan sendiri, juga melibatkan berbagai pihak. BSI juga tengah mengembangkan digital lab.


Pada kuartal III/2022 BSI mencatat transaksi melalui BSI mobile secara kumulatif mencapai 187,2 juta, naik 152 persen secara tahunan (year-on-year/ YoY). Hal tersebut turut mendorong fee based income BSI naik 86 persen pada kuartal III/2022 mencapai Rp173 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp93 miliar.

Sementara itu, jumlah pengguna layanan BSI mobile naik 43 persen YoY, menjadi 4,44 juta pengguna. BSI juga mencatat percepatan shifting nasabah dari kanal offline ke online, di mana saat ini 97 persen transaksi hingga kuartal III/2022 dilakukan melalui kanal elektronik.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum, mengatakan bahwa perseroan telah melakukan revamp yang membuat tampilan aplikasi BCA Syariah menjadi lebih segar. Ke depan, perusahaan akan menyediakan fitur pembuatan rekening berbasis online.

“Setelah itu kami harus melakukan pembaharuan IT. Jadi, mungkin secara nasabah tidak kelihatan, tetapi di belakang, kami melakukan perubahan. Tujuannya agar ketika ada produk baru tinggal dimasukkan,” kata Yuli.

Dari total transaksi yang dikelola oleh BCA Syariah pada semester I/2022, sebanyak 59 persen  dari total transaksi atau sekitar 1,43 juta transaksi dilakukan melalui mobile banking. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan semester I/2021 yang saat itu hanya mencapai 732.000 transaksi.

Kemudian, dibandingkan dengan Juni 2021, jumlah pengguna Mobile Banking BCA Syariah tumbuh 46 persen menjadi 89,100 pengguna.

BCA Syariah juga akan meningkat fitur-fitur yang bisa dirasakan oleh nasabah BCA Syariah maupun nasabah BCA. Misalnya, tarik-setor tunai tanpa kartu dan fitur-fitur pembayaran di ATM.

Sementara itu, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.  mencatat pada kuartal III/2022 Muamalat DIN, layanan mobile banking Muamalat, telah memproses transaksi dengan nominal lebih dari Rp46 triliun yang berasal dari 33 juta transaksi.

Lebih dari 70 persen berupa transaksi transfer elektronis. Sisanya adalah transaksi lain seperti pembelian pulsa dan top-up uang elektronik. Sejak diluncurkan pada akhir 2019 lalu sebagian besar nasabah lama dan hampir semua nasabah baru sudah menjadi pengguna Muamalat DIN.


 

BUKAN DIDIK KASMARA

Alkisah, pada suatu hari sebuah klub sepak bola yang terkenal pada masanya, Union Makes Strength (UMS) 1905, sedang mencari talenta berbakat dengan melakukan pertandingan uji coba.

Klub etnis tionghoa tertua di Indonesia itu roadshow ke Kota Tasikmalaya. Di sana, ada salah satu pemain kelas kampung terkenal bernama Didik Kasmara.

Dalam buku Endang Witarsa, Dokter Bola Indonesia, Didik diceritakan sebagai pemain yang memiliki gocekan bagus dan tendangan ‘geledek’. UMS 1905 pun bertanding melawan tim Didik, Tim Tasik.

Pertandingan berlangsung sengit. Saat itu, di belakang gawang UMS terdapat pohon kelapa. Pada satu kesempatan, Didik mendapat peluang emas. Dia melepaskan tembakan ‘geledek’. Tembakan tersebut melenceng dan tanpa sengaja mengenai pohon kelapa. Beberapa buah di pohon kelapa tersebut jatuh.

Pelatih UMS saat itu, Endang Witarsa, terkesima melihat kejadian tersebut. Dia terkesan dengan tendangan ‘geledek’ Didik, yang telah membuat buah kelapa berguguran dari pohon. Setelah pertandingan, Endang yang juga memiliki nama Liem Soen Joe, mengajak Didik bermain di UMS. Didik bersedia.

Setelah bergabung dengan UMS, karier Didik melesat. Setelah masuk tim inti UMS, tidak lama DIdik bergabung dengan Persija dan turut mengantarkan Persija menjadi juara nasional (juara PSSI) pada musim kompetisi 1963/1964.

“Kalau tendangan geledeknya tidak kena pohon, mungkin Didik tetap di Tasikmalaya sampai berlumut,” ucap Tek Fong, salah satu teman Didik di UMS dan di Persija, dikutip dari buku yang sama.


Pengembangan digital oleh perbankan syariah tentu tidak bisa asal-asalan dan tidak mungkin tanpa kesengajaan seperti tendangan ‘geledek’ Didik yang mengenai pohon dan membuatnya terkenal. Untuk bisa bersaing dengan aplikasi mobile milik bank-bank besar dan bank digital, perlu ada terobosan yang dilakukan bank syariah.

Perbankan syariah mungkin dapat mengembangkan syariah dengan mengedepankan kepraktisan dan kelengkapan fitur agar menarik minat masyarakat, atau mungkin menghubungkan aplikasi mereka dengan e-commerce atau media sosial.

Data Populix 2022 menyebutkan alasan masyarakat menggunakan bank digital karena beberapa hal yaitu, praktis (75 persen), mudah digunakan (74 persen), memiliki banyak fitur (65 persen), mudah melacak transaksi finansial (62 persen) terintegrasi dengan dompet digital (61 persen) dan lain sebagainya.

Sementara itu, Survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), menyebut konten internet yang sering diakses oleh masyarakat Indonesia adalah konten-konten yang berkaitan dengan media sosial (89,15 persen), percakapan (73,86 persen) belanja (21,26 persen) game online (14,23 persen) dan lain sebagainya.

Perbankan syariah tentu harus memiliki cara unik dalam pengembangan aplikasi digital. Sebuah cara yang tidak mungkin ditiru bank konvensional. Sebuah cara yang menonjolkan fungsi syariah, karena syariah itu sendiri adalah unik. Syariah selalu punya rasa dan selera yang berbeda.

(Reporter: Leo Dwi Jatmiko)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.