Free

Dihantui Resesi, Bisnis Waralaba Diproyeksi Naik 5%Tahun Depan

Meski dunia dibayangi ancaman resesi pada 2023 mendatang, diperkirakan omzet bisnis waralaba bertumbuh signifikan di tahun depan.

Jaffry Prabu Prakoso

19 Nov 2022 - 21.59
A-
A+
Dihantui Resesi, Bisnis Waralaba Diproyeksi Naik 5%Tahun Depan

Rokok dijual di sebuah gerai waralaba, di Jakarta, Minggu (21/8)./JIBI-Dwi Prasetya

JAKARTA – Waralaba masih menjadi salah satu peluang bisnis yang diminati oleh masyarakat Indonesia. Meski dunia dibayangi ancaman resesi pada 2023, diyakini tidak akan mempengaruhi prospek bisnis waralaba. Bahkan, diperkirakan omzetnya tumbuh signifikan.

Ketua Umum Waralaba dan Lisensi Indonesia Tri Raharjo optimistis bahwa bisnis waralaba masih memiliki peluang bisnis yang menjanjikan pada tahun-tahun mendatang. 

Para pelaku usaha juga tetap percaya diri apalagi pemerintah sudah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2023 mencapai 5,3 persen didukung oleh konsumsi rumah tangga yang masih sangat baik.

Tri Raharjo, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia 

“Adanya target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada 2023 menjadi angin segar bagi pelaku usaha sehingga kami pun meyakini di tahun depan bisnis waralaba masih dapat bertumbuh di atas 5 persen,” ujarnya dalam pembukaan Franchise & License Expo Indonesia 2022, Jumat (18/11/2022).

Sementara itu pada tahun ini, bisnis waralaba diproyeksi meningkat 5 persen dibandingkan 2021 dengan nilai omset mencapai Rp31,1 triliun dan mampu menyerap tenaga kerja mencapai hampir 700 ribu orang. 

Baca juga: Laba Summarecon Melejit 81,69 Persen Akibat Bisnis Mall Membaik

Tri yakin bahwa para pelaku usaha waralaba dan lisensi bisa menghadapi kondisi ekonomi dan ancaman resesi global di tahun mendatang. Apalagi mereka sudah mampu melewati masa krisis di kala pandemi yang terjadi selama dua tahun terakhir.

Ketika pandemi terjadi secara tiba-tiba, banyak pelaku usaha waralaba dan lisensi yang belum siap. Tak heran hampir 90 persen di antaranya yang terdampak dan hanya 10 persen yang masih tumbuh positif.

Namun secara perlahan para pelaku usaha waralaba mulai bangkit. Ini dibuktikan pada awal 2022 ketika dilakukan survei terhadap pelaku industri, hampir 90 persen di antaranya mengaku sudah kembali berjalan normal dengan peningkatan penjualan 80 persen hingga 100 persen seperti masa sebelum pandemi.

Baca juga: Potret Miris Pusat Perbelanjaan Menengah Bawah Tengah Mati Suri

“Ancaman resesi ini harus disikapi secara bijak oleh pelaku usaha karena ini bisa menjadi semacam peringatan agar lebih berhati-hati, tapi juga harus optimistis karena sebelumnya kita sudah mampu melewati masa pandemi yang sulit,” ucapnya.

Menurutnya, bisnis waralaba bisa melewati masa pandemi lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah usaha bisnis independen.

Ini karena didorong oleh berbagai faktor, termasuk kualitas dan pengalaman kepemimpinan, akses ke modal, skala ekonomi, kesadaran merek dan loyalitas dengan ide dan inovasi.

Perusahaan waralaba Amerika Serikat (AS) McDonald’s./mcdonalds.com

Dia menambahkan bahwa ada beberapa bisnis waralaba yang masih menarik dan potensial untuk dijalankan pada masa-masa mendatang terutama yang bergerak di bidang makanan dan minuman, bisnis ritel dan minimarket, jasa laundry dan air isi ulang, serta minuman kekinian yang saat ini tengah naik daun.

Hal ini sejalan juga dengan bidang usaha waralaba di Indonesia yang saat ini masih didominasi oleh industri jasa makanan dan minuman 44,9 persen, ritel sebesar 14,17 persen, jasa pendidikan nonformal 11,02 persen, jasa kecantikan atau kesehatan 11,02 persen, serta jasa binatu 7,09 persen. (Dewi Andriani)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.