Free

Dirut BCA Jahja Serok Saham BBCA Rp1,98 Miliar

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja menggenggam saham BBCA sebesar 33,85 juta lembar atau dengan harga penutupan Rp9.250 nilai ini setara Rp313,1 miliar.

Fahmi Ahmad Burhan

3 Jun 2024 - 17.16
A-
A+
Dirut BCA Jahja Serok Saham BBCA Rp1,98 Miliar

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA – Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja memanfaatkan harga saham perseroan yang sedang turun dengan membelinya. Dia menyerok emiten dengan kode BBCA sebanyak 221.100 lembar. 

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip Senin, (3/6/2024), Jahja membeli saham BBCA pada pekan lalu, tepatnya 30 Mei 2024. 

Dia memborong di harga Rp9.000 per lembar. "Tujuan transaksi untuk investasi," tulis Manajemen BBCA di keterbukaan informasi.

Baca juga: Prospek SBN Ritel SBR013, Imbal Hasil Bisa Tembus 7%

Dalam pembelian itu, Jahja merogoh kocek sebanyak Rp1,98 miliar. Alhasil, kepemilikan saham Jahja di BBCA menebal. Tercatat, Jahja menggenggam saham BBCA sebesar 33,85 juta lembar atau dengan harga penutupan Rp9.250 nilai ini setara Rp313,1 miliar.

Adapun, harga saham BBCA terpantau lesu dalam sepekan lalu perdagangan atau dari 27 Mei 2024 ke 31 Mei 2024. Pada saat Jahja membeli saham BBCA yakni 30 Mei 2024, harga saham BBCA turun 1,64%.

Harga BBCA memang naik pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu (31/5/2024) sebesar 2,78% ke level Rp9.250 per lembar. Namun, dalam sepekan, harga saham BBCA tetap turun 1,86%. Harga saham BBCA juga turun 1,6% year-to-date (YtD).

 

 

Vice President Infovesta Wawan Hendrayana mengatakan sektor perbankan memang menghadapi tantangan. 

"Kenaikan suku bunga acuan dapat memperlambat penyaluran kredit dan ada kekhawatiran naiknya nonperforming loan [kredit bermasalah/NPL]. Pertumbuhan labanya juga bisa jadi tidak setinggi tahun lalu," ujarnya kepada BisnisJumat (31/5/2024).

Bank Indonesia (BI) memang telah memutuskan untuk menaikan suku bunga acuan atau BI Rate 25 basis poin (bps) dari level 6% ke level 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 23-24 April 2024. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama kali sejak Oktober 2023. 

Adapun, dalam RDG terbaru periode 21-22 Mei 2024, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 6,25%. 

Baca juga: Dirut BCA Jahja Borong Saham BBCA Rp1,98 Miliar saat Harga Turun

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga menilai saham perbankan mengalami koreksi seiring sentimen negatif di pasar, di antaranya terkait suku bunga acuan. 

Namun, prospek saham perbankan masih baik untuk jangka panjang. “Akan tetapi, potensi valuasi di masa yang akan datang masih sangat baik,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.