Dua Perusahaan Jepang Jajaki Kerja Sama Bioteknologi

Bioteknologi merupakan kunci mewujudkan konsep keberlanjutan yang perlu diadaptasi oleh industri. Menteri Perindustrian menawarkan peluang kerja sama pengembangan bioteknologi di bidang industri kepada dua perusahaan Jepang.

Fatkhul Maskur

7 Jun 2023 - 07.45
A-
A+
Dua Perusahaan Jepang Jajaki Kerja Sama Bioteknologi

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan pertemuan dengan Senior Managing Director of Algae Industry Incubation Consortium Japan Profesor Makoto M. Watanabe. Foto Kemenperin

Bisnis, JAKARTA - Bioteknologi merupakan kunci mewujudkan konsep keberlanjutan yang perlu diadaptasi oleh industri. Menteri Perindustrian menawarkan peluang kerja sama pengembangan bioteknologi di bidang industri kepada dua perusahaan Jepang.

Sebagai bagian upaya pengembangan industri bioteknologi, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan pertemuan dengan Senior Managing Director of Algae Industry Incubation Consortium Japan Profesor Makoto M. Watanabe, dan Founder and President Euglena Co., Ltd. Mitsuru Izumo di sela-sela Asean-Jepang Business Week, Selasa (6/6/2023).

“Pertemuan-pertemuan tersebut adalah dalam rangka membahas peluang kerja sama pengembangan bioteknologi di bidang industri dengan memanfaatkan teknologi yang dimiliki kedua perusahaan tersebut,” ujar Menperin, Selasa (6/6/2023).

Pertemuan Menperin dengan Algae Industry Incubation Consortium Japan membahas mengenai teknologi pengembangan mikroalgae yang cocok dibudidayakan di Indonesia sebagai basis utama dalam crude oil scale up, misalnya Spirulina. 

Selama ini, di Jepang telah dikembangkan Euglena untuk menjalankan prinsip-prinsip berkelanjutan, termasuk dalam pengolahan air limbah. Adapun pengembangan mikroalgae di Indonesia bertujuan menghasilkan pengganti crude oil sebagai sumber energi dan alternatif bahan baku di banyak industri.

Mikroalgae sangat prospektif dikembangkan di Indonesia karena didukung oleh kondisi lingkungan yang memadai, dengan banyaknya sinar matahari dan suhu hangat. Indonesia juga memiliki lahan yang cukup, tersedianya sumber daya manusia, dan biaya produksi kompetitif dibandingkan di Jepang.

Adapun Profesor Watanabe memiliki hasil riset yang sangat mungkin diterapkan di Indonesia dalam upaya menyerap CO2 di industri maupun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. “Kami juga akan mendorong kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya pelaku industri untuk pemanfaatan hasil temuan Profesor Watanabe,” kata Menperin. 

Untuk itu, Menperin mendukung terwujudnya kerja sama business to business (B2B) dalam pengembangan mikroalgae menjadi crude oil. “Kami juga akan menfasilitasi kerja sama pengembangan mikroalgae melalui fasilitas yang dimiliki oleh Kemenperin, misalnya Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Pencegahan Pencemaran Industri di Semarang,” jelasnya.

Menperin juga melakukan pertemuan dengan Founder and President Euglena Co., Ltd. Mitsuru Izumo. Selama ini, Euglena Co., Ltd. lebih banyak mengolah Euglena menjadi produk makanan, kosmetik dan bahan tambahan, serta bahan bakar ramah lingkungan untuk pesawat terbang (sustainable aviation fuel).

“Ada banyak potensi untuk mengatasi masalah lingkungan di Indonesia dengan teknologi perusahaan tersebut. Teknologi ini dapat menghasilkan sumber daya yang berkelanjutan di Indonesia. Pengembangan teknologi ini di Indonesia juga akan berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat netral karbon,” jelasnya.

Oleh karenanya, Menperin menjajaki kerja sama dengan Euglena Co., Ltd. untuk dapat memfasilitasi perusahaan-perusahaan industri hilir di Indonesia untuk memanfaatkan mikroalgae, antara lain dalam mengurangi pencemaran udara hingga memproduksi pupuk kompos. 

Menperin juga membahas kemungkinan pemanfaatan Spirulina yang banyak hidup di daerah tropis sebagai alternatif pengganti Euglena. Di Indonesia, terdapat tiga industri yang saat ini memproduksi bubuk Spirulina untuk bahan baku makanan super, bahan tambahan makanan, kosmetik, dan pakan.

Saat ini, Euglena Co., Ltd juga tengah bekerja sama dengan Universitas Padjajaran untuk melakukan pilot project optimalisasi reduksi karbon. Riset tersebut merupakan inovasi untuk mengurangi emisi CO2 di PLTU batu bara melalui carbon capture dengan mikroalgae dan menghasilkan biomassa alga yang dapat diaplikasikan kembali untuk biofluel

Menperin menyampaikan dukungannya untuk implementasi pilot project mikroalgae sebagai carbon capture di PLTU batu bara dan implementasi fermentasi hijau dalam menghasilkan green tempe dan green compost untuk dapat diterapkan pada sektor industri secara lebih luas. 

“Mengingat semua proyek tersebut sangat terkait dengan masalah lingkungan global yang dihadapi bersama saat ini, kami mendorong kolaborasi yang lebih erat ke depannya,” pungkas Menperin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.