Free

EDITORIAL: Alarm Tanda Bahaya dari Negara Adidaya

Sinyal perlambatan ekonomi kelompok negara-negara G7 ini tanda bahaya bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Apalagi, pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2024 mulai terkontraksi sebesar 8,34% dibandingkan dengan posisi Desember 2023.

Redaksi

20 Feb 2024 - 06.58
A-
A+
EDITORIAL: Alarm Tanda Bahaya dari Negara Adidaya

Potret pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Masih terdapat kemiskinan di kota metropolitan seperti Jakarta. Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis, JAKARTA – Pekan lalu, Pemerintah Jepang mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2023 terkontraksi sebesar 0,4%. Dengan demikian, secara teknikal Negeri Sakura masuk ke dalam jurang resesi, sebab kuartal sebelumnya telah mengalami kontraksi.

Pada kuartal III/2023, Jepang mencatatkan kinerja ekonomi mengalami kontraksi 3,3%. Akibat resesi, Negeri Matahari Terbit itu terlempar dari peringkat tiga besar ekonomi dunia. Posisi ketiga direbut oleh Jerman, padahal negeri Der Panzer sedang dirundung ke­naikan subsidi energi.

Inggris pun mengikuti Jepang. Pemerintahan PM Inggris Rishi Sunak menyampaikan bahwa pada kuartal IV/2023, kinerja ekonomi mengalami kontraksi 0,3%. Britania Raya masuk ke dalam fase resesi teknis setelah pada kuartal sebelumnya mengalami kontraksi 0,1%.

Kontraksi kuartal keempat ini lebih dalam daripada perkiraan semua ekonom. Mereka semula diramalkan ekonomi turun 0,1%. Namun, resesi ini diperkirakan berlangsung singkat dan dangkal, bila dilihat dari standar historis.

Sinyal perlambatan ekonomi kelompok negara-negara G7 ini tanda bahaya bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Apalagi, pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2024 mulai terkontraksi sebesar 8,34% dibandingkan dengan posisi Desember 2023.

Bahkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tercatat -8,06%. Nilai ekspor RI pada Januari 2024 hanya sebesar US$20,52 miliar. Adapun, ekspor Indonesia ke Jepang pangsa pasarnya mencapai 7,63% dari total ekspor Januari 2024.

Angka tersebut minus 22,73% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan minus 9,22% secara bulanan (month-to-month/MtM). Tercatat, ekspor Indonesia ke Jepang sepanjang 2023 berada pada peringkat ke-4 dengan nilai US$18,8 miliar.

Sementara itu, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) Jepang ke Indonesia pada 2023 juga berada pada peringkat ke-4 dengan total sebesar US$4,63 miliar.

Inggris masuk dalam daftar negara 10 besar tujuan ekspor Indonesia. Negeri yang memiliki timnas bola bernama The Three Lions itu, membukukan investasi cukup besar di Indonesia. Dalam 5 tahun terakhir, Inggris mencatatkan investasi US$1,75 miliar, tertinggi kedua negara Eropa setelah Belanda.

Lima sektor utama realisasi investasi asal Inggris yaitu tanaman pangan, perkebunan dan peternakan (24%); pertambangan (20%); industri makanan (9%); industri kimia dan farmasi (8%); serta hotel dan restoran (7%).

Dengan adanya resesi itu, otomatis akan berpengaruh terhadap pasar ekspor dan investasi ke Indonesia. Apalagi China sebagai mitra dagang utama RI, dengan porsi ekspor 23,9% dari total ekspor terkontraksi 12,92% secara tahunan, dan minus 20,73% secara bulanan.

Terlebih lagi, kinerja investasi China pada 2023 mengalami peningkatan terendah dalam 34 tahun terakhir. Sejumlah negara memangkas investasi ke Negeri Tirai Bambu tersebut, karena sejumlah tantangan yang dihadapi China.

Pemerintah RI mencoba berkelit dari ancaman resesi beberapa negara raksasa dunia tersebut. Pemerintah bakal memacu ekspor pada 12 negara prioritas, seperti Arab Saudi, Belanda, Brazil, Chile, China, Filipina, India, Kenya, Korea Selatan, Meksiko, UEA, dan Vietnam.

Menurut harian ini, upaya pemerintah mendorong ekspor ke negara prioritas di luar G-7 cukup positif. Namun, dengan memasukan China sebagai prio­ritas ini menjadi soal karena ceruk pasar Negeri Panda itu sedang ada masalah.

Sebaiknya, alternatif ekspor memang keluar dari main­stream. Acapkali pemerintah merilis daftar negara prioritas hanya sekadar gimmick tetapi tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk memacu ekspor.

Masalah klasik untuk memperluas akses pasar melalui perjanjian khusus pun tak kunjung tuntas. Seperti perjanjian Indonesia-EU CEPA untuk masuk blok perdagangan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

Dalam kondisi terjepit biasanya pemerintah baru tersadar, seandainya masalah-masalah perdagangan ini selesai sejak dulu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.