EDITORIAL : Apresiasi Pasar Pemilu Lancar

Performa IHSG ngegas dalam 2 hari terakhir perdagangan pekan lalu. Pemilu lancar dan aman tentu menjadi katalis yang direspons positif oleh pelaku pasar.

Redaksi

19 Feb 2024 - 06.59
A-
A+
EDITORIAL : Apresiasi Pasar Pemilu Lancar

Performa indeks harga saham gabungan atau IHSG ngegas dalam 2 hari terakhir perdagangan pekan lalu. Pemilihan umum presiden dan legislatif yang berjalan lancar dan aman tentu menjadi katalis yang direspons positif oleh pelaku pasar.

Kami tidak sedang berspekulasi bahwa keunggulan pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming dalam hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei telah menghadirkan sentimen positif ke bursa saham.

Kendati, tak sedikit analis di lini masa meyakini bahwa kemenangan kedua pasangan itu dalam satu putaran pemilihan suara bakal menghadirkan kepastian lebih cepat atas keberlanjutan proyek-proyek ekonomi yang melibatkan dunia usaha ke depan. Di samping, stabilitas politik dan keamanan nasional bakal relatif lebih kondusif.

Bagi kami, di tengah pertarungan elite-elite politik, pesta demokrasi yang melibatkan antusiasme penuh masyarakat dapat berjalan aman dan lancar patutlah disyukuri. Biarpun, riak-riak kecil dengan ketegangan sosial selama masa pemilu menjadi dinamika yang generik terjadi selama dalam dosis yang wajar.

Tak heran, pelaku pasar saham sungguh mengapresiasi situasi politik yang bergulir saat ini. Buktinya, saat banyak bursa global terkoreksi pada akhir pekan lalu, IHSG justru melanjutkan penguatan selepas pemilu yang digelar Rabu (14/2).

Indeks-indeks Wall Street, misalnya, berguguran oleh sentimen laporan inflasi Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran pemangkasan suku bunga The Fed tidak akan terjadi secepat yang diperkirakan tahun ini.

S&P 500 terperosok 0,48% ke level 5.005,57. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 145,13 poin atau turun 0,37% menjadi 38.627,99. Adapun, Nasdaq Composite juga jatuh 0,82% ke level 15.775,65.

Situasi ekonomi global dan geopolitik memang sedang tidak baik-baik saja. Kekhawatiran terus meningkat di banyak negara, terutama terkait dengan peningkatan inflasi yang mendorong perlambatan ekonomi hingga resesi.

Kondisi ini terjadi karena situasi geopolitik yang memicu tingkat permintaan domestik di sejumlah negara menuju ketidakpastian. Banyak negara bahkan telah diproyeksikan mengalami resesi sejak akhir 2023. Setelah Inggris, Jepang ikut terseret ke jurang resesi setelah perekonomiannya menyusut selama dua kuartal berturut-turut.

Kekhawatiran atas ketidakpastian ekonomi di negara-negara maju mulai mendorong pemodal asing untuk kembali menaruh dananya di negara-negara berkembang, terutama Indonesia yang notabene menunjukkan fundamental ekonomi yang resilient. Pemilu lancar dan aman dengan kondisi keamanan dan sosial yang stabil tentu juga menjadi penguat keyakinan investasi.

Pekan lalu, investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy senilai Rp8,22 triliun di Bursa Efek Indonesia. Dari pantauan kami, asing mengoleksi saham-saham big cap di sektor perbankan seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

Derasnya aliran dana asing ke pasar saham pekan lalu mendorong indeks komposit tumbuh 1,39% dalam sepekan ke level 7.335,54. Kapitalisasi bursa juga mengalami peningkatan 1,06% menjadi Rp11.603 triliun dari Rp11.481 triliun pada pekan sebelumnya.

Setelah pemilu usai, rilis kinerja tahun buku 2023 bisa menjadi tumpuan penguatan indeks komposit ke depan, utamanya pada perdagangan pekan ini. Sejumlah sektor saham yang menarik untuk dicermati di antaranya perbankan, konsumer, dan telekomunikasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.