EDITORIAL: Asa Pengusaha dari Janji Kandidat

Indonesia menghadapi masalah klasik. Republik ini tidak ditopang oleh industri dasar yang bagus. Apabila ekonomi bertumbuh di atas 5,5%—6%, Indonesia akan mengalami 'overheating' atau kepanasan.

Redaksi

22 Des 2023 - 07.17
A-
A+
EDITORIAL: Asa Pengusaha dari Janji Kandidat

Gedung-gedung perkantoran di Jakarta. Bisnis/Arief Hermawan. P

Bisnis, JAKARTA – Hari ini, Jumat (22/12/2023), debat pemilihan presiden kembali digelar. Kali ini mempertemukan calon wakil presiden dengan mengusung isu di bidang ekonomi. Sejumlah asa digantungkan dunia usaha dari janji para kandidat.

Tema debat yang diambil kali ini adalah Ekonomi (ekonomi kerakyatan dan ekonomi digital), Keuangan, Investasi, Pajak, Perdagangan, Pengelolaan APBN-APBD, Infrastruktur, dan Perkotaan.

Ekonomi merupakan isu paling dinanti oleh dunia usaha. Paling tidak untuk membangkitkan harapan dan optimisme kalangan pebisnis dalam memacu ekspansi selama masa transisi. Terlebih lagi pascapagebluk Covid-19, ekonomi belum mampu mencapai pertumbuhan yang diharapkan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Jokowi, begitu biasa disapa, menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7% saat dirinya menjabat. Harapan itu tampaknya hanya akan tertulis di angan-angan putra daerah Solo tersebut.

Pasalnya dalam 9 tahun memimpin negeri ini, pertumbuhan ekonomi belum mampu menyamai era Susilo Bambang Yudhoyono sebesar 6,9% pada 2007. Capaian terbaik Jokowi terjadi pada 2022 sebesar 5,31%, tentu jauh dari target 7%.

Oleh sebab itu, kandidat wapres pada ajang debat kali ini bakal dinanti programnya dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dalam visi misi, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin) menjanjikan pertumbuhan ekonomi hingga 6,5% pada 2025—2029.

Adapun Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memasang target pertumbuhan ekonomi yang sama dengan Jokowi, yakni 7%, mulai 2025. Hal serupa dijanjikan oleh pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud Md. Namun, target 7% pada pasangan ini tidak disebutkan tahunnya.

Target pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud dapat dikatakan sangat optimistis. Apalagi pertumbuhan ekonomi 7% disebutkan Prabowo-Gibran bakal terjadi pada 2025.

Apakah mimpi merealisasikan pertumbuhan ekonomi 7% bakal tercapai? Bisa saja, tetapi sulit. Merujuk dokumen Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, tak ada negara yang mampu tumbuh hingga 7% usai masuk menjadi upper middle income country (UMIC).

Semakin berkembang perekonomian, maka pertumbuhan ekonomi 5%—7% sangat sulit dicapai, dengan skenario pertumbuhan yang berbeda-beda tiap periode maka Indonesia tidak akan mencapai negara perpendapatan tinggi pada 2045.

Pengalaman negara lain di mana rata-rata pertumbuhan pendapatan sejak pertama kali melewati batas UMIC sampai 2022 adalah China 6,7%, Thailand 2,18%, Malaysia 2,94%, Korea Selatan 4,59%, dan Brasil 1,13%.

Apalagi kondisi sosial ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dengan negara lain ketika memiliki pendapatan per-kapita yang sama menjadi UMIC yang per 2022 senilai US$4.580.

Sebagai contoh, PDB per kapita Korea Selatan pada 1988 senilai US$4.520 mampu tumbuh 12% dan China pada 2010 sebesar 10,6%. Negara tetangga seperti Malaysia pada 2004 mencapai 6,8% dan Thailand pada 2010 sebesar 7,5%.

Menurut harian ini, Indonesia menghadapi masalah klasik. Republik ini tidak ditopang oleh industri dasar yang bagus. Apabila ekonomi bertumbuh di atas 5,5%—6%, Indonesia akan mengalami overheating atau kepanasan.

Saat roda-roda ekonomi bergerak, dibutuhkan barang modal atau bahan baku dari negara lain. Akibatnya, impor mengalami lonjakan signifikan karena tidak dapat dipenuhi kebutuhan dalam negeri.

Hal itu menimbulkan inflasi tinggi. Ekonomi kepanasan. Fenomena ini terjadi saat ekonomi di era SBY tumbuh di atas 6%. Angka inflasi pada era itu rata-rata bisa mencapai dua digit. Akibatnya biaya tinggi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Kesejangan pun makin melebar.

Kalangan dunia usaha menilai biaya investasi terhadap produk yang dihasilkan cukup tinggi (investment capital output ratio/ICOR) sehingga sulit pertumbuhan ekonomi mencapai 7%. Saat ekonomi tumbuh di atas 5%, ICOR mencapai 7,6%. Padahal negara maju ICOR rata-rata hanya sekitar 3%.

Masalah ekonomi ini yang diharapkan dunia usaha dapat dipahami oleh para kandidat, sehingga tidak mudah menebar janji yang sulit untuk ditepati. Setidaknya optimisme itu terpancar dari janji yang realistis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.