Free

EDITORIAL : Cermat Menganalisis Rights Issue

Rights issue menjadi kata kunci yang cukup jamak ditemukan, diperbincangkan, dianalisis, dan diperdebatkan di kalangan emiten dan para pemangku kepentingan pada bulan ini. Semuanya tak lepas dari antrean peserta korporasi yang makin mengular untuk mengeksekusi langkah ini.

Redaksi

30 Mei 2023 - 08.03
A-
A+
EDITORIAL : Cermat Menganalisis Rights Issue

Bisnis/Istimewa

Rights issue menjadi kata kunci yang cukup jamak ditemukan, diperbincangkan, dianalisis, dan diperdebatkan di kalangan emiten dan para pemangku kepentingan pada bulan ini. Semuanya tak lepas dari antrean peserta korporasi yang makin mengular untuk mengeksekusi langkah ini.

Pada pekan pertama Mei, PT Bank KB Bukopin Tbk. (BBKP) mengeklaim telah resmi me­ngantongi pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggelar aksi penambahan modal via rights issue senilai Rp 12 triliun.

Salah seorang pejabat teras di bank tersebut menyatakan aksi korporasi tersebut untuk mendukung ekspansi perusahaan yang berkelanjutan dan menjaga kecukupan modal sesuai dengan regulasi.

BBKP berencana menerbitkan sebanyak 119,99 miliar lembar saham baru seri B. Ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan agar bisa naik kelas ke kelompok bank dengan modal inti (KBMI) III.

Di belakang BBKP ada pula bank lapis ketiga lainnya yang siap menggelar rights issue seperti PT Bank JTrust Indonesia Tbk. (BCIC). Perusahaan siap dengan 10 miliar helai saham, yang setara dengan Rp1 triliun.

Ada pula PT Bank QNB Indonesia Tbk. (BKSW) yang baru mengumumkan rencana rights issue sebanyak-banyaknya 14,72 miliar lembar saham baru. Ini setara dengan 41,87% dari total modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Dengan begitu, potensi dana yang maksimal diterima sekitar Rp3,68 triliun, dengan kisaran harga per helai saham Rp250.

Di deretan bank ini ada nama lainnya yang akan menggelar rights issue yaitu Bank IBK Indonesia (AGRS). Perusahaan akan menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD V) kepada para pemegang saham dengan merilis sebanyak-banyaknya 13,18 mi­liar helai saham baru. Ini setara dengan Rp1,38 triliun.

Selesai? Ternyata belum. PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS) rupanya juga siap menggelar aksi yang sama. BMAS berencana menambah modal via HMETD III dan mengeluarkan sebanyak-banyaknya 12,5 miliar lembar saham baru, alias 59,18% dari modal disetor.

Di luar sektor perbankan, ada sejumlah perusahaan yang juga siap rights issue. Emiten energi PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) siap HMETD dengan menerbitkan hingga 1,39 miliar saham baru dengan nominal gocap alias Rp50 per lembar saham. Perusahaan berencana mengembangkan proyek kendaraan listrik dan kegiatan lainnya.

Tak mau kalah. Emiten sektor ritel pengelola jaringan Alfamidi, PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) tengah menanti proses telaah dari OJK. MIDI siap HMETD sebanyak-banyaknya 4,61 miliar helai saham anyar, alias 13,79% dari modal disetor senilai Rp10 per helai.

Demam rights issue juga sampai di sektor pengangkutan laut dan logistik PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk. (BSML). Perusahaan akan HMETD sebanyak-banyaknya 400 juta saham baru dengan nominal Rp25 per lembar saham. Hasil dari aksi korporasi ini akan dipakai untuk membayar sebagian besar atau melunasi kewajiban kepada perbankan selaku kreditur.

Nah, sejumlah emiten yang telah memutuskan rights issue pasti berharap mendapatkan hasil maksimal dan berjalan lancar mencapai tujuannya. Harian ini menilai hal itu dapat dicapai jika kalangan emiten bisa cermat mengalkulasi untung ruginya.

Dengan demikian, setelah right issue, emiten bisa meningkatkan modal kerja dengan cara lebih cepat, memperluas bisnis, mendorong aksi korporasi, bahkan membayar utang bank.

Mengingat saham baru hasil rights issue lebih ditujukan untuk pemegang saham ataupun investor lama, tentu peluang untuk meraup cuan juga ikut terbuka bagi individu dan perusahaannya. Namun, sekali lagi, jika tak cermat melakukan kalkulasi dan analisis, target yang diimpikan dari rights issue masih mungkin menemui kegagalan.

Beberapa kemungkinan kerugian itu bisa muncul dalam bentuk penurunan harga saham setelah rights issue dan kepemilikan saham investor yang terdilusi jika tak dieksekusi. Pastinya, ada 1001 jalan membendung kerugian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.