EDITORIAL: Kegigihan di Tengah Ketidakpastian

Gejolak dan resesi ekonomi di negara-negara maju sudah pasti berdampak langsung ke sejumlah pasar negara berkembang.

Redaksi

29 Feb 2024 - 06.30
A-
A+
EDITORIAL: Kegigihan di Tengah Ketidakpastian

Ilustrasi badai PHK yang menerjang perusahaan teknologi dan startup. Dok. JIBI

Bisnis, JAKARTA – Situasi ekonomi dunia memang sedang tidak menentu. Gejolak dan resesi ekonomi di negara-negara maju sudah pasti berdampak langsung ke sejumlah pasar negara berkembang. Saat grafik ekonomi melandai, aktivitas industri dan bisnis tersendat, pelaku usaha pun sibuk melakukan penyesuaian.

Sejak 3 tahun terakhir, tak sedikit perusahaan yang agresif menggelar perampingan tenaga kerja. Perusahaan teknologi terlihat paling gencar memangkas karyawan dalam jumlah yang besar.

Yang terbaru, Sony melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap 900 karyawan Playstation global. Angka ini mencapai 8% dari total jumlah pegawai perusahaan.

Perusahaan teknologi lainnya dengan reputasi besar di dunia juga tengah menyiapkan kebijakan perampingan. Di antaranya yakni Google yang siap-siap melepas ribuan karyawan, begitu juga dengan Amazon, Snapchat, Zoom, dan PayPal.

Di Indonesia, kekhawatiran atas PHK massal juga mendera banyak tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja yang mengalami PHK sepanjang tahun lalu mencapai total 358.809 pekerja, meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 25.114 pekerja.

Sama halnya dengan kondisi di global, perusahaan teknologi di Tanah Air juga paling sibuk melakukan PHK. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk., misalnya, sejak tahun lalu menghentikan hubungan kerja dengan 600 karyawannya, setelah pada 2022 juga telah merumahkan lebih dari 1.300 tenaga kerja.

Selain GOTO, PT Shopee Internasional Indonesia juga menerapkan langkah serupa. Shopee memangkas setidaknya 7.000 pekerja untuk mengurangi beban operasional agar kerugian perusahaan tidak makin membengkak.

Kebijakan GOTO dan Shopee ini tentuk tidak terlepas dari dorongan para pemodal untuk mulai fokus mengejar profitabilitas di segmen bisnis e-commerce. Hal itu hanya bisa dicapai dengan menghentikan aksi ‘bakar uang’ secara berlebihan, meningkatkan efisiensi, serta memastikan perampingan organisasi agar perusahaan lebih siap dan tanggap memenuhi permintaan pasar.

Gelombang PHK massal terus berlanjut tahun ini. Bulan lalu, perusahaan rintisan edutech Zenius pada akhirnya mengumumkan untuk berhenti beroperasi setelah sempat mencoba bertahan dan melakukan tiga kali program perampingan karyawan.

Selain bidang teknologi, PHK massal juga menjalar ke banyak sektor. Kondisi ini disebabkan oleh penyusutan permintaan dari dalam negeri serta terbatasnya pasar ekspor lantaran konflik geopolitik yang tak berkesudahan.

Pabrik ban asal Cikarang, PT Hung-A terpaksa melakukan pemangkasan setidaknya terhadap 1.500 karyawan. PT Sai Apparel Garmen di Semarang juga telah mengabarkan untuk merumahkan sekitar 5.000 buruh karena sepi pesanan.

Ada banyak perusahaan lainnya yang hingga kini terus berjibaku dengan beragam masalah akibat ketidakpastian ekonomi saat ini. Sejarah mencatat tidak banyak yang mampu terhindar dari krisis.

Menariknya, kami mencatat beberapa nama besar di dunia bisnis justru lahir dari proses kebangkitan selepas krisis. General Motors bahkan nyaris bangkrut diterjang krisis keuangan 2008. Begitu juga dengan Apple yang bangkit setelah sempat berada di ambang kebangkrutan pada 1997.

Di Indonesia, kita tentu mengetahui banyak cerita sukses para konglomerat dalam negeri yang tangguh dan gigih melewati krisis moneter 1998. Mereka yang mampu mengonversi masa-masa sulit menjadi bekal dan fundamental usaha yang lebih solid.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.