EDITORIAL : Masalah Serius Pinjol

Tawaran kemudahan akses ketimbang penyedia jasa keuangan lainnya, membuat tak sedikit orang tergiur memanfaatkannya sebagai solusi keuangan.

Redaksi

2 Okt 2023 - 08.08
A-
A+
EDITORIAL : Masalah Serius Pinjol

Ilustrasi (Dok Freepik)

Layanan pinjaman online alias pinjol memang naik daun beberapa tahun belakangan. Tawaran kemudahan akses ketimbang penyedia jasa keuangan lainnya, membuat tak sedikit orang tergiur memanfaatkannya sebagai solusi keuangan.

Namun, persoalan yang berkaitan dengan layanan pinjol juga tak kalah menonjol. Jamak kita ketahui dari media bagaimana beragam kasus terkait pinjol muncul. Mulai dari teror penagih utang yang kelewat batas, bunga pinjaman yang mencekik, hingga penyalahgunaan data pribadi.

Amat disayangkan, kasus semacam itu tak hanya berasal dari pinjol ilegal, tetapi juga berkaitan dengan perusahaan legal. Tentu tidak semua demikian, lantaran ada pula penyedia layanan pinjol legal yang tertib aturan, kendati tetap saja biaya yang dibebankan ke peminjam amat tinggi.

Salah satu keunggulan pinjol ketimbang layanan jasa keuangan lainnya adalah kemudahan akses. Hanya berbekal kartu tanda penduduk, nomor ponsel, serta foto diri, masyarakat dengan mudah mengajukan pinjaman.

Semua dilakukan online, hanya dari ponsel, dan tak butuh waktu dan survei berbelit-belit, ‘ujug-ujug’ dana cair. Bagaimana lantas orang tidak terpikat. Bahkan kerap sembrono tanpa memperhitungkan ketentuan bunga, cicilan, dan denda yang acapkali amat ‘ganas’, bahkan jauh melebihi layanan jasa keuangan lainnya.

Ujung-ujungnya, mereka yang terpikat tak jarang justru terjerat. Buah dari ketidaktahuan, baik karena menyepelekan pasal-pasal perjanjian pinjaman, literasi keuangan yang rendah, maupun ketentuan penyedia pinjol nakal yang tidak transparan atau malah manipulatif.

Mereka yang tak sanggup membayar cicilan kalang kabut harus meladeni penagih utang. Belum lagi, utang yang bertambah besar karena bunga bertumpuk akibat keterlambatan membayar angsuran.

Salah satu fenomena menarik adalah fakta bahwa nasabah pinjol peer to peer lending (P2P), sebagian besar datang dari kalangan muda. Berdasarkan data OJK hingga Juli 2023, jumlah rekening penerima pinjaman aktif di kelompok usia 19—34 tahun mencapai 10,69 juta, dengan total outstanding tercatat Rp27,1 triliun, atau mewakili 54,1% dari total outstanding pinjaman perseorangan sebesar Rp50,13 triliun.

Tak cuma pinjaman yang besar, tingkat pinjaman bermasalah di kelompok usia 19—34 tahun rupanya juga mendominasi. Outstanding pinjaman macet yang diukur dari tingkat wan­prestasi di atas 90 hari (TWP90) mencapai Rp782,16 miliar.

Jika gagal diperbaiki, ancaman serius lainnya mengintai para kaum muda penunggak kredit tersebut. Bisa saja mereka masuk daftar hitam di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), dulu dikenal sebagai BI Checking, sehingga nantinya akan kesulitan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan lain, seperti bank. Bahkan mungkin pula status tersebut berdampak pada upaya mereka dalam mencari pekerjaan.

Alhasil, tanggung jawab pribadi sangat penting. Masyarakat harus memahami betul layanan pinjaman yang ditawarkan. Tidak boleh hanya berpedoman pada ‘asal gampang dan dana cepat cair.

Begitu pula dengan pemberi pinjaman, pinjol. Mereka wajib memberikan edukasi selengkap-lengkapnya kepada calon nasabah perihal syarat, perhitungan, maupun konsekuensi atas pinjaman. Jangan hanya ingin meraih nasabah sebanyak-banyaknya, tetapi melalaikan upaya edukasi.

Dalam hal ini peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator amat krusial. Baik dalam mendorong literasi keuangan, melindungi konsumen, maupun dalam pengawasan industri pinjol, termasuk di dalamnya penindakan.

Kehadiran pinjol jelas punya dampak positif, salah satu di antaranya ialah memperluas akses keuangan bagi masyarakat. Namun, tanpa pengawasan yang baik, hal itu bisa menjadi bumerang. Barangkali sudah saatnya regulator memperketat izin pendirian pinjol, sekaligus menerapkan syarat yang ketat pula bagi para pengelolanya. Setidaknya hal itu dapat menjadi modal kuat bagi regulator untuk mencegah kemunculan kasus-kasus baru di kemudian hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.