EDITORIAL: Mengawal Pasokan Batu Bara Domestik

Posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api tak ubahnya seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, seluruh negeri dituntut senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam

Redaksi

9 Des 2023 - 06.41
A-
A+
EDITORIAL: Mengawal Pasokan Batu Bara Domestik

Aktivitas Tambang batu bara di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. - Bisnis/Husnul Iga Puspita

Posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api tak ubahnya seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, seluruh negeri dituntut senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam. Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kekayaan cadangan energi, khususnya batu bara yang luar biasa.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 3,2% cadangan batu bara dunia dimiliki oleh Indonesia. Tingginya cadangan batu bara tersebut tentu saja sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan energi domestik maupun luar negeri.

Berdasarkan tren, produksi ‘emas hitam’ Indonesia terus meningkat. Masih berdasarkan sumber data yang sama, produksi batu bara pada 2022 mencapai 687 juta ton. Berdasarkan penelitian para ahli ESDM, yang mengguna-kan model logistik dan model Gomperzt, puncak produksi batu bara pada 2033 masing-masing mencapai 1,345 miliar ton, dan 0,7604 miliar ton dengan umur cadangan hingga 2080 dan 2120.

Adapun, pada 2023, pemerintah menargetkan produksi batu bara mencapai 695 juta ton dengan proyeksi kebutuhan domestik sebesar 177 juta ton, dan 518 juta ton untuk ekspor. Upaya menjaga stabilitas produksi batu bara menjadi penting seperti halnya menjaga koordinasi antara sektor pertambangan dan perindustrian.

 Pertambangan merupakan pro-ses hulu, yaitu pengambilan sumber daya alam berupa mineral dan batu bara (Minerba) di dalam perut bumi. Proses tersebut kemudian dilanjutkan industri sebagai proses penghiliran yang diwujudkan dalam bentuk pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut. 

Sumber daya alam yang telah diambil harus diprioritaskan terlebih dahulu untuk kebutuh-an industri pengolahan dalam negeri. Kewajiban memasok kebutuhan barang dalam nege-ri itulah yang disebut dengan domestic market obligation (DMO).Beberapa kebutuhan di dalam negeri a.l. memenuhi bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), kewajiban membangun smelter berbahan batu bara, dan peningkatan perminta-an terhadap material semen.

Peningkatkan kebutuhan batu bara di dalam negeri ini seakan menjadi angin segar bagi sektor energi, termasuk sub-sektor industri pertambangan batu bara. Di tengah fluktuasi harga batu bara, manajemen perusa-haan tambang mesti bersiasat untuk memperkuat daya saing perusahaan agar mampu untuk terus bertahan. Di tataran global, industri batu bara harus bersaing dengan sejumlah negara produsen ‘emas hitam’ seperti Australia, Amerika Serikat, Kolombia, Afrika Selatan, dan Rusia.

Selain itu, fluktuasi harga yang tidak kompetitif membuat pembeli dengan mudah mengalihkan pesanan ke negara lain. Hal ini sangat memungkinkan, karena kebanyakan pembeli batu bara dari Indonesia adalah kontrak jangka pendek. Harian ini menilai upaya sejumlah perusahaan tambang untuk mengoptimalisasi potensi internal, sembari memperkuat standardisasi biaya dan mengin-tegrasikan proses bisnis sangat tepat.

 Pascapandemi Covid-19, sektor hulu tambang batu bara terus mengawal sekaligus mengan-dalkan pasar di dalam negeri. Menyeimbangkan serapan batu antara pasokan ke mancanega-ra dan nasional menjadi resep mujarab sektor pertambangan nasional untuk terus bertahan di tengah situasi yang sedemikian menantang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.