EDITORIAL : Mengungkit Minat Investor Energi Hijau

Upaya pemerintah untuk mengakselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT mendapatkan titik terang.

Redaksi

15 Sep 2023 - 07.08
A-
A+
EDITORIAL : Mengungkit Minat Investor Energi Hijau

PLN mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu berkapasitas 10 MW (4x2,5 MW) yang berlokasi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur./Dok.PLN

Upaya pemerintah untuk mengakselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT mendapatkan titik terang. Rencana PT PLN (Persero) untuk memperbesar porsi pembangkit listrik berbasis energi hijau mendapatkan respons positif dari para pelaku bisnis.

Kondisi ini digadang-gadang dapat mempercepat proses substitusi bahan bakar fosil ke energi hijau khususnya di sektor kelistrikan Indonesia.

Selama ini, investor kurang menaruh minat untuk menanamkan modal di Indonesia karena lokasi pengembangan EBT yang berada di daerah terpencil, dan harga jual listrik dari sumber energi hijau masih belum ekonomis. Padahal, nilai investasi untuk energi hijau sangat tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), total kapasitas dari pembangkit listrik di Tanah Air mencapai 72 gigawatt (GW), di mana 38 GW menggunakan batu bara.

Tingginya penggunaan batu bara sebagai sumber penerangan negeri Zamrud Khatulistiwa membuat pemerintah bekerja keras untuk mengubah ke energi hijau.

Tentu saja, karena rendahnya minat investor untuk berinvestasi di sektor energi hijau membuat pemerintah mencari berbagai cara mengurai tantangan tersebut. Mulai dari opsi pemberian insentif, kemudahan perpajakan, dan kebijakan yang ramah investasi energi hijau.

Dari sedemikian banyaknya insentif yang diberikan pemerintah, ternyata revisi Rencana usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021—2030 yang dilakukan PLN mendapatkan perhatian lebih.

Dalam revisi RUPTL tersebut, perusahaan setrum pelat merah ini bakal meningkatkan porsi penambahan pembangkit listrik EBT mencapai 75% dari total rencana penambahan pembangkit hingga 2040.

Penambahan EBT dalam RUPTL baru yang tengah dirancang bersama Kementerian ESDM itu mencapai 60 gigawatt (GW), dan sisanya berasal dari pembangkit listrik berbasis gas.

Masih berdasarkan data Kementerian ESDM, dalam RUPTL ini, total pembangkit EBT yang akan dibangun sebesar 20.923 MW. Hingga saat ini, tercatat jumlah Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) EBT yang beroperasi sebesar 737 MW (3,5%), dan memasuki tahap konstruksi sebesar 5.259 MW (25,1%).

Adapun, tahap pengadaan sebesar 976 MW (4,7%), tahap rencana pengadaan sebesar 1.232 MW (5,9%), tahap perencanaan 12.656 MW (60,5%), dan proyek yang tidak dilanjutkan dan terminasi sebesar 64 MW (0,3%).

Sementara itu, dalam rangka percepatan implementasi EBT, pemerintah juga melakukan berbagai hal a.l. pembangunan PLT EBT on-grid, termasuk PLTS Terapung; Implementasi PLTS Atap; Program Dedieselisasi menjadi PLT EBT; Mandatory B35; dan Co-Firing biomassa pada PLTU.

Tak hanya di situ, Kementerian ESDM juga melakukan pembangunan infrastruktur EBT melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) khususnya ditujukan untuk memberikan akses listrik pada daerah terpencil.

Harian ini menilai sedikit demi sedikit pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan untuk mewujudkan energi hijau mulai terurai. Upaya pemerintah mengakselerasi pemanfaatan EBT Nasional telah mendapatkan atensi dari seluruh pemangku kepentingan, khususnya para investor.

Dengan demikian, langkah Indonesia untuk mewujudkan cita-cita penyediaan energi bersih sekaligus mengurangi dampak negatif perubahan iklim menjadi kian nyata.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.