EDITORIAL : Menjaga Resiliensi Ekonomi

Eskalasi geopolitik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir masih terus membayangi perekonomian akibat tingginya risiko peningkatan suku bunga, gejolak nilai tukar dan kenaikan harga komoditas yang dapat mengganggu sistem keuangan di Tanah Air.

Redaksi

4 Nov 2023 - 06.31
A-
A+
EDITORIAL : Menjaga Resiliensi Ekonomi

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Gedung bertingkat di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. JIBI/Feni Freycinetia

Eskalasi geopolitik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir masih terus membayangi perekonomian akibat tingginya risiko peningkatan suku bunga, gejolak nilai tukar dan kenaikan harga komoditas yang dapat mengganggu sistem keuangan di Tanah Air.\n

Eskalasi geopolitik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir masih terus membayangi perekonomian akibat tingginya risiko peningkatan suku bunga, gejolak nilai tukar dan kenaikan harga komoditas yang dapat mengganggu sistem keuangan di Tanah Air.

Sejumlah gangguan telah dirasakan secara nyata akibat faktor eksternal tersebut yaitu pasar saham yang sempat tertekan akibat arus keluar dana asing ke negeri Paman Sam. Meskipun gejolak tersebut dapat diredam oleh kebijakan dovish The Fed dalam pertemuan FOMC 31 Oktober-1 November 2023 yang menahan kenaikan suku bunga, beragam risiko masih menganga dan membutuhkan perhatian lebih.

Sebagian ekonom juga telah mengingatkan para pemangku kebijakan untuk menyiapkan langkah mitigasi risiko akibat eskalasi geopolitik ini seiring dengan momentum The Fed yang menahan suku bunga. Jeda untuk bernapas lega ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebelum bank sentral AS tersebut kembali lagi bersidang pada pertengahan Desember yang dikhawatirkan justru mengambil sikap hawkish.

Bukan tanpa sebab. Negeri Adidaya tersebut diyakini masih membutuhkan pengetatan suku bunga lebih lanjut hingga sampai para pengambil kebijakan yakin inflasi kembali ke angka 2% dari posisi saat ini di level 3,7% secara year-on-year pada September.

Risiko kenaikan suku bunga acuan The Fed tersebut akan semakin memperkuat peran mata uang dolar AS yang selama ini sudah dominan. Di sisi lain, situasi itu dapat menaikkan margin keuntungan lebih besar pada surat utang atau obligasi Pemerintah AS. Kondisi ini akan memberi risiko guncangan bagi pasar keuangan banyak negara di emerging market, termasuk Indonesia.

Ditambah dengan risiko kenaikan harga komoditas, beragam dampak tentunya bisa dirasakan Tanah Air, salah satunya terhadap lonjakan inflasi akibat krisis pangan yang dapat berujung pada membengkaknya belanja subsidi. Hal ini tecermin dalam inflasi umum pada bulan lalu yang mencatatkan kenaikan, sementara inflasi inti yang memperlihatkan daya beli riil masyarakat menurun.

Kabar baiknya, hasil stress test terkini dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan Kementerian Keuangan (Kepala KSSK), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menunjukkan modal perekonomian Indonesia cukup kuat menghadapi tekanan global.

Beberapa risiko yang diwaspadai di antaranya perlambatan ekonomi global, divergensi pertumbuhan yang melemah, kenaikan Fed Funds Rate dan yield obligasi negara maju dan berkembang, tensi geopolitik hingga dampaknya pada kenaikan harga energi dan pangan, termasuk risiko dari fenomena El Nino.

Stress test KSSK menyimpulkan sektor keuangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan cukup kuat. Ketahanan sektor keuangan tersebut tercermin dari tetap kuatnya permodalan perbankan yang ditunjukkan dengan rasio kecukupan modal industri berada di atas 25%. Selain itu, pasokan likuiditas di perbankan yang lebih dari cukup dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga pada level 26%.

Begitu pula dengan rasio kredit bermasalah di perbankan yang cenderung rendah, serta cadangan kerugian penurunan nilai yang relatif cukup. Kesimpulannya, sektor keuangan Indonesia memiliki ketahanan kuat dengan bantalan permodalan yang solid, likuiditas yang lebih dari cukup.

Harian ini menilai risiko perlambatan ekonomi global memang tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Beberapa peristiwa krisis global sebelumnya juga telah memperlihatkan tingkat resiliensi ekonomi Indonesia yang cukup baik. Akan tetapi, perkembangan geopolitik tetap perlu mendapat perhatian rutin dan khusus mengingat segala kemungkinan bisa saja terjadi, bahkan di luar perkiraan para ekonom.

Karena itu, tindakan antisipasi melalui stress test tersebut perlu dilakukan secara berkala agar tidak timbul kesan Indonesia sepenuhnya bebas dari risiko. Dari serangkaian peristiwa mulai dari krisis moneter 1997-1998, krisis finansial global 2008-2009 hingga krisis pandemi Covid-19 2020-2021, dampak paling berat terhadap perekonomian sejatinya dirasakan ketika Tanah Air didera krisis moneter akibat ketidaksiapan langkah antisipasi.

Saat terjadinya krisis moneter, Indonesia tengah mengalami persoalan fundamental dan struktural yang dibarengi oleh masa transisi kekuasaan. Alhasil segala faktor, termasuk stabilitas politik juga perlu mendapat perhatian yang tidak kalah penting.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.