EDITORIAL: Obat Lesu Darah

FOMC tengah mengadakan pertemuan pada 30—31 Januari, untuk mengevaluasi kondisi ekonomi, memutuskan kebijakan moneter, dan menentukan suku bunga acuan.

Redaksi

31 Jan 2024 - 05.53
A-
A+
EDITORIAL: Obat Lesu Darah

Logo bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat./ Bloomberg

Bisnis, JAKARTA – Federal Open Market Committee (FOMC) tengah mengadakan pertemuan perdananya pada 30—31 Januari, sebagai salah satu rangkaian dari delapan kali pertemuan sepanjang 2024 untuk mengevaluasi kondisi ekonomi, memutuskan kebijakan moneter, dan menentukan suku bunga acuan.

FOMC Meeting pada Januari ini menjadi perhatian dunia karena perekonomian global tengah menanti sinyal dan kabar baik menyangkut sinyal ber­akhirnya tren suku bunga tinggi di AS yang bertahan pada level tinggi, 5,25%—5,5% sejak 26 Juli 2023.

The Fed menyesuaikan tingkat suku bunga merespons terhadap apa yang terjadi dalam perekonomian AS, terutama dalam menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja.

Sederhananya, The Fed menaikkan tingkat suku bunga ketika perekonomian mulai kepanasan, yang ditandai dengan tingginya inflasi. Sebaliknya, suku bunga diturunkan ketika perekonomian terlihat lemah yang ditandai oleh tingkat pengangguran tinggi.

Ada sejumlah data lain yang juga menjadi pertimbangan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, di antaranya produk domestik bruto (PDB), pengeluaran konsumen, dan produksi industri. Tentu saja, peristiwa-peristiwa besar seperti krisis keuangan, pandemi global hingga krisis geopolitik turut menjadi pertimbangan.

Sebagai catatan, inflasi di AS mulai mendingin, dari 7% pada 2021 menjadi 6,5% pada 2022 dan kemudian turun lagi menjadi 3,4% pada 2023. Namun, jika merujuk pada data inflasi AS sepanjang 2013—2020 yang berkisar 0,7% hingga 2,3%, tentu saja inflasi 2023 belum cukup ideal.

Sementara itu, meski tingkat pengangguran di AS sempat terbang hingga 14,7% pada April 2020 saat pandemi Covid-19 mulai merebak dan menjadi 8,05% sepanjang 2020, laju pengangguran terus melemah menjadi 5,35% pada 2021, 3,61% pada 2022, dan kemudian justru sedikit naik pada 2023 menjadi 3,7% atau setara 6,3 juta orang.

Kondisi perekonomian AS yang seolah tersandera oleh tren suku bunga tinggi akibat inflasi dan tingkat pengangguran tinggi tentu saja berimbas ke banyak negara, termasuk Indonesia.

Secara fundamental, kondisi makroekonomi nasional relatif terkendali dengan inflasi inti 2023 terjaga rendah sebesar 1,8% (YoY), sejalan dengan konsistensi kebijakan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar Rupiah oleh Bank Indonesia.

Inflasi volatile food juga relatif terkendali sebesar 6,73% (YoY) didukung oleh eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan tim pengendalian inflasi pusat dan daerah di berbagai daerah dalam mengendalikan harga pangan, termasuk beras dan komoditas pangan strategis lainnya, dari dampak El Nino.

Inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 1,72% (YoY), sejalan minimalnya kebijakan penyesuaian harga komoditas yang diatur pemerintah.

Pertumbuhan PDB sebesar 4,94% (YoY) pada kuartal III/2023 juga masih memberi peluang bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi sepanjang 2023 di atas 5%.

Sementara itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang 2023 memang ibarat rollercoaster dengan pergerakan di rentang Rp14.665 per dolar AS (28 April 2023) hingga terlemah Rp15.935 (27 Oktober 2023). Adapun, IHSG sepanjang 2023 tumbuh 6,16% ke level 7.272,797, lebih tinggi dibandingkan dengan capaian 2022 sebesar 4,09%.

Dengan kondisi tersebut, Harian ini tentu saja cukup optimistis Indonesia dapat melalui ketidakpastian perekonomian global saat ini dengan cukup aman. Apalagi dengan adanya sinyal bank sentral AS mulai menurunkan suku bunga acuan pada Maret 2024.

Seiring dengan angka inflasi AS yang ternyata mengalami penurunan cukup menjadi 2,9% pada Desember 2023, turun di bawah 3% untuk pertama kalinya sejak awal 2021.

The Fed seolah sudah menyiapkan landasan kebangkitan bagi perekonomian Indonesia yang seolah lesu darah. Hanya tinggal komitmen pemerintah, partai politik, dan masyarakat untuk mengawal pesta demokrasi agar berjalan lancar dengan saling menghormati hasil pemilu 14 Februari demi terciptanya Indonesia Emas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.