EDITORIAL : Optimalisasi Pemanfaatan Biodiesel

Pemanfaatan bahan bakar nabati biodiesel sebagai sumber energi baru terbarukan diklaim berhasil mengurangi impor bahan bakar minyak dalam jumlah signifikan.

Redaksi

28 Feb 2024 - 07.38
A-
A+
EDITORIAL : Optimalisasi Pemanfaatan Biodiesel

Pemanfaatan bahan bakar nabati biodiesel sebagai sumber energi baru terbarukan diklaim berhasil mengurangi impor bahan bakar minyak dalam jumlah signifikan. Untuk meningkatkan kontribusinya, pemerintah pun mulai memperluas penggunaannya hingga ke industri penerbangan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), bahwa sepanjang 2023 penyaluran biodiesel di Indonesia telah mencapai 12,3 juta kiloliter.

Dengan volume sebanyak itu, pemerintah berhasil menghemat sebesar Rp122 triliun yang berasal dari pengurangan impor solar dan minyak mentah. Tak hanya itu, penggunaan biodiesel yang sebagian besar untuk kendaraan bermotor juga berhasil menekan emisi gas rumah kaca sebesar 132 juta ton CO2 ekuivalen.

Tahun ini, pemerintah menetapkan kuota penyaluran biodiesel B35 yaitu bauran solar dengan 35% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit, sebesar 13,41 juta kiloliter. Tak cukup meningkatkan penggunaan B35, Kementerian ESDM berencana mempercepat penerapan B40 yang semula ditargetkan pada 2030.

Uji penerapan program biodiesel B40 akan dilakukan tahun ini. Uji terap B40 juga bakal menyasar pada sektor non-otomotif, seperti alat berat, kapal laut, alat dan mesin pertanian, kereta api hingga industri penerbangan.

Langkah pemerintah memperluas pemakaian bahan bakar nabati tersebut diharapkan makin menekan kebutuhan impor bahan bakar minyak dan mempercepat pencapaian net zero emission.

Pemanfaatan biodiesel yang membutuhkan pendanaan besar mengharuskan pemerintah mengeluarkan anggaran berupa insentif untuk menarik para pelaku usaha berinvestasi di bidang usaha itu.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bahwa tahun lalu insentif yang dianggarkan mencapai Rp30 triliun. Insentif itu diberikan kepada pelaku usaha dan digunakan untuk menutup selisih kurang antara harga indeks pasar (HIP) bahan bakar minyak jenis minyak solar dengan harga indeks pasar bahan bakar nabati jenis biodiesel.

Di sisi lain, peremajaan lahan sawit rakyat sebagai sektor hulu dari industri biodiesel, masih berjalan lambat. Padahal kebutuhannya sangat tinggi. Berdasarkan data Bisnis, peremajaan lahan sawit mencapai 180.000 hektare dan baru terealisasi sekitar 30%.

Kebijakan menaikkan insentif replanting dari semula Rp30 juta menjadi Rp60 juta pun ditempuh untuk meningkatkan minat masyarakat. Namun, persyaratan sertifikat untuk mendapatkan bantuan pemerintah dinilai dapat memperlambat.

Harian ini berharap agar insentif pengembangan biodiesel tidak hanya dirasakan oleh para pelaku usaha berskala besar tetapi juga merengkuh petani rakyat sebagai pemasok bahan baku. Manfaat penghiliran harus dirasakan oleh semua pelaku industri.

Persoalan yang menghambat petani sawit dalam mendapatkan sertifikasi lahan dan Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) harus diselesaikan. Asistensi kepada petani rakyat juga harus terus dilakukan.

Selanjutnya, yang juga harus diberi perhatian adalah pemanfaatan biodiesel untuk penerbangan, mengingat regulasi di sektor usaha itu sangat ketat. Riset pengembangan bahan bakar bioavtur harus terus dilakukan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

Pemanfaatan sawit untuk biodiesel harus terus didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Biaya produksi yang masih tinggi juga harus dicarikan solusinya agar energi tersebut makin banyak dipergunakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.