EDITORIAL : Pekerjaan Rumah Pengelolaan Karbon

Keberadaan beleid tentang penyelenggaraan kegiatan penangkapan dan penyimpanan karbon tidak serta-merta membuat pengembangan CCS nasional berjalan mulus.

Redaksi

8 Mar 2024 - 07.04
A-
A+
EDITORIAL : Pekerjaan Rumah Pengelolaan Karbon

Ilustrasi (Foto Bisnis)

Keberadaan beleid tentang penyelenggaraan kegiatan penangkapan dan penyimpanan karbon tidak serta-merta membuat pengembangan CCS atau carbon capture and storage nasional berjalan mulus.

Beberapa pekerjaan rumah masih menunggu giliran untuk diselesaikan agar fasilitas itu tersebut dapat memberikan hasil sesuai harapan.

Selama ini, CCS menjadi salah satu teknologi pilihan yang mampu memitigasi lepasnya emisi gas rumah kaca (GRK), dari aktivitas pemanfaatan bahan-bahan fosil di sektor industri dan pembangkit listrik skala besar.

Teknologi ini pada prinsipnya menangkap kembali karbon dioksida (CO2) dari berbagai aktivitas penggunaan bahan bakar fosil yang kemudian disimpan kembali ke perut bumi, khususnya sumur minyak dan gas yang kering.

Begitu modern dan rumitnya implementasi teknologi ini pada akhirnya meningkatkan biaya yang diperlukan untuk pengembangan fasilitas CCS sangat tinggi.

Selain itu, tidak mengherankan apabila hingga saat ini, pengembangan fasilitas CCS masih dianggap sebagai biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan minyak dan gas bumi (migas).

Alasannya, selama ini CCS hanya dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah terhadap produk, sekaligus mempermudah pendanaan dari lembaga pembiayaan internasional.

Jepang dan negara konsumen gas tradisional lainnya, misalnya, rela membeli liquefied natural gas/LNG asal Indonesia yang berlabel ramah lingkungan. Kendati, pasokan LNG diekspor dengan harga yang lebih mahal.

Di antara kelebihan dan kekurangannya, sosialisasi untuk meningkatkan pemanfaatan CCS di dalam negeri masih perlu didorong lebih kencang, mengingat sebagian besar CO2 yang dihasilkan industri hulu migas masih dilepas ke atmosfer.

Masalah ini merupakan salah satu pekerjaan rumah yang perlu mendapatkan perhatian mengingat belum adanya aturan lebih mendetail menyoal pengembangan CCS, khususnya transaksi karbon yang disimpan di wilayah kerja penyimpanan karbon.

Selain itu, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas masih awam dengan persoalan tersebut. Dalam proses penghitungan CO2 dalam skema CCS, contohnya, masih perlu diatur dengan jelas dan tegas apakah dilakukan saat penangkapan atau penyimpanan.

Masalah tersebut perlu mendapatkan perhatian karena nyaris sama dengan pengelolaan LNG di sisi hulu. Di mana dalam proses penangkapan dan penyimpanan berisiko muncul kebocoran yang berakibat pada perbedaan data.

Pekerjaan rumah selanjutnya adalah pemerintah perlu memastikan karbon yang disimpan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan di wilayah sekitar.

Sebelumnya pemerintah telah mengeluarkan Perpres No. 14/2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon. Di dalamnya, tercantum bahwa plan for development and operation zona target injeksi (ZTI) wajib menyertai sertifikasi kapasitas penyimpanan karbon.

ZTI diartikan sebagai sistem batuan dalam formasi geologi mencakup lapisan zona penyimpanan, penyangga, kedap dan perangkap geologi yang mampu menampung karbon secara aman dan permanen, serta memenuhi standar keamanan lingkungan.

Harian ini memandang dengan adanya peluang dan tantangan dalam pengembangan CCS nasional, langkah implementasi dari teknologi ini menjadi wajib untuk dikawal. Kendati memerlukan biaya yang sangat besar, inovasi seperti implementasi pajak karbon cukup jitu sebagai solusi.

Dengan demikian, potensi Indonesia dikenal sebagai negara yang berpotensi yang besar untuk mengembangkan fasilitas CCS bakal lebih optimal, seiring dengan data Boston Consulting Group yang menyebut potensi ruang penyimpanan karbon di Indonesia mencapai 400—600 gigaton.

Potensi besar tersebut tentu saja selaras dengan sisi geografis Indonesia yang jaluh lebih menguntungkan untuk mengembangkan hub CCS dibandingkan dengan negara lain di dunia. Pada akhirnya, penyelesaian pekerjaan rumah CCS yang cepat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.