EDITORIAL : Prospek Cerah Biofuel Nasional

Upaya meningkatkan penggunaan biodiesel selaras dengan program prioritas pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Redaksi

2 Feb 2024 - 06.36
A-
A+
EDITORIAL : Prospek Cerah Biofuel Nasional

Ilustrasi (Foto Bisnis)

Pada tahun ini, pemerintah menargetkan pemanfaatan biodiesel mencapai 12,5 juta kiloliter. Angka ini melampaui realisasi pada 2023 sebesar 12,2 juta kiloliter. Upaya meningkatkan penggunaan biodiesel ini selaras dengan program prioritas pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Pemerintah sebelumnya menetapkan target bauran energi sebesar 23% EBT pada 2025, dan Net Zero Emission (NZE) pada 2060, atau lebih cepat. Pengembangan program mandatori B30 atau Biodiesel 30% pun menjadi salah satu jalan untuk mencapai target.

Program mandatori B30 yang berjalan sejak 2020 terbukti berhasil sehingga pemerintah menerapkan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) Biodiesel 35% pada tahun lalu. Penerapan B35 ini pun menjadi langkah konkrit pemerintah dalam mengurangi impor minyak mentah sekaligus menghemat devisa negara.

B35 merupakan campuran antara bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit atau fatty acid methyl esters atau FAME (35%) dan solar (65%). Keberhasilan program ini yang menjadi latar belakang penambahan target pemanfaatan biodiesel menjadi 12,5 juta kiloliter.

Bukan tanpa alasan pemerintah terus menggenjot pemanfaatan biodiesel. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun lalu, penghematan devisa dari penerapan program ini mencapai US$7,9 miliar.

Tidak hanya itu saja, dari sisi komoditas terjadi peningkatan nilai tambah crude palm oil (CPO) sebesar Rp15,82 triliun. Penyerapan tenaga kerja juga bertambah lebih dari 11.000 orang (off-farm), dan 1,5 juta orang (on-farm).

B35 turut berperan menekan impor dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis Solar. Selama ini, pemerintah memang harus mengimpor selisih antara konsumsi harian yang sebesar 1,3 juta kiloliter dan kemampuan produksi kilang nasional sebanyak 800.000 kiloliter agar tidak terjadi kelangkaan.

Keberhasilan pemerintah menerapkan B35 juga menjadikan Indonesia sebagai negara percontohan dalam implementasi bahan bakar nabati (BBN) untuk kendaraan bermotor. Alasannya, saat ini Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak memanfaatkan bahan bakar nabati untuk kendaraan bermotor.

Sedemikan gencarnya upaya pemerintah mendorong peningkatan biodiesel sebagai campuran Biosolar menjadi peluang pelaku usaha untuk ikut mendulang keuntungan.

Berdasarkan data Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), produksi biodiesel di Tanah Air terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2023, biodiesel yang diproduksi di dalam negeri mencapai 11,9 juta kiloliter. Dari jumlah produksi tersebut, 11,36 juta kiloliternya dimanfaatkan di domestik, sedangkan 166.500,67 kiloliter sisanya diekspor.

Harian ini menilai langkah yang diambil pemerintah untuk mencapai target bauran energi guna mencapai cita-cita pemanfaatan energi baru terbarukan di Tanah Air masih berpatokan pada jalurnya. Kerja sama yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen menjadi kunci keberhasilan pencapaian target.

Kendati demikian, pemerintah seyogianya tidak hanya menitik beratkan biodiesel saja. Nasib bahan baku bioetanol yang menjadi syarat keberlanjutan penyaluran Pertamax Green 95 perlu diperhatikan.

Upaya meningkatkan produktivitas tebu yang menjadi bahan baku bioetanol menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan para pihak terkait. Dengan demikian, jenis bahan bakar ramah lingkungan yang digunakan di Indonesia dapat lebih beragam dan target net zero emission yang ditetapkan pada 2060 dapat lebih cepat dicapai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.