EDITORIAL : Prospek Cerah Energi Surya

Komitmen kuat dalam pemanfaatan energi baru terbarukan membuat perusahaan mulai berduyun-duyun memasang PLTS di kawasan fasilitas produksinya.

Redaksi

16 Feb 2024 - 06.50
A-
A+
EDITORIAL : Prospek Cerah Energi Surya

Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi hijau cukup menarik perhatian banyak negara, termasuk Indonesia, guna mengurangi dampak perubahan iklim dan kualitas udara. Negeri Zamrud Khatulistiwa yang beriklim tropis mendapatkan berkah paparan sinar matahari yang begitu melimpah.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi energi surya di Tanah Air mencapai 4,8 kilowatt hour atau kWh/m2 atau setara dengan 112.000 Gigawatt peak (GWp). Sayangnya, potensi yang sedemikian besar ini baru dimanfaatkan sebanyak 10 Megawatt peak (MWp).

Sinar matahari yang memancar hampir sepanjang tahun dapat dengan mudah dikonversi menjadi listrik melalui teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Teknologi fotovoltaik mampu mengubah energi dari sinar matahari menjadi energi listrik secara langsung. Peralatan fotovoltaik berbentuk kumpulan sel surya yang disusun secara paralel dan disatukan menjadi modul surya.

Adapun, komponen utama dari sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang menggunakan teknologi ini dikenal sebagai sel surya.

Besarnya potensi energi hijau ini membuka peluang bagi pemerintah untuk memaksimalkan pemanfaatannya Pemerintah dengan cepat menerbitkan peta jalan mengenai pemanfaatan energi surya.

Dalam peta jalan tersebut, pemerintah menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga 2025 sebesar 0,87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun. Jumlah yang sangat besar ini menggambarkan potensi pasar yang cukup besar dalam pengembangan energi surya pada masa datang.

Namun, upaya untuk mewujudkan target tersebut ternyata mesti melewati jalan terjal dan berliku. Begitu banyak tantangan mengadang dalam pengembangan PLTS di dalam negeri. Salah satunya dari sisi teknologi. Saat ini, industri photovoltaic (PV) di Indonesia masih berkonsentrasi di penghiliran yakni memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS. Adapun, sel surya masih bergantung pada impor.

Padahal, sel surya merupakan komponen utama dan menyerap biaya paling tinggi dalam sistem PLTS sehingga investasi yang diperlukan sangat besar.

Sampai saat ini, berbagai teknologi pembuatan sel surya terus dicari dan dikembangkan dengan tujuan menekan harga produksi sehingga dapat bersaing dengan sumber energi hijau lainnya.

Tantangan lain tentu saja adalah harga jual listrik dari sumber energi hijau yang belum kompetitif. Begitu beragamnya tantangan yang membayang di pelupuk mata, tetap tidak menutup pengembangan energi hijau yang satu ini.

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau dan rasio elektrifikasi yang belum 100% karena banyak daerah pedesaan di pelosok terpencil yang jauh dari keterjangkauan pusat pembangkit listrik, membuat PLTS menjadi andalan sumber penerangan masyarakat.

Harian ini menilai di tengah tantangan yang tidak sedikit dalam pengembangan PLTS, potensi energi surya yang masih begitu besar untuk dikembangkan menjadi besi berani menarik minat investasi dari kalangan korporasi.

Komitmen kuat dalam pemanfaatan energi baru terbarukan membuat perusahaan mulai berduyun-duyun memasang PLTS di kawasan fasilitas produksinya. Upaya yang menyeluruh ini jika dilakukan dengan konsisten dan berkesinambungan bakal mempercepat pencapaian target konversi energi fosil ke ramah lingkungan di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.