Free

EDITORIAL: Seberkas Sinar di Balik Risiko Resesi

Harian Bisnis Indonesia berharap membaiknya pasar saham di Asia dan melambatnya laju penguatan dolar AS pada akhir pekan ini dapat menjadi sinyal mulai meredanya kekhawatiran global atas suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

Redaksi

12 Nov 2022 - 08.23
A-
A+
EDITORIAL: Seberkas Sinar di Balik Risiko Resesi

Gedung di Jakarta. Menjelang akhir pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 122,37 poin atau 1,76% ke level 7.089,21.

Indeks bursa saham Asia dan mata uang regional secara umum kompak bergerak hijau pada perdagangan Jumat (11/11) pascarilis data inflasi Amerika Serikat yang berada di bawah proyeksi para ekonom.

Menjelang akhir pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 122,37 poin atau 1,76% ke level 7.089,21. Sejalan dengan itu, rupiah turut mengalami penguatan 1,31% atau 205 poin ke posisi Rp15.488,5 per dolar AS. Hingga pukul 15.10 WIB, indeks dolar AS terpantau melemah 0,53% atau 0,57 poin, di level 107,63.

Sementara itu, mata uang di kawasan Asia bergerak bervariasi. Mata uang yen Jepang ditutup melemah 0,18%, won Korea Selatan menguat 4,27%, yuan China terapresiasi 1,21%, dan ringgit Malaysia terangkat 1,99%.

Pada awal perdagangan, mayoritas bursa Asia terpan-tau menguat seperti yang terjadi pada indeks Nikkei 225, Hang Seng, Taiex, Kospi ASX 200, Straits Times dan FTSE Malaysia.

Euforia pada pelaku pasar dan investor tersebut diduga kuat sebagai bentuk respons atas data inflasi AS sebesar 7,7% pada Oktober (year-on-year/YoY) atau turun dari 8,2% pada September. Adapun konsensus inflasi Oktober sebelumnya memperkirakan inflasi akan berada di posisi 8%.

Kendati masih terbilang tinggi, perlambatan laju inflasi di Negara Adidaya itu seakan memberikan secercah harapan bahwa The Fed bakal menahan upaya peningkatan suku bunga yang tengah dijalankan.

Situasi tersebut memunculkan spekulasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS akan mereda pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 13-14 Desember mendatang.

Seperti diketahui, Federal Reserve telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 3,75%-4% pada Rabu (2/11) waktu setempat.

Kenaikan ini adalah yang ke enam berturut-turut, di mana besaran 75 basis poin menjadi pilihan kenaikan dalam ke empat pertemuan FOMC terakhir. Kondisi ini menjadikan biaya pinjaman berada pada level tertinggi baru sejak 2008.

Tentu saja harapannya sikap hawkish The Fed ini akan berangsur turun setelah kebijakan suku bunga tinggi mampu memberikan hasil pada penurunan harga. Paling tidak, pasar bereks pektasi kenaikan Fed Fund Rate berikutnya tidak lagi mencapai 75 basis poin.

Harapan itu diperkuat oleh angka inflasi inti di AS yang mengalami penurunan di posisi 6,3% YoY pada Oktober 2022 atau lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya 6,6%.

Inflasi inti yaitu komponen yang cenderung menetap di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan-penawaran.

Dalam acara Bloomberg CEO Forum di Bali, Jumat (11/11), seperti dikutip dari laman YouTube, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan kebijakan suku bunga tinggi The Fed dalam beberapa waktu terakhir berdampak kepada perekonomian negara lain.

Peningkatan suku bunga secara agresif telah mempengaruhi sisi pasokan sehingga terjadi kenaikan harga, selain juga akibat dari pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina yang memicu lonjakan harga energi.

Di samping itu, pengetatan moneter ini juga mendorong dolar AS menguat dan menyebabkan kejatuhan mata uang lain sehingga menimbulkan imported inflation. Beberapa negara dari berbagai benua bahkan sudah merasakan dampak dari inflasi tinggi tersebut.

Risiko resesi kemudian muncul sebagai ancaman ketika terjadi perlambatan ekonomi global yang direspons oleh banyak negara dengan menaikkan suku bunga secara ekstrem sehingga pada gilirannya menciptakan volatilitas di pasar keuangan.

Kondisi ini menjadi tantangan nyata saat ini bagi perekonomian negara maju maupun negara berkembang.

Harian ini berharap membaiknya pasar saham di Asia dan melambatnya laju penguatan dolar AS pada akhir pekan ini dapat menjadi sinyal mulai meredanya kekhawatiran global atas suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

Realisasi angka inflasi AS yang di bawah perkiraan ini kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan The Fed dalam menjalankan kebijakan moneter yang lebih longgar ke depan.

Di sisi lain, pemerintah diminta untuk tetap fokus memperkuat pondasi pemulihan ekonomi sejalan dengan kokohnya angka realisasi pertumbuhan PDB kuartal III/2022 terhadap kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,72% (YoY).

Selain itu, pergerakan IHSG yang terjaga bahkan mampu bergerak ke arah positif dan posisi nilai tukar rupiah yang masih relatif stabil semestinya dapat menjadi modal cukup baik dalam menghindari risiko resesi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.