Efek Investree Diterpa Gagal Bayar Bagi Bank Amar

Kolaborasi antara PT Bank Amar Tbk. (AMAR) dan fintech Investree dilakukan untuk mempeluas target pasar ke segmen kredit usaha kecil dan menengah. Meski saat ini Investree tengah diterpa kasus gagal bayar peminjam dana. Lantas bagaimana dampaknya terhadap Bank Amar?

Fahmi Ahmad Burhan

20 Jun 2023 - 21.34
A-
A+
Efek Investree Diterpa Gagal Bayar Bagi Bank Amar

Bisnis, JAKARTA— Kolaborasi antara PT Bank Amar Tbk. (AMAR) dan fintech Investree dilakukan untuk mempeluas target pasar ke segmen kredit usaha kecil dan menengah. Meski saat ini Investree tengah diterpa kasus gagal bayar peminjam dana. Lantas bagaimana dampaknya terhadap Bank Amar?

Dengan kolaborasi itu, Investree dapat meraup segmen kredit UKM yang belum terlayani melalui Bank Amar, lalu Bank Amar bisa menumbuhkan portofolio kredit mereka di konsumer serta UKM. Investree Group melalui Investree Singapore Pte,.Ltd juga memiliki kepemilikan saham di Bank Amar sebesar 2,54 miliar lembar atau 13,83 persen porsi kepemilikan. 

Sementara saat ini kini Investree diterpa kabar gagal bayar borrower. Rata-rata pinjaman yang mengalami gagal bayar mencapai Rp5,55 miliar dengan rating pinjaman di level B sampai C- yang memiliki imbal hasil yang lebih tinggi. Payor atau pembayar dari kontrak perjanjian yang berasal dari perusahaan swasta ternama, BUMN, perusahaan multi nasional, hingga APBN.

Apabila melihat dari pengaduan lender (kreditur), profil peminjam yang mengalami gagal bayar 90 hari berasal dari sektor tekstil dan garmen hingga konstruksi. Direktur SME, Korporasi, dan Operasional Bank Amar Eka Banyuaji mengatakan sampai saat ini kolaborasi antara Bank Amar dan Investree masih berjalan dengan baik.

“Pertumbuhan portofolio kredit juga baik. Kami juga tidak kesampingkan prinsip kehati-hatian dalam jangkau nasabah,” ujarnya dalam paparan publik pada Selasa (20/6/2023). 

Warga beraktivitas dengan latar logo PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) di Jakarta, Selasa (25/1/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bank Amar sendiri telah menyalurkan kredit Rp2,4 triliun pada kuartal I/2023. Capaian tersebut tumbuh tipis 2,12 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara capaian tersebut telah ditopang oleh penyaluran melalui kerja sama dengan platform digital, termasuk Investree. 

Sementararasio kredit bermasalah Bank Amar masih terjaga. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan NPL gross Bank Amar yang susut dari 7,71 persen per Maret 2022 menjadi 6,48 persen per Maret 2023. 

NPL nett pun turun dari 2,25 persen pada kuartal I/2022 menjadi 1,84 persen pada kuartal I/2023. Eka mengatakan kolaborasi yang dilakukan bank dengan platform digital seperti Investree itu bertujuan menjangkau lebih banyak nasabah dan sesuai dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Langkah Bank Amar Perkuat Posisi di Peta Persaingan Bank Digital

Investree juga akan terus menggaet kerja sama dengan platform digital lainnya guna meruap lebih banyak nasabah. Sebelumnya, berdasarkan data PT Reliance Sekuritas Indonesia, AMAR diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan pinjaman 18,2 persen yoy sepanjang tahun 2023, terutama didorong dengan potensi platform digital Tunaiku dan kolaborasi dengan Investree untuk menyalurkan pinjaman bagi UMKM. 

“AMAR diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan pinjaman yang moderat dan penurunan yang signifikan pada rasio biaya terhadap pendapatan [cost to income ratio] melalui transformasi digital,” tulis Reliance dalam risetnya.

Sebelumnya, Co-Founder & CEO Investree Adrian Gunadi menjelaskan, usaha tekstil dan garmen mengalami pinjam macet sejak Agustus 2022 dengan rata-rata pinjaman mencapai Rp955 juta dan rating pinjaman di level C. “Alasan keterlambatan pada sektor tekstil dan garmen adalah imbas dari pandemi Covid-19 sehingga berdampak pada menurunnya penjualan sejak 2020,” katanya. 

Empat sektor usaha lainnya yang mengalami gagal bayar terbesar adalah transportasi dan logistik, minyak dan gas, penyediaan komputer, serta sektor konstruksi. Debitur dari kelima sektor mengalami gagal bayar lebih dari 90 hari. 

Karyawan beraktivitas disalah satu kantor cabang PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) di Jakarta, Selasa (25/1/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Berdasarkan pengaduan lender, rata-rata pinjaman yang mengalami gagal bayar mencapai Rp5,55 miliar dengan rating pinjaman di level B sampai C yang memiliki imbal hasil yang lebih tinggi. Selain itu, payer (pembayar) dari kontrak perjanjian berasal dari perusahaan swasta ternama, BUMN, perusahaan multi nasional, hingga APBN.

“Kalau kita lihat, mereka adalah borrower-borrower yang memang sebenarnya sudah atau pernah kita danai bersama Investree, bahkan ada yang dari 2014, yang mana performanya mereka bagus,” ujarnya.

Adrian melanjutkan, makro ekonomi dan kondisi di lapangan menimbulkan risiko gagal bayar yang lebih besar di industri financial technology peer-to-peer lending (fintech P2 lending), termasuk Investree.

Investree, lanjutnya, tetap memprioritaskan perlindungan dan kenyamanan kreditur individu sebagai salah satu pemangku kepentingan utama dengan melakukan beberapa inisiatif.“Pertama, apakah bisa dilaku­kan restrukturisasi, apabila masih ada kemampuan dan kemauan borrower untuk melakukan restrukturisasi,” kata Adrian.

Kedua, upaya penyelesaian melalui penjualan aset dari debitur. Ketiga, menempuh jalur hukum untuk mengakselerasi penyelesaian tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.