Efek Negatif ‘Merger’ XL Axiata-Smartfren dari Sisi Konsumen

Saat ini jumlah operator seluler di Indonesia berjumlah empat perusahaan. Penggabungan XL-Smartfren berisiko melahirkan oligopoli sehingga harus diantisipasi.

Leo Dwi Jatmiko

30 Mar 2024 - 13.08
A-
A+
Efek Negatif ‘Merger’ XL Axiata-Smartfren dari Sisi Konsumen

BTS di daerah pedalaman. Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis, JAKARTA – Tercapainya aksi korporasi merger atau penggabungan antara XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) nyatanya bisa berdampak negatif bagi industri telekomunikasi jika tak diantisipasi sejak awal.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan bahwa jika merger terjadi, berisiko melahirkan oligopoli. Persaingan usaha antaroperator seluler saat ini yang berjumlah empat perusahaan, lebih longgar dibandingkan sebelumnya saat jumlahnya masih lima

“Harus diwaspadai jumlah pemain yang sedikit itu oligopoli karena tiga pemain akan menguasai pasar Indonesia. Ini jadi domain KPPU [Komisi Pengawas Persaingan Usaha] agar persaingan tetap terjadi baik dari sisi harga, cakupan, dan kualitas,” katanya kepada Bisnis, Jumat (29/3/2024). 

Heru menjelaskan bahwa kurang setuju dengan pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi yang menyatakan bahwa urusan merger sepenuhnya berada di tangan operator seluler karena bersifat business to business (B2B).

Baca juga: Satelit Milik Elon Musk Bakal Ikut Kawal Mudik Lebaran 2024

Menurutnya, pemerintah memiliki andil besar dalam mendorong merger khusunya perihal kepastian sumber daya terbatas seperti spektrum frekuensi dan nomor pelanggan. 

Merger memang B2B tetapi pemerintah tidak bisa lepas tangan sepenuhnya karena ada sumber daya terbatas yaitu spektrum dan penomoran. Apakah setelah merger itu mereka dikurangi atau dikembalikan,” kata Heru. 

Untuk diketahui, saat ini XL Axiata mengoperasikan 45 MHz untuk uplink dan 45 MHz untuk downlink. Total ada 90 MHz dengan pita frekuensi 1,9 GHz dan 2,1 GHz digunakan untuk 5G. XL melayani 55,9 juta pelanggan prabayar dan 1,6 juta pelanggan pascabayar. 

Sementara itu, Smartfren mengoperasikan 11 MHz untuk uplink dan 11 MHz untuk downlink di pita 800 MHz serta 40 MHz di pita 2,3 GHz dengan jumlah pelanggan di atas 30 juta. 



Dalam kasus merger Indosat dengan Tri Indonesia pada 2022, keduanya mengembalikan spektrum frekuensi sebesar 2x5 MHz kepada pemerintah. 

Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward mengatakan ⁠jika merujuk pada UU Ciptaker no.6/2023, merger memungkinkan dilakukannya pengalihan spektrum frekuensi (IPFR) atau cara paling murah untuk mendapatkan spektrum frekuensi. 

Selain itu, manfaat lain bagi keduanya adalah kemampuan finansial yang seharusnya lebih kuat, sehingga lebih siap untuk bertarung dalam lelang frekuensi.

“Selain itu secara finansial untuk menghadapi lelang frekuensi ke depannya akan lebih kuat secara finansial,” kata Ian.

Baca juga: Merger XL Axiata (EXCL) - Smartfren (FREN) Disebut Berisiko Ciptakan Oligopoli

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) berencana menggelar lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 26 GHz pada tahun ini. Saat ini perkembangan lelang tersebut masih berkutat pada pembahasan insentif di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kemenkominfo Ismail mengatakan karena itulah Kemenkominfo tengah mengupayakan untuk berkomunikasi dengan Kemenkeu secepatnya agar dapat merampungkan skema insentif 5G.

“Ini sedang komunikasi dengan Kementerian Keuangan. Saya minta minggu ini bisa ketemu dengan Pak Dirjen,” ujar Ismail saat ditemui Bisnis di Gedung DPR, Selasa (19/3/2024).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.