Ekonomi Berbasis Sawit 2024

Produksi minyak sawit Indonesia banyak ditentukan oleh kinerja kebun dan industri sawit di Sumatra dan Kalimantan. Produksi sawit di Sulawesi dan Papua masih terbatas karena baru ‘belajar’, yang mungkin berperan penting 10 tahun mendatang.

Bustanul Arifin

6 Des 2023 - 08.01
A-
A+
Ekonomi Berbasis Sawit 2024

Bustanul Arifin, Guru Besar Unila, Ekonom Indef, Ketua Umum Perhepi

Kinerja ekonomi berbasis sawit pada 2023 masih penuh drama, walau tidak sedahsyat fenomena larangan ekspor minyak sawit metah (CPO) dan turunannya pada 2022.

Masih segar dalam ingatan bahwa larangan ekspor CPO sekitar Ramadan 2022 itu telah membuat harga tandan buah segar (TBS) anjlok hingga di bawah Rp1.000 per kg. Kekeringan ekstrem El Nino 2023 sebenarnya tidak banyak berdampak pada kinerja produksi CPO. 

Produksi CPO 2023 diperkirakan 48,6 juta ton, minyak biji sawit (PKO) 4,6 juta ton, sehingga total produksi kelapa sawit 53,2 juta ton atau naik 3,81% dari total produksi 51,2 juta ton pada 2022.

Drama ekonomi sawit diawali ketika Uni Eropa (UE) kembali menuduh sawit Indonesia menjadi penyebab deforestasi, melalui perubahan tata guna lahan secara tidak langsung (indirect land use change-ILUC). 

Indonesia mengajukan gugatan tindakan diskriminatif kepada Badan Penyelesaian Sengketa (DSB/Dispute Settlement Body) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Keputusan akhir hasil gugatan tersebut seharusnya diumumkan pada Desember 2023 ini.

Baca juga:

Pentingnya IPO Subholding PalmCo Usai Resmi Terbentuk

Tantangan Berat bagi Kinerja Emiten Sawit

Jurus Strategis Bursa CPO Bawa RI Duduki Tahta "Raja" Sawit

Di dalam negeri, pemerintah merespons tuduhan UE tentang ILUC dengan melakukan koreksi kebijakan melalui Peraturan Presiden (Perpres) 9/2023 tentang Satuan Tugas Peningkatan Tatakelola Industri Kelapa Sawit dan Optimalisasi Penerimaan Negara. Satgas bertugas menyelesaikan isu legalitas lahan sawit di dalam kawasan hutan. 

Dunia usaha dan petani sawit sama-sama menghadapi ketidakpastian hukum tentang implementasi atau tindakan koersif untuk menyelesaikan kasus tumpang tindih dan ‘ketelanjuran’ tata guna lahan sawit.

Produksi minyak sawit Indonesia banyak ditentukan oleh kinerja kebun dan industri sawit di Sumatra dan Kalimantan. Produksi sawit di Sulawesi dan Papua masih terbatas karena baru ‘belajar’, yang mungkin berperan penting 10 tahun mendatang. 


Kekeringan ekstrem El Nino berpengaruh pada presipitasi uap air di Sumatra dan Kalimantan, sehingga siklus produksi bergeser. Puncak produksi biasanya pada Agustus—September, kini bergeser ke April—Mei.

Produktivitas rata-rata TBS pada 2023 turun hingga 15 ton per ha. Produktivitas perkebunan besar 18 ton per ha, sedangkan sawit rakyat hanya 11 ton per ha. Dunia usaha dan pemerintah sama-sama memiliki kewajiban untuk meningkatkan produktivitas TBS, setidaknya mendekati potensi produktivitas 30 ton per ha. Jika berhasil, maka peningkatan produksi sawit tidak harus melakukan ekspansi kebun, apalagi jika menyebabkan kerusakan hutan.

Konsumsi minyak sawit domestik 2023 diperkirakan naik lebih 10%, terutama untuk biodiesel 10,6 juta ton, pangan 10,4 juta ton, dan oleokimia 2,3 juta ton. Kenaikan ini karena intensitas implementasi kebijakan transisi energi ke arah energi baru dan terbarukan, target B-30 dan B-35 sektor industri dan transportasi. Konsumsi CPO untuk minyak goreng naik 5%, dan diharapkan tidak terdapat lonjakan harga eceran.

Prospek industri berbasis sawit 2024 dapat diikhtisarkan sebagai berikut. Produksi sawit (CPO dan PKO) tumbuh 5%, hingga mencapai 56 juta ton. Konsumsi minyak sawit juga naik tinggi 9% dan mencapai 25 juta ton, karena alokasi konsumsi minyak goreng dan biofuel terus tumbuh.

Akan tetapi, kinerja ekspor 2024 akan turun, terutama ekspor ke UE, mengingat persyaratan keberlanjutan makin rumit. Pelaku industri sawit dan Pemerintah perlu mewaspadai peningkatan stok sawit 5 juta ton karena penurunan harga telah di depan mata.

Baca juga: 

Deforestasi Melambat, Pendanaan Transisi Energi Jadi Tantangan

Pulu Raja, Kebun Sawit Warisan VOC Paling Produktif

Prospek Industri Sawit 2024 Usai Berakhirnya Windfall Komoditas

Ekspor minyak sawit pada 2023 diperkirakan turun 3,5% karena ekspor CPO turun dari 3,5 juta ton tahun 2022 menjadi 2 juta ton. Produk sawit hasil refinery naik menjadi 21,8 juta ton dan oleokimia naik menjadi 4,8 juta ton. 

Ekspor CPO ke UE turun signifikan, terutama setelah kebijakan RED II seperti dijelaskan sebelumnya. Walaupun ekspor sawit Indonesia ke EU hanya 12%, pasar UE sering dijadikan benchmark oleh banyak negara tentang standar keberlanjutan pengelolaan industri sawit.

Commodity Market Outlook yang dirilis Bank Dunia (November 2023) memprakirakan bahwa harga CPO pada 2024 terus turun hingga US$900 per kg karena stok global cukup besar. Penurunan harga minyak bumi global hingga US$84 per ton tahun 2023 dan US$81 per ton tahun 2024 menjadi salah satu determinan penting pada turunnya harga CPO global. Bahkan, Bank Dunia memprakirakan penurunan harga CPO lebih rendah hingga US$850 per ton pada 2025.


Sebagai penutup, pelaku industri sawit dan pekebun rakyat perlu terus berusaha meningkatkan produktivitas sebagai prioritas rencana aksi. Pemerintah dan dunia usaha perlu bahu-membahu untuk menggencarkan promosi ‘sawit baik’ adalah investasi masa depan. 

Promosi dan diplomasi sawit jangan dianggap sebagai kegiatan cost center, apalagi nilai ekonomi berbasis sawit lebih Rp1.500 triliun. Selain menempuh jalur hukum di DSB-WTO, Indonesia perlu memanfaatkan kerja sama ekonomi seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA) sebagai benchmark penting untuk membangun diplomasi “sawit baik”.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.