Ekspansi Masif OXO Group Garap Pasar Properti Pariwisata di Bali

Pasar properti di Bali telah terbukti resilience ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pulau Dewata ini rupanya menarik sejumlah investor baik dalam negeri maupun asing untuk menanamkan modalnya membangun properti residensial dan perhotelan.

Yanita Petriella

26 Feb 2024 - 23.35
A-
A+
Ekspansi Masif OXO Group Garap Pasar Properti Pariwisata di Bali

Salah satu properti villa yang dibangun oleh Oxo Group. /dok. OXO

Bisnis, JAKARTA – Kenaikan harga dan tingkat okupansi properti di Bali terus meningkat didorong oleh industri pariwisata di wilayah ini yang kian bergairah. 

Pulau Dewata ini rupanya menarik sejumlah investor baik dalam negeri maupun asing untuk menanamkan modalnya membangun properti residensial dan perhotelan. Warga negara Rusia, Ukraina, Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika mulai melirik bisnis properti di Bali ini.

Merujuk data Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sepanjang tahun lalu, realisasi penanaman modal asing (PMA) sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran di Bali berada diurutan keempat dengan sebanyak 9.404 proyek bernilai US$338,7 juta, sedangkan untuk realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) berada diurutan ke-13 dengan proyek sebanyak 334 yang senilai Rp730,8 miliar. 

Sementara itu, realisasi investasi PMA untuk sektor hotel dan restoran di Bali sepanjang tahun lalu berada di peringkat ketiga dengan sebanyak 14.771 proyek yang bernilai US$558.59 juta, sedangkan realisasi PMDN di sektor yang sama berada di peringkat 7 dengan nilai Rp3,3 triliun. 

Di sisi lain, berdasarkan data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada kuartal IV tahun 2023, harga hunian primer di Denpasar Bali mengalami kenaikan 0,43%. 

Adapun jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali selama 2023 tercatat 5.273.258 kunjungan atau naik 144,61% dari periode yang sama tahun 2022 yang mencapai 2.155.747 kunjungan. 

Founder dan CEO OXO Group Indonesia Johannes Weissenbaeck berpendapat pasar properti di Bali telah terbukti resilience ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pasalnya, selama pandemi Covid-19, harga properti di Bali tidak mengalami penurunan meskipun kondisi sedang penuh ketidakpastian kala itu. 

“Di Bali lucu sekali ketika pandemi banyak orang Jakarta ke Bali mau beli properti, tapi orang Bali enggak turunkan harga. Market di Bali kuat sekali, pas turun tidak kolaps. Kalau di Eropa dan Amerika Serikat bisa kolaps kondisi kemarin,” ujarnya menjawab Bisnis, Senin (26/2/2024). 

Meski pandemi Covid-19 memukul bisnis pariwisata di Bali, namun fenomena itu juga kemudian memunculkan celah pasar properti baru, yaitu pasar properti berkonsep boutique lifestyle.

Hal ini karena pada saat pandemi, semua orang bisa bekerja dari mana saja sehingga Bali menjadi salah satu tujuan utama dari tren baru ini.

“Yang lebih mengagetkan adalah tren tersebut masih bertahan hingga sekarang. Ini menjadi bahan bakar untuk pasar properti berkonsep boutique lifestyle,” katanya.

Kuatnya pasar pariwisata Bali dibuktikan dari penambahan suplai kamar hotel dan villa. Dia mencontohkan pada awal Covid-19 tahun 2020, jumlah kamar hotel dan villa di Canggu hanya sekitar sekitar 3.800 unit. Jumlah tersebut terus bertambah hingga saat ini sudah lebih dari 5.200 unit kamar villa yang siap disewakan. Pada tahun depan diproyeksikan jumlah kamar di Canggu akan bertambah menjadi 6.000 unit kamar. 

“Pertumbuhan kamar di Canggu dalam kurun waktu 3 hingga 4 tahun sehingga menjadi sebuah isu,” ucapnya. 

Menurut Johannes, penambahan kamar hotel baru ini bisa memicu kelebihan pasokan atau oversupply. Kendati demikian, pihaknya tetap optimistis properti yang dimilikinya dapat terserap habis penjualan dan diminati oleh penyewa. Hal ini karena OXO Group sudah memiliki strategi untuk menarik tamu maupun turis.

Adapun tingkat keterisian kamar atau okupansi properti akomodasi di Bali terus meningkatkan. Secara umum, rerata okupansi kamar di Bali saat ini mencapai 61%, sedangkan tingkat keterisian kamar properti yang dikelola OXO Group bisa mencapai 68%. 

“OXO Group juga berhasil menjual habis dua proyek pengembangan kami di kawasan Canggu selama pandemi.” tuturnya. 

Dia menilai market properti dan perhotelan di Bali tidak hanya berasal dari wisatawan domestik saja, tetapi juga turis asing. 

“Banyak orang remote working, bisa kerja dari mana aja, apalagi biaya hidup lebih murah dibanding kota-kota lain di dunia. Jadi banyak feeder market seperti Singapura yang masuk ke Bali. Ditambah konflik di Rusia-Ukraina yang membuat mereka pindah ke Bali,” ujarnya.

OXO Group Indonesia merupakan perusahaan pengembangan dan manajemen properti dengan visi  menciptakan gaya hidup yang menginspirasi dan bermanfaat bagi para tamu dan investor. Sejak awal tahun 2015, produk properti dan pengalaman OXO memiliki desain cerdas, layanan premium, dan mengedepankan prinsip berkelanjutan (sustainability).

Properti pertama yang dikembangkan pada awal 2015 yakni villa mewah Chameleon, yang mendapatkan penghargaan dan pengakuan internasional. Sejak saat itu, OXO menjadi salah satu perusahaan pengembangan dan pengelolaan properti butik di Bali.

Saat ini, OXO telah mengembangkan dan memiliki sekitar 30 properti di Bali senilai Rp700 miliar yang terdiri dari hunian pribadi, vila, townhouse, studio co-working, dan resor. Selain itu, OXO juga memiliki kapal pesiar sepanjang 20 meter di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. 

Perusahaan ini sudah menyelesaikan pengembangan enam proyek properti di Bali dan tiga lagi dałam proses konstruksi. Pada bulan Mei tahun ini, OXO berencana meluncurkan satu proyek baru lagi. 

“Kami sekedar menyediakan properti, tetapi lebih ke lifestyle. Ke depan kami akan menggarap beberapa market di luar Pulau Bali,” katanya.

OXO juga bekerja sama dengan One Global Capital sebagai upaya untuk menggarap pasar global dunia. Selain itu, OXO menggandeng Nuanu Property Group dalam menggarap kawasan Nuanu City yang merupakan hot spot baru seluas 50 hektare di Bali setelah Canggu dalam satu hingga dua tahun ke depan.

“Salah satu kekuatan kami adalah kami bisa mengikuti tren pasar baru, seperti halnya neo luxury. Para penganut paham neo luxury memandang kemewahan tidak lagi dibatasi oleh material bahan bangunan yang digunakan misalnya marmer, namun mereka lebih melihat value, experience, dan gaya hidup berkelanjutan,” terang Johannes.

Baca Juga: Ramalan Bisnis Properti Tetap Menggeliat Positif di Tahun Pemilu

OXO berkomitmen mengedepankan gaya hidup berkelanjutan. Semua properti yang dibangun oleh OXO dilengkapi dengan panel tenaga surya, area resapan air hujan, water treatment, penyaring air osmosis, hingga bahan baku hasil daur ulang atau dapat didaur ulang. “Kami bahkan telah menerapkan zero waste dalam setiap proyek properti kami, dan kami telah melakukan semua hal tersebut sejak awal kami berdiri,” ujarnya.

Bukan hanya menerapkan gaya hidup berkesinambungan, OXO juga merangkul komunitas disabilitas lokal guna mendukung usaha mereka. 

“Ini adalah sesuatu yang selalu kami lakukan, yaitu memberi dampak kepada komunitas lokal. Melalui pemberdayaan komunitas disabilitas sebagai pendukung usaha OXO, kami mencoba membantu mereka untuk bisa lebih mandiri dan kreatif,” ucap Johannes.

 

Pariwisata Bali Mulai Pulih

Dalam kesempatan berbeda, Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menuturkan selama empat tahun terakhir yakni mulai dari tahun 2020 hingga 2023 terdapat sebanyak 1.591 kamar hotel di Bali menghilang akibat adanya penutupan sejumlah hotel. Namun demikian, dalam kurun waktu yang sama sejumlah 817 kamar hotel juga memasuki pasar.

“Ada yang kemudian buka kembali baik dengan manajemen yang sama ataupun dengan manajemen yang baru, namun tidak sedikit pula yang berhenti beroperasi sepenuhnya. Turunnya pasokan kamar hotel membuat daya saing antar hotel yang ada di Bali kian meningkat,” tuturnya. 

Meskipun minim pasokan, namun para investor masih ada proyek pekerjaan hotel di Bali. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan minat investor yang berkelanjutan. Colliers mencatat sepanjang tahun 2023, hanya ada satu hotel yang rampung di Bali yakni Horison Ume Suites & Villa Ubud.

Menurutnya, sejak awal 2022 kunjungan wisatawan baik domestik maupun asing terus meningkat. Di awal tahun 2023, pasar perhotelan di Bali kembali menggeliat pasca berakhirnya pandemi Covid-19. Salah satu penyumbang terbesar untuk kehidupan sektor perhotelan di Bali berasal dari kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Biasanya tingkat kunjungan wisatawan akan meningkat menjelang libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru. Kunjungan wisatawan dari luar negeri masih didominasi berasal dari Australia. 

“Tingkat keterisian dan harga terus membaik dalam 2 tahun terakhir. Banyak kegiatan MICE baik dari pemerintah maupun korporasi diselenggarakan di Bali,” katanya. 

Ferry optimistis industri perhotelan di Bali akan berangsur-angsur membaik seperti sebelum pandemi berlangsung. Adapun akan hadir 4 hotel baru di Bali hingga tahun 2027 mendatang. Keempat hotel tersebut Holiday Inn Express Hotel Sunset Bali sebanyak 72 unit kamar, Vasa Hotel Ubud 120 kamar, The Luxury Collection Jimbaran 75 kamar, Kimpton Resort Nusa Dua 50 unit kamar.

“Bila tingkat kunjungan wisatawan terus meningkat, maka kinerja pasar perhotelan di Bali akan kembali ke posisi sebelum terjadinya pandemi Covid-19,” ujarnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.