Ekspansi Trengginas Manufaktur Merespons Pelonggaran Berlanjut

Menurut data terkini PMI IHS Markit, pelonggaran lebih lanjut pada pembatasan Covid-19 memungkinkan sektor manufaktur Indonesia bertumbuh pada laju rekor survei pada Oktober.

Moh. Fatkhul Maskur

1 Nov 2021 - 14.22
A-
A+
Ekspansi Trengginas Manufaktur Merespons Pelonggaran Berlanjut

Emiten perunggasan PT Widodo Makmur Unggas Tbk. (WMUU) meneruskan ekspansi sejumlah pabrik di Pulau Jawa. - foto BisnisIndonesia

Bisnis, JAKARTA - Menurut data terkini PMI IHS Markit, pelonggaran lebih lanjut pada pembatasan Covid-19 memungkinkan sektor manufaktur Indonesia bertumbuh pada laju rekor survei pada Oktober.

Di waktu yang sama, tingkat ketenagakerjaan sedikit naik untuk pertama kali dalam empat bulan, sementara aktivitas pembelian mengalami ekspansi pada laju paling tajam dalam rekor, mengarah pada kenaikan tingkat inventaris input.

Namun, waktu pemenuhan pesanan input terus diperpanjang, sementara tekanan harga juga menguat. Meskipun demikian, kepercayaan diri bisnis secara keseluruhan membaik pada Oktober dengan harapan perbaikan terus berlanjut.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari IHS Markit tercatat di posisi 57,2 pada Oktober, naik dari posisi 52,2 pada September. Angka ini menggambarkan kondisi bisnis yang membaik di seluruh sektor manufaktur Indonesia selama dua bulan berturut-turut. 

Tingkat pertumbuhan merupakan yang tercepat sejak survei dimulai pada April 2011. Yang mendukung kenaikan headline PMI adalah kenaikan tajam pada  pekerjaan baru dan output pada Oktober, yang mana keduanya mengalami ekspansi pada kisaran rekor. 

Bukti anekdotal menunjukkan bahwa perbaikan relatif terjadi pada situasi dalam negeri Covid-19, ditambah dengan pelonggaran pembatasan lebih lanjut, memungkinkan permintaan bertumbuh dan perekonomian pulih. 

“Menurut PMI Manufaktur Indonesia dari IHS Markit, sektor manufaktur Indonesia melihat catatan pertumbuhan paling cepat, yang tercermin pada perbaikan kondisi akibat pelonggaran lebih lanjut pada pembatasan Covid-19," ujar Jingyi Pan, Direktur Asosiasi Ekonomi di IHS Markit, dalam keterangan pers, Senin (1/11/2021)

Kenaikan permintaan dan output juga diterjemahkan menjadi kepercayaan sektor manufaktur yang lebih baik, sebagaimana terlihat pada Indeks Output Masa Depan dan aktivitas pembelian dan perekrutan perusahaan, semua tanda-tanda positif kemajuan sektor. 

Namun, keterbatasan pasokan masih terjadi dengan perusahaan melihat kenaikan tekanan harga dan waktu pemenuhan pesanan lebih lama pada Oktober. Meski bukan hal yang baru bagi Indonesia, hal ini layak untuk diamati apakah permasalahan pasokan akan menghambat pemulihan ekonomi pada bulan-bulan mendatang.

Sementara itu, permintaan asing kembali mengalami kontraksi meski pada kisaran marginal. Melihat permintaan secara keseluruhan menguat, perusahaan 
manufaktur ingin memperluas kapasitas pengoperasian dengan meningkatkan  jumlah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam empat bulan mesti pada kisaran kecil. Sehingga penumpukan pekerjaan naik, meski tingkat pertumbuhan berkurang dibandingkan pada September.

Perusahaan manufaktur juga kembali menaikkan aktivitas pembelian pada bulan Oktober. Baik kuantitas maupun stok pembelian naik pada tingkat rekor.  Sebaliknya, karena kenaikan permintaan dan kekurangan input, tingkat inventaris pasca produksi menurun. 

Dari segi kinerja pemasok, kekurangan pasokan dan permasalahan pengiriman menyebabkan waktu pemenuhan pesanan diperpanjang lagi pada Oktober. Panelis juga mengindikasikan bahwa kondisi permintaan yang lebih kuat memperburuk permasalahan pada Oktober.

Dari segi harga, perusahaan manufaktur Indonesia mencatat kekurangan pasokan menyebabkan harga naik di periode survei terkini. Inflasi harga input naik  pada kisaran tajam dalam delapan tahun, dengan banyak perusahaan menyebutkan kenaikan biaya bahan baku. 

Akibatnya, perusahaan meneruskan beban biaya yang lebih besar kepada konsumen, mengakibatkan kenaikan harga output, meski kisaran kenaikan lebih lambat sejak September.

Sementara itu sentimen bisnis secara keseluruhan membaik pada Oktober, naik ke level di atas rata-rata jangka panjang. Responden survei secara umum berharap bahwa kondisi bisnis akan terus membaik sejalan dengan gangguan Covid-19 terhadap sektor manufaktur berkurang.

Di Jalur Benar

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan performa gemilang sektor industri manufaktur ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan terkait upaya pemulihan ekonomi. 

“Artinya, kebijakan yang ditempuh dalam pengembangan industri di masa pandemi ini sudah berada di jalur yang benar, misalnya pemberian insentif fiskal dan nonfiskal yang dapat menigkatkan permintaan dan mengembalikan utilisasi,” ujar Menteri Perindustrian, Senin (1/11/2021).

Melonjaknya PMI adalah salah satu wujud optimisme yang tinggi dari para pelaku industri manufaktur dalam menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan. Kepercayaan diri dan daya adaptasi industri di masa pandemi terlihat dari bangkitnya kembali PMI manufaktur Indonesia ke level ekspansif sejak November 2020 dan terus menguat hingga Oktober 2021.

Menperin menegaskan, di tengah berbagai tantangan global, kinerja industri manufaktur Indonesia di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo secara keseluruhan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun. Ini terlihat dari kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB yang selalu meningkat dan nilai investasi sektor manufaktur yang selalu bertambah.

Selain itu, kontribusi ekspor yang selalu dominan dalam struktur ekspor nasional, jumlah kontribusi pajak terhadap penerimaan negara, jumlah tenaga kerja yang bertambah, dan resiliensi yang tinggi terhadap gejolak lingkungan termasuk krisis. Ini sekaligus menepis pandangan bahwa tengah terjadi deindustrialisasi di Indonesia.

Capaian PMI manufaktur Indonesia pada Oktober tahun ini melampaui PMI sejumlah negara manufaktur dunia, di antaranya India (55,9), Vietnam (52,1), Jepang (53,2), Rusia (51,6), China (50,6), dan Korea Selatan (50,2).

“Kami yakin kondisi sektor manufaktur yang ekspansif dapat dipertahankan, bahkan meningkat, karena perusahaan industri sudah kembali memacu produktivitas. Hal ini juga diperkuat dengan kondisi kesehatan masyarakat yang makin kondusif,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.