Eksplorasi Sate di Kaki Pencakar Langit Singapura

Ada banyak pilihan wisata kuliner yang bisa kamu jelajahi selama di Singapura. Namun, Lau Pa Sat adalah salah satu lokasi wisata kuliner yang harus kamu kunjungi. Salah satu pengalaman wisata kuliner yang menarik di sana adalah menikmati sate khas Singapura di Satay Steet, sisi barat Lau Pa Sat.

Emanuel Berkah Caesario

25 Okt 2023 - 15.12
A-
A+
Eksplorasi Sate di Kaki Pencakar Langit Singapura

Satay Street Lau Pa Sat, Singapura. Foto: Emanuel B. Caesario

Kami sekali lagi memutuskan untuk berkeliling kota Singapura malam itu, setelah seharian berkutat dengan materi pelatihan jurnalistik bersama Thomson Reuters Foundation dan International Monetary Fund (IMF). Ini hari kedua kursus ini dan otak kami mulai mengepul.

Mayoritas dari kami tak paham seluk beluk kota Singapura. Maklum, kami berasal dari negara-negara Asia Pasifik yang berbeda-beda. Maka, malam itu sekali lagi rekan-rekan kami dari Singapuralah yang menjadi guide. 

Tak perlu mandi, cukup berganti pakaian. Bertemu kembali di titik kumpul sekitar pukul 18.30 waktu Singapura, Gedung CapitaSky, lokasi pelatihan kami di distrik pusat bisnis kota Singapura. Begitu keputusan kami usai kursus, tujuannya agar waktu jalan-jalan keliling kota lebih panjang. 

Saya tidak akan bercerita tentang semua yang kami lakukan malam itu, akan terlalu panjang. Kota Singapura sudah terkenal memikat dengan suasana malam yang menyenangkan, membuat banyak orang Indonesia betah berkunjung beberapa kali.

Saya hanya akan menceritakan pengalaman wisata kuliner kami malam itu, tidak jauh dari lokasi kursus kami tersebut. Jika kamu pertama kali ke Singapura dan belum banyak mengetahui tentang kuliner di Singapura, cerita ini mungkin menarik untuk kamu ikuti sampai akhir.

Kami memang lumayan kelaparan malam itu setelah kursus padat seharian, Selasa, 17 Oktober 2023. Banyak hal yang dipelajari, seperti seluk beluk IMF, bank sentral, mata uang digital, climate finance, kredit karbon, teknik wawancara, dll. Kursus tersebut baru berakhir sekitar pukul 18.00.

Tidak semua peserta bergabung dalam rombongan kami waktu itu, yang lain kelelahan dan memilih istirahat. Lagi pula, keesokan harinya akan ada konferensi pers IMF tentang outlook ekonomi kawasan Asia Pasifik. 

Kami berjalan kaki dari hotel Carlton City menuju CapitaSky. Lokasi kami ini hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari stasiun MRT Tanjong Pagar. Sebagai gambaran, stasiun MRT Tanjong Pagar berjarak kurang dari 1 jam perjalanan MRT dari Bandara Internasional Changi melalui jalur East West Line.

Kami bertemu kembali sekitar pukul 18.30 bersama rekan-rekan kami dari Singapura di CapitaSky. Tujuan pertama kami malam itu adalah menikmati kuliner legendaris Singapura di Lau Pa Sat. 

Suasana malam di Satay Street Lau La Sat, Singapura.


Jika kamu mencari Lau Pa Sat di Google Map, akan muncul keterangan tentang lokasi ini, yakni ‘pasar makanan restorasi bergaya Victoria’. Ya, arsitektur bangunannya memang tampak kontras dibandingkan dengan gedung-gedung bertingkat modern yang mengelilinginya.

Secara harfiah, Lau Pa Sat memiliki arti pasar tua dalam Bahasa Hokian. Dulunya ini adalah pasar ikan di era kolonial, tetapi telah beralih menjadi pusat kuliner tertua di Singapura. Lau Pa Sat juga dikenal dengan sebutan Pasar Telok Anyer dan telah ada sejak abad ke-19.

Lokasinya kurang dari 10 menit berjalan kaki dari CapitaSky. Ada banyak pilihan makanan di Lau Pa Sat, tetapi malam itu kami tertarik menjajaki sate atau satay.

Ada yang berbeda tentang sate di Lau Pa Sat. Ketika kami tiba, Boon Tat Street di sisi barat Lau Pa Sat masih ramai dipenuhi kendaraan yang melintas. 

Namun, rekan kami dari Singapura menjelaskan bahwa sebentar lagi, tepat pukul 19.00, jalan itu akan ditutup dan dialihfungsikan menjadi lokasi kuliner sate. Itulah Jalan Sate atau Satay Street Lau Pa Sat. 

Di sepanjang trotoar barat Lau Pa Sat memang dipenuhi oleh beberapa kedai sate, tepatnya ada 9 kedai. Ketika jalan tersebut masih beroperasi, tukang sate tampak mulai mempersiapkan peralatan mereka, membakar arang, menjajakan berbagai sate mentah dan bumbu yang siap dipanggang.

Sementara itu, di sisi seberangnya, kami bersama sejumlah pengunjung lainnya sudah bersiap-siap menanti jalan ditutup. Kami pun mulai ditawari oleh beberapa pramusaji dari kedai-kedai tersebut untuk mencoba menu sate mereka.

Kami memilih menu sate yang ditawari oleh salah satu pramusaji di Satay Street Lau Pa Sat, Singapura.


Ada banyak pilihan sate yang mereka tawarkan. Tukang sate pinggir jalan di Indonesia biasanya hanya menawarkan pilihan sate ayam atau kambing. Pilihan lainnya ya Sate Padang. Di Satay Street, pilihannya lebih bervariasi. Ada sate ayam, sapi, domba, babat, udang, cumi-cumi, dll.

Benar saja. Tepat pukul 19.00, ada petugas yang bergegas menutup jalan tersebut. Ini salah satu daya tarik wisata kuliner ini, melihat sibuknya tukang sate mempersiapkan meja-meja untuk pelanggan mereka begitu jalan tersebut ditutup. Seketika calon pelanggan pun mulai tumpah ruah di jalan menanti mejanya siap.

Saya mendekati salah satu pemilik kedai sate di sana. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Sheikh. Kedai sate miliknya bernama Satay Al, tepat di ujung jalan tersebut yang berbatasan dengan Robinson Road.

Dia menjelaskan bahwa di hari biasa, jalan tersebut akan ditutup mulai pukul 19.00 hingga 03.00 pagi, sedangkan di akhir pekan dan hari libur akan ditutup sejak 15.00 hingga 03.00. Baik di hari biasa maupun hari libur, Satay Street selalu ramai pengunjung, baik oleh turis lokal maupun asing.

Dia tidak khawatir dengan persaingan antara sesama pedagang sate di jalan tersebut, sebab mereka memang jarang sepi pengunjung. Tiap kedai pun punya keunikan tersendiri yang menjadi daya saing masing-masing.

“Yang membedakan satu kedai dengan yang lain adalah resepnya, sumber makanannya, gaya marinasinya, dan cara mereka memanggang,” katanya.

Sheikh (baju putih) bersama salah satu pramusajinya di depan kedai Satay Al yang dikelolanya.


Satay Street unik karena menjadi satu-satunya tempat di Singapura yang memberikan pengalaman menikmati sate pinggir jalan, dipanggang di tempat menggunakan arang, dan dihidangkan selagi hangat di area terbuka di antara gedung-gedung pencakar langit.

Sheikh memanggang satenya dengan arang bakau atau mangrove yang diimpor dengan cukup mahal, memberikan aroma yang khas dan melekat kuat pada sate sehingga cita rasa rate di sana unik. 

Di lokasi lain di Singapura, umumnya sate dipanggang dengan pemanggang elektronik. Jelas rasanya beda. Lokasinya pun di dalam ruangan, sehingga pengalaman yang diberikan pun berbeda.

Kamu bisa membeli sate di Lau Pa Sat dengan macam-macam pilihan, bisa membeli sate tertentu dalam satu atau beberapa porsi, atau membeli paketan yang terdiri atas beberapa jenis sate dijadikan satu. 

Bagaimana dengan harga? Standar harga barang-barang di Singapura memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia, tidak terkecuali bagi sate. Sebagai contoh, di menu Captain Satay yang kami pesan, porsi medium untuk 5-6 orang harganya S$130. Belum termasuk ketupat nasi.

Jika dirupiahkan dengan kurs Rp11.500 per dolar Singapura, nilainya setara dengan hampir Rp1,5 juta. Di Indonesia, dengan harga itu, saya bisa mentraktir satu divisi kecil di kantor saya dengan Sate Madura pinggir jalan.

Bagaimana dengan rasa? Ya, sulit mendeskripsikan rasa, bukan? Sate yang kami pesan memberikan beberapa pilihan bumbu pelengkap, seperti bumbu kacang dan kecap. Ada tambahan rempah yang membuat rasanya lebih kuat, sedikit berbeda dibanding bumbu sate pinggir jalan di Indonesia.

Selain itu, satenya sendiri sudah dimarinasi dengan bumbu yang meresap cukup baik, dengan cita rasa manis, asam, asin, gurih, dan sedikit pedas. Kualitas panggangan juga baik, matang sempurna tanpa terlihat hangus. 

Kami, beberapa jurnalis dari Asia Tenggara, berfoto bersama dengan hidangan sate Singapura di Satay Street Lau Pa Sat. Urutan wajah dari kiri: Bounheng Southichak (Laos), Dumrongkiat Mala (Thailand), Kang Sothear (Kamboja), Niam Seet Wei (Malaysia), Thanh Hien Nguyen (Vietnam), Taufiq Zalidan (Singapura), Emanuel Caesario (Indonesia), dan Massita Admad (Singapura).

 

Saat itu kami semua ditraktir oleh salah satu teman kami dari media lokal di Singapura, yakni Taufiq Zalidan. Dia juga sempat mencoba sate di Indonesia. Menurutnya, perbedaan antara sate Singapura dan Indonesia yakni sate di Singapura memiliki bumbu yang lebih kuat, sedangkan sate Indonesia cenderung lebih manis. Ya, saya setuju.

Sate tampaknya bukan makanan yang asing bagi masyarakat Asia Tenggara atau Asean. Meskipun beberapa rekan media dari negara Asean lain kebingungan ketika pertama kali mendengar sate, mereka pada akhirnya menyukainya juga. 

Dua rekan wartawan dari Laos dan Thailand, justru mengatakan bahwa mereka juga memiliki sate di negara mereka. Di Laos, mereka menyebutnya sate, sedangkan Thailand satay. Bounheng Southichak dari Laos mengatakan bahwa hampir tidak ada perbedaan berarti antara sate Singapura dengan Laos.

“Namun, saya rasanya lebih suka sate Singapura. Menurut saya ini salah satu makanan lokal yang harus kamu coba ketika datang ke Singapura. Bukan hanya soal rasa, tetapi atmosfernya, cara orang berkumpul, juga menyenangkan. Saya berikan bintang 4,5 [dari skala 5] untuk sate Singapura,” katanya.

Kami menikmati menu sate yang disajikan oleh salah satu kedai sate di Satay Street Lau Pa Sat, Singapura.


Di Thailand, sate umumnya menggunakan daging babi. Bumbunya juga tak kalah kuat, tetapi memiliki warna kuning cerah. Sate Singapura justru lebih gelap atau kehitam-hitaman. “Ini pengalaman baru bagi saya, rasanya juga enak,” ungkap Dumrongkiat Mala, wartawan asal Thailand.

Kedua teman saya itu juga memesan beberapa makanan tambahan dari kedai non-sate di Lau Pa Sat. Ada banyak pilihan kuliner lain di gedung utamanya, meskipun khusus di pinggir Jalan Sate ini isinya ya sate semua. Jadi, kamu tak perlu khawatir jika memang ingin mencoba makanan lain di sana. 

Malam itu hari biasa, tetapi suasana Lau Pa Sat dan Satay Street ramai seolah akhir pekan. Entah bagaimana kondisinya ketika akhir pekan. Sayangnya, waktunya tak lama di Singapura. 

Perbandingan kondisi Satay Street ketika masih dibuka untuk kendaraan (kiri) dengan setelah ditutup untuk menjadi lokasi wisata kuliner sate.


Kami kenyang dan puas dengan santapan di Satay Street, cukup untuk menambah energi demi melanjutkan jalan-jalan malam kami berkeliling Singapura. Banyak hal menarik di negara kecil ini yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.