Ekspor Manufaktur Mendominasi, Laju Kenaikannya Lebih Lambat

Sektor manufaktur masih tetap mendominasi kontribusi ekspor nasional sepanjang Januari-Oktober 2021. Akan tetapi, laju kenaikannya relatif lambat. Isu bahan baku masih mengadang di tengah permintaan yang makin kencang.

Moh. Fatkhul Maskur

16 Nov 2021 - 13.55
A-
A+
Ekspor Manufaktur Mendominasi, Laju Kenaikannya Lebih Lambat

Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis, JAKARTA - Sektor manufaktur masih tetap mendominasi kontribusi ekspor nasional sepanjang Januari-Oktober 2021. Akan tetapi, laju kenaikannya relatif lambat. Isu bahan baku masih mengadang di tengah permintaan yang makin kencang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor sebesar US$143,76 miliar sepanjang Januari-Oktober 2021, meningkat 35,53% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$106,08 miliar. 

Sektor industri memberikan kontribusi paling besar hingga 77,16% dari total nilai ekspor nasional selama delapan bulan tahun ini yang mencapai US$186,32 miliar.

“Sektor industri manufaktur masih konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional. Artinya, sektor industri masih punya tingkat resiliensi yang tinggi terhadap berbagai tentangan global, termasuk dampak pandemi Covid-19,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (15/11/2021).

Sektor industri manufaktur memiliki peranan penting terhadap pembentukan struktur neraca perdagangan nasional. Pada Januari-Oktober 2021, neraca perdagangan sektor industri pengolahan menunjukkan surplus sebesar US$26,33 miliar.

“Melihat kinerja ini, saya kira tidak lepas dari peran serta seluruh pihak yang bahu membahu dalam penanganan pandemi Covid-19. Sehingga kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia dapat berangsur membaik, saya mendapat laporan bahwa order-order dari luar negeri makin kencang ke Indonesia,” ungkapnya. 

Ini terlihat ada beberapa sektor industri yang mengalami kenaikan ekspor, misalnya industri otomotif yang ekspor CBU-nya naik 30%, kemudian industri elektronika rumah tangga yang naik dua kali lipat ekspornya. 

Merujuk data BPS, nilai ekspor industri pengolahan pada Oktober 2021 mencapai US$16,07 miliar dan memberikan kontribusi sebesar 72,94% dari total nilai ekspor di bulan kesepuluh tahun ini yang mencapai US$22,03 miliar. 

Nilai ekspor industri pengolahan pada Oktober 2021 naik 3,61% dibanding September 2021, dan meningkat 36,50% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pangsa pasar utama eskpor nonmigas Indonesia di antaranya China, Amerika Serikat, Jepang, dan India. Pada Oktober 2021, pangsa ekspor Indonesia ke Asean sebesar US$3,55 miliar dan ke Uni Eropa sebesar US$1,54 miliar.

Sementara itu, BPS mencatat total nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2021 tercatat mencapai US$186,32 miliar atau tumbuh 41,8% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Pertumbuhan ekspor secara keseluruhan ini lebih kencang ketimbang laju pengapalan dari subsektor manufaktur. 

Adapun nilai impor secara keseluruhan pada periode Januari hingga Oktober 2021 mencapai US$155,51 miliar, meningkat 35,86 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

BPS mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$30,81 miliar secara kumulatif atau mulai Januari hingga Oktober 2021. 

TANTANG BAHAN BAKU

Kenaikan ekspor sektor manufaktur ini sejalan dengan kenaikan purchasing managers' index (PMI) manufaktur ke level tertinggi sejak 2011, di tengah belitan isu kesulitan pasokan bahan baku.

Berdasarkan IHS Markit, PMI manufaktur Indonesia melonjak dari 52,2 menjadi 57,2 pada Oktober 2021. Capaian ini melampaui sejumlah negara manufaktur dunia, di antaranya India (55,9), Vietnam (52,1), Jepang (53,2), Rusia (51,6), China (50,6), dan Korea Selatan (50,2).

Akan tetapi, IHS Markit juga melaporkan dari segi kinerja pemasok, kekurangan pasokan dan masalah pengiriman menyebabkan waktu pemenuhan pesanan yang diperpanjang. Kondisi permintaan yang lebih kuat memperburuk permasalahan ini pada bulan lalu.

Dari segi harga, perusahaan manufaktur Indonesia mencatat kekurangan pasokan menyebabkan kenaikan harga. Inflasi harga input naik pada kisaran tajam dalam delapan tahun, dengan banyak perusahaan menyebutkan kenaikan biaya bahan baku.

"Akibatnya, perusahaan meneruskan beban biaya yang lebih besar kepada konsumen, mengakibatkan kenaikan harga output, meski kisaran kenaikan lebih lambat sejak September," tulis IHS Markit dalam laporannya, Senin (1/11/2021).

Jingyi Pan, Direktur Asosiasi Ekonomi di IHS Markit, mengatakan keterbatasan pasokan masih mengakibatkan tekanan harga dan pemenuhan pesanan bagi perusahaan. "Meski bukan hal yang baru, hal ini layak untuk diamati apakah masalah pasokan akan menghambat pemulihan ekonomi pada bulan-bulan mendatang." 

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Organik (Akida) Michael Susanto Pardi mengatakan pada Oktober, harga komoditas dunia naik secara ekstrem sehingga menghambat pemulihan industri. "Kenaikan harga bisa 50%—100% dalam satu bulan ini."

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho memperingatkan pemerintah dan pelaku industri untuk mewaspadai tantangan tersebut di tengah pemulihan kinerja manufaktur. "Saya rasa jangan terlena terkait perbaikan ini, kita perlu terus waspada."

DAYA SAING

Menperin Agus bertekad mewujudkan sektor industri nasional yang mandiri, berdaulat, maju, dan berdaya saing global. Hal ini sejalan dengan target besar dari peta jalan Making Indonesia 4.0, yakni menjadikan Indonesia masuk jajaran 10 besar negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

Dalam kerangka pembangunan industri yang mandiri dan berdaulat, Kemenperin terus mendorong optimalisasi beberapa program, di antaranya program substitusi impor 35% tahun 2022, program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), dan hilirisasi sumber daya alam.

Selanjutnya, upaya mewujudkan industri yang maju dan berdaya saing dilakukan melalui empat program. Pertama, program Making Indonesia 4.0. Kedua, program industri hijau dan industri biru. Ketiga, program stimulus produksi dan daya beli. Keempat, implementasi non-tarrif barrier.

“Kemudian kebijakan atau program yang mengarah pada upaya mewujudkan industri yang berkeadilan dan inklusif di antaranyaadalah implementasi harga gas bumi tertentu.Selain itu, program pengembangan industri kecil dan menengah (IKM)sertaBangga Buatan Indonesia (BBI), pembangunan kawasan industri di luar Pulau Jawa, serta program industri halal,” pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.