Ekspor Perdana Kopi Sunda Hejo ke Prancis Capai Rp1 Miliar

Nilai ekspor kopi asal Kecamatan Cimaung, yang sudah berskala internasional tersebut ke Prancis sebesar US$70.380 atau sekitar Rp1 miliar.

Redaksi

1 Nov 2021 - 18.53
A-
A+
Ekspor Perdana Kopi Sunda Hejo ke Prancis Capai Rp1 Miliar

Petani memetik biji kopi arabika di perkebunan kopi kawasan Kampung Batu Lonceng, Desa Suntenjaya Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. /Bisnis.com

Bisnis, BANDUNG — Sempat terkendala kelangkaan kontainer, Pemerintah Kabupaten Bandung bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Barat akhirnya bisa melepas 19,5 ton Kopi Sunda Hejo dari Koperasi Klasik Beans ke Prancis.

Nilai ekspor kopi asal Kecamatan Cimaung, yang sudah berskala internasional tersebut ke Prancis sebesar US$70.380 atau sekitar Rp1 miliar.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kadin Jabar, Indriyani menyebutkan bahwa pengiriman kopi tersebut merupakan ekspor pertama pada tahun ini.

“Sebetulnya ekspor ini harusnya dilaksanakan per bulan September kemarin. Karena ada kelangkaan kontainer, jadi mundur terus dan baru per hari ini kita dapat jadwal dan kontainernya,” katanya, Senin (1/11/2021).

Dia mengungkapkan bahwa meskipun menemui sejumlah kendala, permintaan ekspor kopi pada tahun ini ke sejumlah negara seperti di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia mengalami peningkatan.

“Sebetulnya, tahun kemarin juga Kadin Jabar melakukan ekspor, tetapi di tahun ini akan ada peningkatan, yakni sekitar 2 kontainer lagi yang berangkat,” tuturnya.

Dia menjelaskan Sunda Hejo merupakan Koperasi Klasik Beans yang memiliki sertifikasi organik. Sebanyak 80% kopi yang dihasilkan diperuntukkan bagi pasar lokal dan 20% untuk kebutuhan ekspor.

“Mudah-mudahan sinergitas yang terjalin antara Kadin Jabar dan pemerintah daerah dapat sama-sama meningkatkan perekonomian rakyat Jawa Barat, sesuai dengan program pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional,” kata Indriyani.

Kopi Sunda Hejo dari Koperasi Klasik Beans/Istimewa

Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengungkapkan bahwa kualitas kopi Kabupaten Bandung rata-rata dengan skor speciality mencapai lebih dari 80 poin.

“Ini terbukti pada April 2016 lalu, kopi Gunung Puntang asal Kecamatan Cimaung juga menjadi juara dalam Specialty Coffee Association of America Expo di Atlanta Amerika Serikat,” terang bupati yang akrab disapa Kang DS itu.

Pada 2020, imbuhnya, ekspor kopi dari Kabupaten Bandung mencapai US$1.64 juta, dengan negara tujuan Australia, Belgia, China, Latvia, Qatar, Singapura, Turki, dan AS.

Kang DS berpendapat, selain memiliki banyak varian kopi dengan cita rasa khas, suburnya perkebunan kopi di beberapa wilayah, mulai dari Kecamatan Cimenyan, Cilengkrang, Cicalengka, Nagreg, Ibun, Kertasari, Pangalengan, Cimaung, Pasirjambu, Rancabali, Ciwidey, Pacet, Soreang, Ciparay hingga Arjasari, menjadikan Kabupaten Bandung layak menyandang titel Pusat Kopi Indonesia.

Tak sampai di sana, pihaknya juga menggandeng akademisi dan pengusaha kopi untuk mengembangkan para petani kopi dengan melakukan pembinaan pembibitan, pengelolaan pola tanam, hasil panen, pengemasan produk hingga pemasaran kopi.

Lebih jauh, dia menuturkan bahwa ekspor kopi merupakan salah satu upaya dalam mendukung program pemerintah melalui peningkatan pertumbuhan ekspor barang nonmigas serta pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19.

“Salah satu kunci untuk memperbaiki perekonomian nasional adalah peningkatan ekspor. Bukan hanya membantu para pelaku usaha untuk tumbuh dan membuka lapangan kerja, tetapi juga untuk menghasilkan devisa dan mengurangi defisit transaksi. Jadi kita harus lebih jeli, melihat peluang pasar ekspor yang masih terbuka lebar di negara-negara lain,” ucapnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Bandung itu juga berharap agar Kadin Jabar dapat menjadi market agent sekaligus melakukan marketing intelligence, serta mendorong percepatan negosiasi perjanjian kemitraan dengan negara-negara tujuan ekspor.

“Kami berharap, perjanjian perdagangan yang sudah ada bisa segera dioptimalkan. Tentunya sambil terus mencari pasar-pasar baru di negara-negara nontradisional, sehingga pasar ekspor kita makin luas. Kadin juga dapat menggandeng UMKM Kabupaten Bandung untuk memenuhi permintaan pasar,” tuturnya. 

Sebagaimana diketahui, ekspor kopi Indonesia cukup menantang setidaknya sampai akhir tahun ini, mengingat sejumlah hambatan masih membayangi terutama dari sisi logistik.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah dalam kode HS 09 pada periode Januari—Juli 2021 mengalami penurunan dari sisi volume. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, volume ekspor turun menjadi 293.184 ton dari sebelumnya 302.905  ton.

Namun, dari sisi nilai, ekspor kopi terkerek harga yang sedang naik di pasar global, dari US$748,6 juta menjadi US$756,2 juta. Kenaikannya tercatat tipis 1,02%.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa volume ekspor komoditas kopi sepanjang 2019 berjumlah 359.093 ton, naik dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2018 yang berjumlah 279.960 ton. Sementara pada 2020, ekspor menembus 379.353  ton. (k34)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.