EKSPRESI: Anwar Ibrahim Antitesis Elit di Indonesia?

Semangat Anwar dalam memerangi korupsi dapat dikatakan kontras dengan kondisi di Indonesia. Gaung anti korupsi yang disuarakan oleh elit, baik di pemerintah dan partai politik, semakin menjauh.

Hendri T. Asworo

14 Jan 2023 - 08.40
A-
A+
EKSPRESI: Anwar Ibrahim Antitesis Elit di Indonesia?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim berkeliling Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (9/1/2023)

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim tampil memukau saat memberikan ‘kuliah umum’ pada CT Corp Leadership Forum, Senin (9/1). Acara yang mayoritas dihadiri para elit di Tanah Air itu ‘hujan’ aplaus.

Tampak hadir jajaran menteri kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Prabowo Subianto dan Zulkifli Hasan duduk di baris depan, sejajar dengan kursi Anwar Ibrahim Cs. Sandiaga Salahudin Uno, Basuki Hadimuljono, dan Teten Masduki duduk di baris kedua.

Para bekas menteri terlihat menjejali bangku baris kedua ballroom Menara Bank Mega. Mulai dari Hatta Rajasa, Yusri Ihza Mahendra, Agung Laksono, Bachtiar Chamsah, sampai AM Hendropriyono.

Veteran TNI, Gatot Nurmantyo dan Sutiyoso hingga kalangan eksekutif, seperti Dirut PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Royke Tumilaar dan Deputy Country Director ADB Said Zaidansyah, ikut meramaikan forum itu.

Chairul Tanjung, Chairman CT Corp, terjun langsung memandu acara tersebut. Konglomerat bekas menteri era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono itu karib Anwar Ibrahim. Baik di kala susah dan senang. Begitu kata Anwar yang berusia 75 tahun itu.

Anwar Ibrahim memiliki sejarah panjang di Indonesia. Bermula saat mengikuti pengkaderan Himpunan Mahasiswa Islam pada 1967 di Pekalongan, Jawa Tengah. Mentornya kebanyakan sudah berpulang, seperti Nurcholish Madjid, Fahmi Idris, hingga Mar’ie Muhammad.

Selama di Jawa, Nelson Mandela dari Asia Tenggara itu, tidak hanya belajar agama. Jiwa perlawanannya tumbuh seiring dengan kegemaran membaca buku karya tokoh bangsa. Dari Soekarno, Mohammad Hatta, M. Natsir, Sutan Syahrir hingga Soedjatmoko.

Benih perlawanan itu dibawa ke negaranya. Hingga berakhir di jeruji penjara. Untuk pertama kalinya pada 1974. Buah dari gerakan unjuk rasa di bawah komandonya. Menentang potret kemiskinan dan kelaparan yang melanda Malaysia.

Pada tahun yang sama, di Jakarta, Fahmi Idris Cs melakukan demonstrasi yang berujung rusuh. Aksi itu dikenal dengan Malari—Malapetaka Lima Belas Januari. Unjuk rasa memprotes dominasi investasi Jepang dengan membakar kendaraan asal Negeri Samurai.

Jiwa perlawanannya menarik perhatian Mahathir Mohamad. Selepas dari hotel prodeo, Anwar ditawari masuk UMNO. Partai penyokong Mahathir menduduki kursi PM Malaysia pada 1981.

Karier Anwar melejit. Hingga ditetapkan menjadi Menteri Keuangan pada 1991 dan Wakil PM pada 1993. Bahkan, dia sempat dipercaya menjadi interim PM Malaysia. Namun, posisi itu tidak digenggam lama.

Langkah Anwar melakukan reformasi pemerintahan serta membongkar praktik KKN di UMNO berujung bui. Mahathir balik menjegalnya dengan tuduhan korupsi. Anwar pun keluar masuk penjara dengan dakwaan korupsi sampai asusila. Hampir 15 tahun perjalanan hidupnya dihabiskan di jeruji besi.

***

Selepas dari penjara, jiwa perlawanan pada korupsi pantang surut. Sampai terpilih menjadi PM Malaysia pada 24 November 2022, tekad Anwar untuk memerangi korupsi masih menyala.

Pada CT Corp Leadership Forum, Chairul Tanjung mempertanyakan arah kebijakan Anwar setelah terpilih menjadi PM Malaysia. Pria yang memiliki enam anak itu berujar bahwa pemberantasan korupsi akan menjadi fokus utama pemerintahannya.

“Saya ingin membersihkan rasuah dan penyelewengan. Saya ingin menjadi pemimpin Melayu, Islam, dari Malaysia yang ikhlas membela rakyat secara adil dan demokratis,” ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan audien.

Dalam forum itu, masalah akuntabilitas pemerintahan menjadi fokus utama ceramah Anwar. Dia menyindir bahwa kemajuan suatu negara tidak ditentukan seberapa besar keberhasilan dalam menggelar pesta demokrasi.

Melainkan akuntabilitas dalam proses menjalankan pemilihan hingga tata kelola pemerintahan. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh ilmuwan politik Amerika Francis Fukuyama dalam The End of History and the Last Man (1992).

“Itu tidak ditentukan pada kemewahan demokrasi, tetapi nilai moral tentang akuntabilitas. Apakah benar dalam memperoleh tampuk kekuasaan itu mendapat dukungan dari rakyat dengan cara dan etika yang benar. Ketika sudah ada kuasa apakah jujur dalam melaksanakan amanah itu,” kata Anwar.

Pada bagian lain, Anwar menyampaikan bahwa seorang pemimpin harus tawadu atau rendah diri. Humility orang barat menyebut tawadu. Humility harus menjadi dasar bagi pemimpin yang membidangi di luar kemampuannya.

Anwar pun mengutip puisi karangan penyair TS Elliot yang berjudul Four Quartets untuk menggambarkan sifat tawadu itu.

“Seperti pusisi TS Elliot, the only wisdom we can hope to acquire. Is the wisdom of humility: humility is endless, kalau ada satu-satunya hikmah yang mungkin kita kuasai atau garap adalah merendah diri, humility, atau tawadu karena hikmah tawadu itu tidak ada batasnya.”

Dalam hal ini, seorang pemimpin perlu bertanya kepada ahlinya bila tidak mengetahui bidang yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya, bersifat angkuh atau arogan karena merasa berhasil dalam menjalankan roda organisasi di pemerintahan, partai politik, maupun bisnis.

Pemimpin pun, sambung Anwar, sebaiknya tidak terlena dengan pujian, karena itu menjadi pertanda bahwa mereka tidak bijak lagi dalam mengambil keputusan.

Poin lainnya, pemimpin harus adil dalam segala bidang. Anwar menyatakan tidak anti terhadap modal asing atau penguasaan ekonomi oleh konglomerat. Namun, dia menentang pembagian kue ekonomi yang ditentukan oleh konglomerat.

Apabila tidak ada keadilan ekonomi, akibatnya kesenjangan semakin melebar. “Objektif pimpinan adalah keadilan sosial. Kalau kesenjangan semakin lebar, kaya dan miskin itu tidak ideal.”

***

Semangat Anwar dalam memerangi korupsi dapat dikatakan kontras dengan kondisi di Indonesia. Gaung anti korupsi yang disuarakan oleh elit, baik di pemerintah dan partai politik, semakin menjauh.

Ungkapan menolak terhadap praktik korupsi seolah-olah tabu. Ada elit yang menentang operasi tangkap tangan oleh aparat. Ada elit partai yang menangisi kadernya mengenang success story. Terkesan lupa atas kariernya yang berujung bui karena rasuah.

Kemegahan demokrasi Indonesia dielu-elukan sebagai terbesar di seluruh dunia. Menutup mata akan proses pemilihan yang bertabur uang untuk menuju kursi kemenangan.

Para elit tengah menggalang logistik besar-besaran untuk mendapatkan kursi empuk kekuasaan. Salah satu kawan sembari membawa map proposal berujar bahwa membawa misi kepala daerah untuk mendapatkan utang dari ke lembaga keuangan pemerintah dengan menggadaikan APBD ke depan.

Semua jalan ditempuh untuk memoles citra mendapatkan kekuasaan. Apakah Anda sepakat bila Anwar Ibrahim adalah antitesis elit di Indonesia?

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.