Free

EKSPRESI: Putin, KTT Bali, dan Kurusetra

Saatnya pemerintah Indonesia membuktikan diri menjadi tuan rumah yang baik dan bisa bersikap bijaksana terhadap para pihak yang saling bertikai.

Yusuf Waluyo Jati

12 Nov 2022 - 09.26
A-
A+
EKSPRESI: Putin, KTT Bali, dan Kurusetra

Bendera negara anggota G20/Dok. G20.org

Dalam sebuah perbincangan di kanal Youtube yang diunggah pada 28 Oktober 2022, Connie Rahakundini Bakrie, analis militer dan intelijen, mengutarakan spekulasinya bahwa Presiden Rusia Vladimir tidak akan menghadiri perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali, 15—16 November, pekan depan.

Meski tidak datang, katanya, Putin tetap akan mengirimkan utusan yang dipercayainya untuk hadir. Connie menganalisis ketidakhadiran Putin sama sekali bukan bermaksud untuk tidak menghormati Indonesia.

Justru Putin sangat menjaga Presidensi G20 Indonesia lancar sekaligus menghormati Presiden Joko Widodo sebagai tuan rumah.

“Bayangkan saja dalam suatu pesta. Kalau kita datang, jelas-jelas bikin orang-orang [sebagian besar di pesta itu] tidak nyaman, mending kita tidak usah datang,” kata Connie, dalam diskusi itu melalui sambungan telepon dengan Helmy Yahya.

Selang hampir setengah bulan usai diskusi, pernyataan Connie terbukti. Pada 10 November, media internasional ramai memberitakan bahwa Putin dipastikan batal menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali.

Media internasional mulai membeberikan alasan rencana ketidakhadiran Putin di KTT Bali. Alasan batalnya Putin menghadiri G20 makin terkuak karena faktor keamanan, termasuk adanya risiko pembunuhan terhadap dirinya yang diduga bisa dilakukan oleh agen rahasia Amerika Serikat, Inggris dan Ukraina.

Sosok Putin begitu disorot karena menjadi tokoh paling kontroversial tahun ini setelah kebijakannya menyerang Ukraina pada 24 Februari 2022 dikutuk oleh banyak negara di dunia. Barat menyebut tindakan militer Putin tersebut sebagai aneksasi melalui invasi militer.

Namun, Rusia menyebutnya sebagai upaya untuk mempertahankan diri dari kekuasaan Barat melalui NATO yang terus mengembangkan wilayah militernya hingga ke timur, mendekati Rusia.

Connie menyatakan hingga 8 bulan konflik Rusia-Ukraina berkecamuk, tidak ada pihak yang bertekad kuat meredakan ketegangan.

“[Eskalasi konflik militer Rusia-Ukraina] sepertinya semakin meningkat. Tak ada niat mereka [para pihak yang berkonflik] mau mundur,” ucapnya.

Rusia merupakan salah satu dari anggota G20 alias Group of Twenty. G20 sendiri merupakan forum kerja sama multilateral yang terdiri atas 19 negara dan satu kawasan ekonomi yaitu Uni Eropa. G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi dunia, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia.

Tak heran bila titik berat perhelatan G20 selalu pada bidang ekonomi global, seperti reformasi bank dunia dan IMF, perubahan iklim, energi global, demografi dan kependudukan, hingga pangan.

Mengingat demikian besarnya efek ekonomi, perdagangan, kebijakan yang dibuat kelompok ini, serta kekuasaan yang begitu besar, boleh dikata kalaulah kelompok G20 bersabda ke kiri, dunia pun pasti akan ikut bergeser ke arah kiri.

***

Sejak presidensi G20 diserahterimakan dari Italia kepada Indonesia di Roma pada 31 Oktober 2021, krisis geopolitik 2022 dan resesi ekonomi global sama sekali luput dari agenda awal pembahasan.

Pada mulanya, fokus G20 tersita untuk mengurusi berbagai upaya pemulihan ekonomi akibat dampak berantai pandemi Co-vid-19.

Itu pula yang membuat tema G20 yakni Recover Together, Recover Stronger fokusnya lebih tercurah ke urusan pemulihan ekonomi akibat pandemi dan kesehatan. Sementara itu, gambaran umum yang merepresentasikan keadaan dunia paling mutakhir, tema tersebut kurang tajam.

Padahal, situasi geopolitik yang dipicu ketegangan antara Rusia dan Eropa telah berlangsung sebelum Covid-19. Misalnya, Barat kerap menuduh Rusia merusak demokrasi dengan pemenjaraan para aktivis HAM Rusia.

Selain itu, kasak-kusuk Eropa merayu Ukraina untuk menjadi bagian dari aliansi NATO juga sudah ditempuh sejak 2018.

Semua dilakukan Barat sebagai langkah diplomasi konfrontatif setelah Rusia mencaplok Crimea pada 2014, sekaligas terus memanas-manasi Rusia agar terpancing melakukan serangan frontal ke Uni Eropa dan Ukraina.

Memang diakui, sungguh miris melihat instabilitas geopolitik yang terjadi saat ini. Ironisnya, para aktor yang terlibat dalam instabilitas geopolitik itu ada di dalam lingkaran keanggotaan G20. Sebut saja Rusia, China, Turki, Amerika Serikat (AS), Inggris, India.

Jika demikian keadaannya, nasib G20 di Bali bisa dilematis. KTT G20 di Bali bisa menjadi peluang positif sekaligus ancaman negatif bagi citra Indonesia ke depannya. G20 bisa gagal akibat efek dari perang Rusia-Ukraina yang bersinggungan dengan NATO.

Namun, ini sekaligus dapat menjadi peluang luar biasa kalau pemerintah mampu memanfaatkan dan memberikan solusi atas deadlock-nya masalah dunia.

Perang Ukraina-Rusia diakui membuat anggota G20 terpecah. Ukraina adalah medan konfrontasi langsung antara Rusia dan NATO. Turki, misalnya, sudah dikenal sebagai negara yang menjalankan politik dua kaki; menjadi anggota NATO sekaligus sebagai perpanjangan tangan Rusia.

Adapun China, sangat jelas mendukung Rusia, sedangkan India adalah negara oportunis yang mengambil keuntungan ekonomi dari murahnya harga BBM dan gas Rusia. Sikap India ini jelas bertentangan dengan para sekutu Barat dan NATO.

Di dalam G20 sendiri, ada sekitar tujuh negara yang menjadi anggota NATO yaitu AS, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Prancis, Turki. Adapun tiga negara sebagai sekutu dekat NATO yaitu Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Fakta berikutnya adalah beberapa anggota G20 lainnya merupakan himpunan negara yang melawan hegemoni world order.

Barat yang menggabungkan diri dalam BRICS alias Brazil, Russia, India, China, and South Africa. Semuanya adalah anggota G20. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa bahkan menjelang akhir Oktober lalu membawa kabar sepulang dari dari Riyadh, Arab Saudi.

Dia mengatakan bahwa Pangeran Saudi Mohammed bin Salman sangat tertarik bergabung menjadi anggota BRICS. Fyodor A. Lukyanov, Editor-in-Chief Russia in Global Affairs, mengatakan keinginan Saudi untuk bergabung ke dalam BRICS sebagai sesuatu yang luar biasa.

Menurutnya, Arab Saudi—sebuah negara dengan kontrol atas sumber daya material yang signifikan dan kemampuan untuk mengatur harga global—ternyata mampu melakukan perilaku independen dan memilih mitra yang nyaman dan tidak memaksakan serangkaian kondisi dari setiap interaksi.

“Bergabung dengan BRICS menjadi cara yang jauh lebih berharga untuk dapat melawan institusi Barat dan mengurangi risiko interaksi dengan mereka. Misalnya, BRICS membangun secara paralel dari sistem keuangan, ekonomi, dan perdagangan tanpa bergantung pada instrumen yang dikendalikan AS ataupun UE,” ucap Lukyanov.

Bila BRICS dan Arab Saudi masuk ke dalam kelompok anti-Barat, lantas hendak diletakkan di mana posisi Indonesia bersama Meksi-ko dan Argentina? Apakah pura-pura tak memihak Barat ataupun anti-Barat?

Jika melihat manuver Indonesia yang lebih sering merapat ke Beijing, sudah pasti posisi Indonesia sedikit miring ke Rusia dan China.

Mengingat kian rawannya keadaan dunia saat ini terutama konflik dan ketegangan militer di sejumlah wilayah, tidak heran acara KTT G20 bisa berada di ujung tanduk. Bukan karena kelalaian Indonesia melainkan karena para raksasa di G20 sedang bertikai.

Apalagi, sebagian besar anggota G20 adalah aktor atas terjadinya ketegangan geopolitik dan ekonomi saat ini, yang lawan-lawannya juga sama-sama berada di dalam keranjang keanggotaan G20.

Tentu saja, acara yang menyedot dana sangat besar bisa terancam tidak berpengaruh apa-apa di tatanan global kalau Indonesia sebagai tuan rumah dan negara penengah tak berbuat optimal.

Jangan sampai utusan negara-negara G20 malah tawuran sendiri-sendiri di ‘rumah kita’ dan membuka medan politik kurusetra.

Acara yang seharusnya bisa membuat Indonesia ke posisi terpenting di dunia, justru malah hasilnya terbalik menjadi ajang ontran-ontran dua kekuatan besar.

Saatnya pemerintah Indonesia membuktikan diri menjadi tuan rumah yang baik dan bisa bersikap bijaksana terhadap para pihak yang saling bertikai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.