Emas Terkungkung Aksi Ambil Untung

Harga emas pada perdagangan hari ini tak mampu menguat, terbebani aksi ambil untung pelaku pasar. Simak penjelasannya.

Duwi Setiya Ariyanti

15 Nov 2021 - 16.55
A-
A+
Emas Terkungkung Aksi Ambil Untung

Harga emas pada perdagangan hari ini tak mampu menguat, terbebani aksi ambil untung pelaku pasar. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Harga emas tak mampu menunjukkan giginya pada perdagangan hari ini, justru terkungkung aksi ambil untung investor.

Dikutip dari Markets Insider, Senin (15/11/2021) pukul 16:26 WIB, harga emas mencapai US$1.862,12 per troy ounce atau terkoreksi 0,15 persen. Harga emas sempat menyentuh titik tertingginya yakni US$1.867,48 per troy ounce setelah dibuka pada US$1.864,9 per troy ounce.

Tim Analis Monex Investindo Futures mengatakan dalam hasil risetnya bahwa akibat aksi ambil untung investor, harga emas bergerak pada rentang level support US$1.856 per troy ounce hingga US$1.833 per troy ounce.

Lalu, pada level resistance harga emas bergerak pada rentang US$1.868 per troy ounce hingga US$1.889 per troy ounce.

“Harga emas tampak turun di siang hari Senin (15/11/2021), tertekan aksi ambil untung setelah penguatan harga emas di akhir pekan lalu,” katanya.

Adapun, tercatat bahwa harga emas sempat menyentuh titik tertingginya sejak 14 Juni 2021 akibat langkah bank sentral Amerika Serikat. Seperti diketahui, bank sentral Amerika Serikat telah memilih langkah pengetatan kebijakan moneter lebih awal.

Naiknya imbal hasil surat utang pemerintah juga mendorong keluarnya aliran modal dari logam mulia. Di sisi lain, dolar AS menunjukkan penguatan di pasar keuangan sehingga menjadi penghambat bagi harga emas.

“Namun demikian, kekhawatiran terhadap kenaikan tekanan inflasi lebih cepat dari perkiraan berpeluang membantu membatasi penurunan harga emas, yang merupakan lindung nilai jangka panjang yang terbukti terhadap kenaikan harga.”

Dikutip dari Kitco, sejumlah kalangan analis menyebut bahwa potensi penguatan harga emas masih ada. Namun, emas harus mampu melampaui US$1.850 per troy ounce terlebih dahulu.

Inflasi AS yang menyentuh level tertinggi dalam tiga dekade terakhir mendorong investor masuk ke emas sehingga harganya sempat naik hampir 3 persen dalam sepekan.

Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures, Frank Cholly menyebut bahwa perlu bertahun-tahun untuk memperbaiki masalah rantai pasok yang muncul akibat pandemi, stimulus dan permintaan yang tertahan.

“Semuanya karena inflasi. Pasar mulai menerima fakta bahwa inflasi akan bertahan lama,” katanya.

Gerak emas menjadi perhatian ketika berada pada rentang US$1.835 hingga US$1.875 per troy ounce. Adapun, pergerakan di bawah rentang tersebut menjadi penanda berakhirnya reli sedangkan pergerakan di atas rentang itu bisa memacu pergerakan harga emas menuju US$2.000 per troy ounce.

“Di sisi lain, pergerakan mendekati US$1.875 akan memunculkan reli berikutnya ke US$1.900-25. Menurut saya, kita bisa melihat US$2.000 pada akhir tahun ini,” katanya.

Dia menyebut dibandingkan dengan komoditas lainnya, harga emas cenderung bergerak mendatar selama lima bulan terakhir. Menurutnya, emas menantikan suntikan tenaga dari perannya sebagai pelindung inflasi.

Wakil Direktur Walsh Trading, Sean Lusk mengatakan bahwa pergerakan emas menuju US$1.900 per troy ounce begitu jelas. Sementara itu, dia menyebut pergerakan pada level US$1.800 bisa menjadi titik beli bagi investor.

“Kita harus melihat bila bank mencoba masuk dan mencari instrumen lindung nilai. Prospek dalam beberapa bulan pada 2022 bagus. Kami melihat reli akhir tahun berlanjut hingga Januari dan Februari,” katanya.

Kepala Strategi Global TD Securities, Bart Melek menyebut bahwa harga emas bisa bergerak melampaui US$2.000 per troy ounce. Menurutnya, masih ada waktu yang tersisa sebelum bank sentral Amerika Serikat mengumumkan sentimen bernada hawkish.

Saat bank sentral mengumumkan aksi bernada hawkish dan menaikkan suku bunga acuan, harga emas bisa turun. Namun, dia menyebut secara jangka panjang, emas masih mampu memberikan potensi kenaikan harga.

“Bila suku bunga acuan naik 25 basis poin dan inflasi bertahan pada 4,5 persen, itu merupakan kebijakan yang akomodatif,” katanya.

Adapun, pada pekan ini, terdapat beberapa hal yang akan menjadi perhatian pasar. Pada Senin, pasar bakal memperhatikan indeks manufaktur. Kemudian, rilis penjualan ritel dan produksi industri pada Selasa, izin perumahan dan gedung yang dirilis pada Rabu dan klaim pengangguran serta indeks manufaktur bank sentral Philadelphia yang dirilis pada Kamis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.