Emiten Energi Dorong Laju Indeks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik tipis 0,08% atau 5,40 poin ke level 6.683,28 pada akhir perdagangan Rabu (24/11) setelah sempat masuk ke zona merah pada sesi I perdagangan. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.668,05 hingga 6.698,17.

Bisnis Indonesia Resources Center

24 Nov 2021 - 18.06
A-
A+
Emiten Energi Dorong Laju Indeks

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik tipis 0,08% atau 5,40 poin ke level 6.683,28 pada akhir perdagangan Rabu (24/11) setelah sempat masuk ke zona merah pada sesi I perdagangan. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.668,05 hingga 6.698,17.

Adapun sebanyak 231 saham berakhir hijau, 279 saham merah dan 160 saham diperdagangkan stagnan. Kapitalisasi pasar bursa parkir di level Rp8.298,15 triliun pada akhir perdagangan. Sektor energi dorong laju indeks komposit dan parkir di zona hijau. Sektor ini berhasil menguat paling signifikan hingga 0,88%.

Investor asing terpantau mencatatkan aksi beli bersih di seluruh pasar senilai Rp419,20 miliar dan di pasar reguler membukukan net sell sebesar Rp435,88 miliar.

Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) diburu oleh investor asing dengan net buy mencapai Rp58,32 miliar. Mengekor di bawahnya saham PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk. (YULE) yang diburu investor asing senilai Rp49,28 miliar, dan disusul saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) dengan catatan net foreign buy Rp30,34 miliar.

Sementara itu, saham yang paling banyak dilego oleh investor asing adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan net sell Rp129,9 miliar. Selanjutnya saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) juga dilepas oleh investor asing sebesar Rp83,96 miliar.

Pergerakan harga komoditas mewarnai laju IHSG pada Rabu (24/11). Tercatat di pasar komoditas harga minyak mentah dan batu bara berhasil rebound. Salah satunya harga kontrak minyak mentah jenis Brent ditutup menguat 3,27% dan kembali tembus ke atas level US$80/barel. Kemudian bagi komoditas batu bara, pada bulan November diyakini menjadi momen berbalik arah pasca masuk ke fase downtrend sejak awal Oktober 2021

Kemudian dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 akan mencapai 4,7% hingga 5,5%, dari 3,2% hingga 4,0% pada tahun 2021, perkiraan tersebut didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global yang berdampak pada kinerja ekspor yang tetap kuat, serta meningkatnya permintaan domestik dari kenaikan konsumsi dan investasi.

Indeks Bisnis-27

Tak sejalan dengan indeks acuannya IHSG, Indeks Bisnis-27 menutup perdagangan di teritori negatif pada perdagangan Rabu (24/11).

Indeks Bisnis-27 menutup perdagangan dengan koreksi tipis 0,02% atau 0,12 poin menuju level 516,71. Sepanjang perdagangan indeks bergerak di rentang 515,61 hingga tertinggi di level 519,96. Sebanyak 9 saham terpantau menguat, 10 saham melemah dan sisanya 8 saham lainnya tidak bergerak dari posisi sebelumnya alias stagnan.

Saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) memimpin pelemahan Indeks Bisnis-27 dengan tergelincir paling dalam mencapai 4,26% atau 100 poin ke level 2.250. Selanjutnya saham PT Elang Mahkota Teknolgi Tbk. (EMTK) turut melemah 2,49% atau 50 poin ke posisi 1.960 dan berikutnya saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. (INKP) yang juga turun 2,03% atau 175 poin ke posisi 8.425.

Di sisi lain, saham-saham yang masih bertengger di zona hijau dipimpin oleh terapresiasinya saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) sebesar 1,69% atau 100 poin ke posisi 6.000. Selanjutnya saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang juga terpantau naik sebesar 1,67% atau 40 poin menuju 2.440. Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) juga naik 1,60% atau 20 poin ke level 1.270.

Keuangan

Indeks sektor keuangan ditutup naik tipis 0,3% ke level 1.551,95 pada Rabu (24/11).

Saham-saham bank mini menjadi penopangnya, antara lain PT Bank Dinar Indonesia Tbk. (DNAR) melonjak 10,00% ke level Rp286, disusul PT Bank Bumi Arta Tbk. (BNBA) melesat 4,05% ke level Rp3.340 dan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (AGRO) tumbuh 2,96% ke level Rp2.090.

Saham bank mini, Bank Oke (DNAR) mendapat sentimen positif karena sedang dalam proses melakukan rights issue sebanyak-banyaknya Rp499,83 miliar. Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan perusahaan, DNAR berencana menerbitkan saham baru sebanyak Rp2,53 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp197 per saham.

Selain itu, perekonomian Indonesia pada tahun 2022 diprediksi akan lebih tinggi dari tahun ini. Bank Indonesia memproyeksikan akan ada kenaikan hingga 5,5%. proyeksi pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global. Hal ini berdampak pada kinerja ekspor Indonesia yang tetap kuat di 2022.

Properti dan Real Estat

Pada penutupan perdagangan Kamis (24/11) indeks sektor properti dan real estat ditutup menggeliat 0,11% ke level 847,52.

Penguatan ini didorong oleh saham PT Greenwood Sejahtera Tbk. (GWSA) meroket tajam hingga 20,00% ke level Rp240, diikuti PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) menguat 4,26% ke level Rp147 dan PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk. (BBSS) menanjak 3,03% ke level Rp68.

Sektor properti terus membaik menjelang akhir tahun ini dan diprediksi akan terus berlanjut hingga tahun depan. Banyaknya regulasi dan stimulus yang diberikan pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan sektor properti.

Indonesia Property Market Index mencatat pada kuartal III/2021 indeks harga properti hunian mengalami kenaikan sebesar 1,80% secara kuartalan. Adapun secara tahunan, harga properti secara keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 3,24%, di mana harga rumah tapak naik 4,39%, sedangkan harga apartemen turun 2,57%.

Perindustrian

Pada perdagangan Rabu (24/11), sektor perindustrian ditutup melemah 0,61% ke posisi 1.077,86.

Beberapa saham yang terpantau mengalami pelemahan ialah saham PT Tanah Laut Tbk (INDX) anjlok 6,87% ke level Rp122. lalu PT Mulia Industrindo Tbk. (MLIA) drop 6,55% ke level Rp2.140 dan  PT MNC Investama Tbk. (BHIT) merosot 3,51% ke level Rp55.

Sentimen negatif dari masalah logistik global yang belum terurai sampai saat ini berisiko menekan kinerja perdagangan dan ekonomi secara agregat. Pemerintah perlu memetakan produk-produk ekspor yang rentan terimbas situasi ini.

Menurut Center of Economic and Law Studies, gangguan logistik bisa memicu penundaan pengiriman barang, bahkan pembatalan ekspor jika harga terlalu tinggi.

Sementara itu, hasil perhitungan Center of Industry, Trade, and Investment (CITI) Indef juga memperlihatkan bahwa penurunan produktivitas pengapalan global berdampak pada kinerja investasi agregat dan juga perekonomian. Selain itu, produktivitas pengapalan yang turun juga berimbas pada ekspor impor sejumlah sektor.

Teknologi

Sektor teknologi terpantau menjadi sektor yang paling tergerus di IHSG pada Rabu (24/11). Sektor ini melemah 1,43% ke level 9.236,46.

Saham yang memberati di antaranya PT Indosterling Technomedia Tbk. (TECH) anjlok 4,45% ke level Rp6.975, lalu PT Trimegah Karya Pratama Tbk. (UVCR) ambles 3,20% ke level Rp484, dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) jatuh 2,49% ke level Rp1.960.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai perusahaan rintisan unicorn dan decacorn berbasis teknologi digital berpeluang akan meramaikan pasar saham Indonesia ke depannya. Dalam menghadapi banjirnya IPO ini BEI terus menyosialisasikan untuk mencermati perusahaan berdasarkan growth-opportunity.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mempersiapkan pengaturan mengenai Saham dengan Hak Suara Multiple (SHSM) dimana para founder perusahaan tech-companies tersebut dapat mempertahankan visi misi ke depan dalam pengembangan usaha.

Infrastruktur

Kinerja indeks sektor infrastruktur menguat 0,33% ke level 987,87 pada Rabu (24/11).

Penguatan ini ditopang oleh saham PT First Media Tbk. (KBLV) meroket 12,42% ke level Rp860, diikuti PT Link Net Tbk. (LINK) terangkat 4,22% ke level Rp4.450 dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) naik 2,34% ke level Rp3.060.

Sektor infrastruktur melonjak setelah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) diborong asing mencapai Rp14,57 miliar. Sementara itu, PT Link Net Tbk. (LINK) semakin prospektif dalam sepekan emiten ini telah melesat 8,80%. Jika dalam sebulan LINK sudah meningkat 13,81%.

Kinerja PT Link Net Tbk (LINK) semakin prospektif seiring dengan potensi meningkatnya bisnis perseroan akibat ekonomi yang sudah mulai pulih.  Link Net mampu membukukan kinerja yang kuat di Semester I 2021, perseroan berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan menjadi Rp2,1 triliun dari periode sama tahun lalu sebesar Rp1,93 triliun.

Transportasi dan Logistik

Pada penutupan perdagangan Rabu (24/11) indeks sektor transportasi dan logistik minus 0,40% ke level 1.390,12.

Jatuhnya sektor ini diberati oleh saham PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk. (NELY) terperosok 6,57% ke level Rp256, lalu PT Batavia Prosperindo Trans Tbk. (BPTR) ambles 6,54% ke level Rp286 dan PT Eka Sari Lorena Transport Tbk. (LRNA) menyusut 6,31% ke level Rp208.

Mahalnya biaya logistik di Indonesia masih menjadi masalah utama dalam bisnis pengangkutan barang baik darat maupun laut. Untuk menekan biaya logistik, pemerintah melalui Kemenhub telah melakukan upaya merger Pelindo.

Selain itu, Kemenhub juga menerapkan Konsep Hub and Spoke pada pelabuhan-pelabuhan di Indonesia untuk menunjang program Tol Laut dengan harapan distribusi barang dan pengembangan ekonomi di daerah terpencil dan tertinggal bisa lebih optimal.

Energi

Pada penutupan perdagangan Rabu (24/11) indeks sektor energi berhasil melanjutkan penguatannya sebesar 0,88% atau naik ke level 1.058,42.

Penguatan sektoral dipimpin oleh PT Mitra Investindo Tbk (MITI) yang melejit 11,40% ke level Rp254, Lalu saham PT Radiant Utama Interinsco Tbk. (RUIS) melesat 10,68% ke level Rp228 dan saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) naik 6,23% ke level Rp9.800.

Harga komoditas batu bara yang sudah naik 6 hari berturut-turut membuat saham-saham di sektor ini kembali sumringah berada di zona hijau. Tercatat pada perdagangan kemarin pada pukul 15.15 WIB, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 157/ton atau naik 1,95% dibandingkan sehari sebelumnya.

Diketahui, lonjakan harga batu bara terjadi akibat adanya koreksi dalam yang terjadi sebelumnya. Meski enam hari terakhir harga naik lebih dari 21%, tetapi dalam sebulan harga komoditas ini masih membukukan koreksi 9,37% secara point-to-point.

Barang Konsumen Primer

Pada perdagangan Rabu (24/11), indeks sektor barang konsumen primer akhirnya menguat tipis 0,01% di level 705,89.

Saham yang mendorong penguatan ialah PT Central Proteina Prima Tbk. (CPRO) melesat 13,64% ke level Rp125, Kemudian diikuti saham PT Indo Oil Perkasa Tbk. (OILS) naik 6,67% ke level Rp288 dan saham PT Duta Intidaya Tbk. (DAYA) tumbuh 4,32% ke level Rp290.

Sentimen positif dari cerahnya prospek konsumsi rumah tangga dan investasi menguatkan optimisme pemerintah untuk mampu merealisasikan target pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2021 di kisaran 5%-6%. Target pertumbuhan tersebut merupakan prasyarat untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 4% sepanjang 2021.

Lalu keyakinan itu pun diperkuat dengan data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang pada bulan lalu berada di zona optimistis yakni 113,4. Di samping itu, dari sisi produksi, PMI Manufaktur Indonesia pun kembali meningkat ke zona ekspansif, dengan indeks yang tercatat mencapai 57,2.

Barang Konsumen Non Primer

Pada penutupan perdagangan Rabu (25/11), indeks sektor barang konsumen non-primer ditutup menguat 0,32% ke level 869,76.

Penguatan sektor ini dipimpin oleh saham PT Bayu Buana Tbk. (BAYU) yang melesat 9,17% ke level Rp1.190, diikuti saham PT Pudjiadi & Sons Tbk. (PNSE) naik 8,87% ke level Rp675 dan saham PT Esta Multi Usaha Tbk. (ESTA) tumbuh 5,71% ke level Rp296.

Sentimen positif dari Bank Indonesia (BI) yang optimistis ekonomi Indonesia akan tumbuh pada kisaran 4,7%-5,5% pada tahun 2022. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan tahun ini yang mencapai 3,4%-4%.

Menurut BI, pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 akan bangkit didorong oleh sinergi dan koordinasi yang erat dari semua pihak untuk bertahan dan bangkit dari pandemi Covid-19. Selain itu pertumbuhan ekonomi juga akan disokong oleh perbaikan ekonomi global. Hal ini akan berdampak pada kinerja ekspor yang melanjutkan tren kinerja positif.

Kesehatan

Pada Rabu (24/11) indeks sektor kesehatan ditutup melemah 0,69% ke level 1.424,48.

Pelemahan sektor ini dipimpin oleh PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) merosot 4,26% ke level Rp2.250, lalu diikuti PT Bundamedik Tbk. (BMHS) drop 3,41% ke level Rp850 dan PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) turun 1,63% ke level Rp6.050.

Tampaknya pelemahan sektor ini terjadi karena adanya aksi jual bersih yang dilakukan investor asing terhadap saham-saham di industri kesehatan. Tercatat pada perdagangan BEI saham MIKA di lego asing mencapai Rp4,24 miliar, lalu diikuti saham BMHS dengan net foreign sell mencapai Rp3,38 miliar dan saham SOHO sebesar Rp46,80 juta.

Pelemahan tersebut terjadi adanya aksi ambil untung setelah sebelumnya sektor ini melesat tinggi.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan adanya penurunan impor produk farmasi pada Oktober 2021 yang merosot 35,44% mtm atau turun US$ 163,2 juta. Penurunan impor produk farmasi ini sejalan dengan melandainya kasus harian Covid-19 di Indonesia.

Barang Baku

Indeks sektor barang baku pada penutupan perdagangan Rabu (24/11) ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,20% ke level 1.248,79.

Penguatan sektor ini didorong oleh saham PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk. (SAMF) yang melesat 15,84% ke level Rp1.280. Diikuti saham PT Suparma Tbk. (SPMA) melejit 10,38% ke level Rp585 dan saham PT Gunung Raja Paksi Tbk. (GGRP) naik 8,39% ke level Rp775.

Sentimen positif dari Presiden Joko Widodo yang memproyeksikan ekspor produk turunan nikel hingga akhir tahun ini akan mencapai US$20 miliar seiring dengan upaya industri menggenjot produk hilir komoditas tersebut.

Diketahui, produk turunan nikel, seperti besi baja dapat memberikan nilai tambah hingga 10 kali lipat dibandingkan dengan mengekspor produk mentah bijih nikel dan hingga Oktober 2021, ekspor produk tersebut telah membukukan pendapatan US$16,5 miliar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Aprilian Hermawan

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.