Emiten Sektor Energi Paling Agresif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup rebound 0,72% atau 47,97 poin ke level 6.701,32 pada penutupan perdagangan akhir pekan Jumat (7/1). Sepanjang perdagangan IHSG bergerak di rentang harian 6.647,71 hingga level tertinggi di 6.712,15.

Bisnis Indonesia Resources Center
Jan 7, 2022 - 11:30 AM
A-
A+
Emiten Sektor Energi Paling Agresif

Pegawai melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/1/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound 0,72% atau 47,97 poin ke level 6.701,32 pada penutupan perdagangan akhir pekan Jumat (7/1). Sepanjang perdagangan IHSG bergerak di rentang harian 6.647,71 hingga level tertinggi di 6.712,15. 

Terdapat 260 saham menghijau, 256 saham parkir di zona merah dan 170 saham bergerak stagnan pada akhir perdagangan. Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 18,08 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp11,41 triliun. 

Sektor energi terpantau naik paling agresif mencapai 2,01% dan diikuti sektor perindustrian yang juga terkerek 1,22%.

Di seluruh pasar, investor asing ramai melakukan aksi beli bersih dengan net buy sebesar Rp944,73 miliar. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi yang paling banyak diburu asing dengan net buy  Rp627,09 miliar. 

Menyusul di belakangnya saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) yang diborong asing Rp88,19 miliar dan juga saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) sebesar Rp63,8 miliar.

Berbeda dengan BBCA, saham emiten bank yaitu PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) dilepas asing dengan net sell sebanyak Rp80,54 miliar. 

Begitu pun dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang membukukan net foreign sell sebesar Rp72,21 miliar. Selain itu, saham PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) juga dilego asing senilai Rp54,98 miliar.

Pergerakan IHSG mengikuti jejak bursa utama Asia yang ditutup bervariatif dan cenderung menguat. Indeks Hang Seng  naik 1,74%, bursa Australia menguat 1,29% dan bursa Taiwan memimpin koreksi sebesar 1,08%.

Pelaku pasar mencermati sentimen positif dari Amerika Serikat (AS) yang merilis data klaim tunjangan pengangguran pada pekan pertama Januari 2022 di angka 207.000.

Sementara itu, dari dalam negeri tercatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2021 masih tinggi yakni sebesar US$144,9 miliar, meskipun pencapaian tersebut menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2021 yang tercatat sebesar US$145,9 miliar. 

Penurunan posisi cadangan devisa pada Desember 2021 terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Indeks Bisnis-27

Indeks Bisnis-27 ditutup melesat melampaui IHSG yang hanya naik 0,72%. 

Pada Jumat (7/1), Indeks Bisnis-27 mampu menguat hingga 1,03% atau 5,31 poin menuju level 522,62. Sepanjang perdagangan Indeks Bisnis-27 bergerak di antara level terendah 517,01 hingga menyentuh level tertinggi di 523,89. 

Terdapat 18 saham menguat, 6 saham melemah dan 3 saham lainnya ditutup tidak bergerak dari posisi sebelumnya alias stagnan.

Seiring dengan kenaikan sektor energi yang mencapai 2,01%, penguatan Indeks Bisnis-27 dipimpin oleh saham emiten energi yaitu PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yang melejit 5,65% atau 130 poin ke level harga 2.430. 

Penguatan diikuti saham PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) yang naik 3,54% atau 40 poin menuju 1.170. Kemudian masih dari emiten energi, saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) juga menopang laju indeks dengan kenaikan 3,33% atau 90 poin ke 2.790.

Namun, beberapa saham masih terpantau mengakhiri lajunya di teritori negatif. 

Saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) terdepresiasi paling dalam mencapai 4,46% atau 50 poin ke posisi harga 1.070. Lalu terdapat saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) yang melemah 1,79% ke level 10.950 dan saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) terkoreksi 1,76% ke 2.230. 

Energi

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/1), indeks sektor energi ditutup di zona hijau, naik ke level 1.172,83 atau menguat 2,01%. 

Penguatan sektoral dipimpin oleh PT Mitrabahtera Segara Sejati  Tbk (MBSS)  meroket 21,47% ke level Rp1.075, lalu saham PT Bintang Samudera Mandiri Lines  Tbk (BSML) melejit 16,81% ke level Rp278, dan saham PT Sumber Energi Andalan Tbk. (ITMA) melesat 15,44% ke level Rp785.

Kenaikan sektor ini didorong dari harga komoditas minyak dunia yang masih melanjutkan penguatannya. 

Berdasarkan data perdagangan kemarin pada pukul 15.57 WIB, harga minyak Brent naik 0,66% ke level US$ 82,53/barel, sedangkan pada minyak WTI menguat 0,68% ke level US$80,01/barel.

Penguatan tersebut seiring dengan adanya protes yang tengah berlangsung di Kazakhstan yang mendorong timbulnya kekhawatiran atas akan terganggunya pasokan minyak mentah dari produsen Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) selain terjadi penurunan produksi di Libya.

Barang Konsumen Primer

Pada perdagangan Jumat (7/1), indeks sektor barang konsumen primer ditutup menguat 0,63% di level 672,67. 

Saham yang mendorong penguatan ialah PT Wahana Inti Makmur Tbk. (NASI) melejit 14,10% ke level Rp356, Kemudian diikuti saham PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) melesat 8,77% ke level Rp620, dan saham PT Prasidha Aneka Niaga Tbk. (PSDN) naik 6,37% ke level Rp167.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 3,7%pada 2021. Menurut Menkeu, angka ini sudah merupakan usaha terbaik setelah mengalami pertumbuhan negatif pada kuartal I dan pelambatan di kuartal III akibat meningkatnya angka infeksi Covid-19 di Tanah Air.

Lebih lanjut, Sri Mulyani melihat pertumbuhan pada kuartal IV/2021 dapat mencapai 5% sehingga secara keseluruhan tahun  2021 bisa mencapai di kisaran 3,5% sampai 4%.

Barang Konsumen Non-Premier

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/1), indeks sektor barang konsumen non-primer ditutup melemah 0,95% ke level 861,48. 

Pelemahan sektor ini dipimpin oleh saham PT Citra Putra Realty Tbk. (CLAY) anjlok 6,86% ke level Rp815, lalu diikuti saham PT Gaya Abadi Sempurna Tbk. (SLIS) ambles 6,77% ke level Rp895 dan saham PT Multi Prima Sejahtera Tbk. (LPIN) drop 6,63% ke level Rp845.

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia tetap tinggi, sebesar US$144,9 miliar pada Desember 2021. Namun, posisi tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2021 sebesar US$145,9 miliar.

Menurut BI, penurunan posisi cadangan devisa pada Desember 2021 dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,0 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini pun berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kesehatan

Pada Jumat (7/1) indeks sektor kesehatan ditutup menguat 1,04% ke level 1.444,46. 

Penguatan sektor ini dipimpin PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) melesat 10,45% ke level Rp7.400, lalu diikuti saham PT Bundamedik Tbk. (BMHS) naik 3,85% ke level Rp810, dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) tumbuh 2,70% ke level Rp950.

Sentimen positif dari emiten produsen jamu dan obat yakni SIDO bakal ikut berpartisipasi dalam program vaksinasi booster atau dosis ketiga Covid-19 pada tahun ini.

Dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pemerintah tengah berpacu dengan waktu untuk merampungkan peraturan terkait dengan program vaksinasi booster atau dosis ketiga Covid-19 yang turut melibatkan swasta. Targetnya, peraturan itu rampung sebelum implementasi vaksin booster pada 12 Januari 2022.

Vaksin booster adalah pemberian vaksin tambahan untuk memberi perlindungan ekstra bagi penerimanya. Pemberian vaksin booster membuat tubuh cepat mengenali virus yang menjadi penyebab penyakit dengan lebih cepat.

Bahan Baku

Indeks sektor barang baku pada penutupan perdagangan Jumat (7/1) ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,32% ke level 1.209,25. 

Pelemahan sektor ini didorong oleh saham PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk. (SBMA) ambles 6,95% ke level Rp348, diikuti saham PT Agro Yasa Lesati Tbk. (AYLS) merosot 6,82% ke level Rp328 dan saham PT Indo Komoditi Korpora Tbk. (INCF) drop 6,67% ke level Rp196.

Industri kimia masih mengalami perlambatan pemulihan terutama karena tekanan kenaikan harga bahan baku yang tinggi. 

Menurut Asosiasi Kimia Dasar Organik (Akida), kenaikan bahan baku sudah terjadi sepanjang tahun lalu. Kekhawatiran akan kenaikan bahan baku dan ongkos pengapalan yang tajam dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi dan industri pada 2022.

Dampak kenaikan raw material global karena krisis energi dan freight cost mahal. Jadi modal kerja untuk beli bahan baku naik banyak. Itu bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Perindustrian

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/1), sektor perindustrian ditutup menguat 1,22% ke posisi 1.044,08. 

Beberapa saham yang terpantau mengalami penguatan ialah saham PT Tanah Laut Tbk. (INDX) melesat 11,92% ke level Rp169. lalu PT Ace Oldfields Tbk. (KUAS) naik 8,64% ke level Rp88 dan  PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC) menguat 7,28% ke level Rp2.800.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5%-5% untuk tahun ini. Kadin Indonesia optimistis target tersebut dapat dipenuhi. 

Meski demikian, Kemenperin harus bekerja keras dalam mencapainya, sebab saat ini belum semua industri manufaktur pulih akibat terjangan pandemi Covid-19.

Menurut Kemenperin, tren momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun lalu sudah sangat positif. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk bisa lebih mendongkrak pertumbuhan industri manufaktur.

Keuangan

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/1) indeks sektor keuangan menguat 0,82% ke level 1.589,64. 

Penguatan ini ditopang oleh saham PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN) melesat 5,29% ke level Rp1.195, lalu PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) meningkat 4,10% ke level Rp10.150 dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 2,34% ke level Rp7.650. 

Penguatan saham sektor keuangan disokong oleh sentimen aksi beli asing. BBCA diborong mencapai Rp627,09 miliar, kemudian BBHI net sell 4,76 miliar. Dari dalam negeri, katalis ekonomi datang dari Bank Indonesia yang merilis cadangan devisa Desember 2021. 

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa mencapai US$144,9 miliar pada Desember 2021. Posisi tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2021 sebesar US$145,9 miliar. 

Sementara itu, percepatan tapering dan kenaikan suku bunga acuan The Fed masih terus dicermati oleh pelaku pasar sebab dapat menjadi sentimen yang akan mempengaruhi pergerkan saham sektor perbankan.
  
Properti dan Realestat

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/1) indeks sektor property dan real estate ditutup melemah 0,17% ke level 757,68. 

Saham-saham yang melemah di antaranya PT Metro Realty Tbk. (MTSM) anjlok 6,99% ke level Rp266, disusul PT Pollux Properties Indonesia Tbk. (POLL) jatuh 6,57% ke level Rp995 dan PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) menyusut 6,47% ke level Rp795. 

Pelemahan saham properti dan realestat tersengat sentimen negatif terkait perkembangan baru varian Covid-19 Omicron yang semakin bertambah di Indonesia. Per 5 Januari 2022, jumlah kasus Omicron mencapai 251 kasus. Dari 251 kasus yang ditemukan 95% di antaranya merupakan kasus dari luar negeri. 

Merebaknya Omicron di Indonesia dikhawatirkan bisa menghambat upaya pemulihan pasar property yang sedang berlangsung, karena dianggap lebih mudah menyebar ketimbang varian Delta. 

Teknologi

Pergerakan saham teknologi pada Jumat (7/1) ditutup terparkir ke zona merah dengan penurunan 0,44% ke level 9.491,18. 

PT Wira Global Solusi Tbk. (WGSH) melemah 4,91% ke level Rp155, diikuti PT Global Sukses Soluso Tbk. (RUNS) merosot 4,73% ke level Rp282 dan PT Sentral Mitra Informatika Tbk. (LUCK) jatuh 2,81% ke level Rp346. 

Saham PT Wira Global Solusi Tbk. (WGSH) yang baru saja melantai di bursa pada 6 Desember 2021 terpantau menjadi yang paling anjlok di sektor teknologi. Menurut RTI Business, dalam satu pekan harga saham ini sudah jatuh 14,84%, dalam sebulan koreksi 23,27%.

Perusahaan yang bergerak di bidang pabrik pembuat startup melalui HAKI perangkat lunak dan konsultan IT ini telah membidik pertumbuhan pendapatan 30% pada tahun 2022. Sampai dengan semester I-2021, WGSH membukukan pendapatan sebesar Rp10,55 miliar. Angka itu meroket tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp808,40 juta. 

Infrastruktur

Harga saham di  sektor infrastruktur meningkat 0,06% ke level 947,70 pada Jumat (7/1). 

Peningkatan sektor ini ditopang oleh saham PT Ictsi Jasa Prima Tbk. (KARW) melambung tajam 10,53% ke level Rp147, disusul PT Citra Marga Nusaphala Tbk. (CMNP) meroket 9,45% ke level Rp1.680 dan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) menanjak 3,85% ke level Rp540. 

Saham IPCC menjadi salah satu top gainers ditopang oleh sentimen resminya proses penandatanganan dokumen pengalihan saham ke subholding Pelindo. IPCC menyatakan sahamnya telah dialihkan sebanyak 71,28% dari Pelindo kepada subholding PT Pelindo Multi Terminal (PMT) pada Senin (3/1). 

Merger Pelindo membawa dampak positif terhadap IPCC. Pasalnya, kini IPCC akan mengelola dua terminal kendaraan tambahan di Makassar dan Medan. Dengan begitu, total terminal yang dikelola IPCC menjadi 6 terminal.  

Transportasi dan Logistik

Sektor transportasi dan logistik terpantau berada di zona hijau dengan pertumbuhan 1,17% ke level 1,630,06 pada Jumat (7/1). 

Saham-saham yang menghijau di antaranya PT Sidomulyo Selaras Tbk. (SDMU) meroket 34,83% ke level Rp120, diikuti PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk. (NELY) menguat 24,86% ke level Rp432 dan PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) melesat 24,82% ke level Rp342. 

Pertumbuhan sektor logistik diproyeksikan akan semakin moncer di tahun 2022. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai hal ini dapat terwujud jika penguatan dan perluasan segmen pasar dilakukan para pelaku idustri di beberapa sektor.

Kenaikan harga komoditas yang dimulai sejak tahun lalu berpotensi mendongkrak peningkatan harga angkutan logistik laut, seiring dengan disrupsi perdagangan dan kegiatan ekonomi karena pandemi Covid-19. Selain itu, akselerasi digitalisasi logistik dan tata kelola manajemen yang baik juga dapat menopang kinerja perusahaan. 



Editor: Aprilian Hermawan

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar