ESDM Godok Insentif untuk Gaet Investor Subsektor Minerba

Realisasi investasi minerba menyentuh US$3,9 miliar hingga 17 Desember 2021. Dengan capaian tersebut, realisasi investasi minerba 2021 berpotensi menjadi yang paling rendah dalam 5 tahun terakhir.

Rayful Mudassir
Dec 24, 2021 - 1:30 PM
A-
A+
ESDM Godok Insentif untuk Gaet Investor Subsektor Minerba

Aktivitas operasional PT Cakra Mineral Tbk. Perusahaan ini merupakan produsen dan eksportir logam bijih besi dan pasir zircon. Mulai 28 Agustus 2020, Bursa Efek Indonesia akan menghapus saham berkode CKRA dari papan pengembangan./ckra.co.id

Bisnis, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatur strategi untuk mendongkrak investasi subsektor mineral dan batu bara (minerba) pada tahun depan. Evaluasi regulasi hingga link and match bakal dilakukan untuk memuluskan alur investasi.

Direktur Penerimaan Mineral dan Batubara sekaligus Plh. Sesdirjen Minerba Kementerian ESDM Muhammad Wafid mengatakan bahwa pihaknya terus mengevaluasi kebijakan maupun aturan yang dianggap menghambat investasi.

Kemudian, sejumlah insentif juga akan digodok guna memuluskan masuknya investor, termasuk mempertemukan antara pelaku industri dan investor atau financial support. Upaya itu dilakukan untuk menemukan permasalahan dalam investasi dan mencari solusi bersama.

“Kami evaluasi terus terkait kebijakan regulasi dan peraturan yang dikeluarkan oleh [Ditjen] Minerba agar tidak menghambat investasi, termasuk insentif-insentif yang diperlukan dan juga mengadakan acara link and match antara industri dan pihak terkait,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/12/2021).

Realisasi investasi subsektor mineral dan batu bara baru mencapai US$3,5 miliar hingga 10 Desember 2021, atau 81,3 persen dari target US$4,3 miliar.

Laporan lainnya mencatat realisasi investasi minerba menyentuh US$3,9 miliar hingga 17 Desember 2021. Dengan capaian tersebut, realisasi investasi minerba 2021 berpotensi menjadi yang paling rendah dalam 5 tahun terakhir.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah investasi pada proyek pembangunan smelter. Pemerintah menargetkan pembangunan 53 smelter hingga 2024 mendatang. Saat ini terdapat 19 smelter telah berdiri dengan tambahan 4 smelter ditargetkan rampung pada akhir tahun.

Keempat smelter tersebut adalah milik PT Aneka Tambang Tbk. dengan progres 97,7 persen, PT Smelter Nikel Indonesia (100 persen), PT Cahaya Modern Metal Industri (100 persen), dan PT Kapuas Prima Citra dengan progres pengerjaan mencapai 99,87 persen.

Wafid menuturkan bahwa agenda link and match diperuntukan agar masalah pendanaan seperti smelter dapat mencapai titik temu. “Agar jika ada kesulitan pendanaan seperti smelter dan lain-lain dapat dipertemukan dengan investor. Itu kerangka besarnya,” jelasnya.

Beberapa waktu lalu, saat kerja antara Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR , Dirjen Mineral dan Batu Bara Ridwan Djamaluddin menyampaikan sejumlah perbankan maupun perusahaan di China dan Jepang tertarik menanamkan modal pada pembangunan smelter.

Dari Jepang, Kementerian ESDM menjaring tiga perusahaan yang ingin terlibat proyek smelter, yakni Sumitomo Metal, Mitsui, dan Toyota Tsusho. Mereka berencana menyuntikan modal melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

“Setidaknya ada tiga perusahaan Jepang ini yang sudah menyampaikan minatnya untuk mendukung pendanaan pembangunan smelter,” katanya, Rabu (10/11/2021).

Kemudian dua perbankan disebut berpotensi dan menyatakan minatnya dalam pembangunan smelter. Keduanya yaitu Bank of China dan Japan Bank of International Corporation.

Sebaliknya, sejumlah institusi internasional telah dipastikan tidak berencana terlibat dalam proyek smelter. Seluruhnya adalah Asian Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank, World Bank, dan International Finance Corporation.

“Di sini kami melihat perusahaan dan perbankan yang berminat. Kami juga berharap kiranya bank nasional dapat membantu pendanaan pembangunan smelter ini,” tuturnya.

Dari seluruh pembangunan smelter hingga 2024, kebutuhan investasi pada proyek tersebut mencapai US$8 miliar.

EKSPLORASI TAMBANG

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memberi sinyal peningkatan nilai investasi untuk aktivitas eksplorasi tambang pada 2022.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia memperkirakan anggaraninvestasi eksplorasi perusahaan tambang batu bara akan meningkat pada tahun depan. Meski begitu, dia tidak menyebutkan nilai investasi yang akan masuk.

“Tahun depan budget investasi eksplorasi akan meningkat, tapi tidak terlalu signifikan,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/12/2022).

Gairah eksplorasi tersebut setidaknya dapat tecermin dari ramainya perusahaan tambang yang meningkatkan jumlah produksi batu bara di 2022. Beberapa di antaranya adalah PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI).

Saat konferensi pers, PTBA telah menyampaikan rencana kenaikan produksi batu bara tahun depan. Sementara itu, perusahaan telah mematok produksi 30 juta ton pada 2021, atau naik sekitar 20 persen dari 2020 yang sebanyak 24,8 juta ton.

Hingga November 2021, realisasi produksi batu bara PTBA telah mencapai 28,0 juta ton dengan penjualan 25,8 juta ton. Artinya, perusahaan tinggal memproduksi sisa 2 juta ton untuk mencapai target sesuai RKAB 2021.

“Namun untuk angkanya belum bisa dibuka karena masih perlu persetujuan Kementerian ESDM,” kata Sekretaris Perusahaan PTBA Apollonius Andwie, Selasa (21/12/2021).

Sementara itu, BUMI masih optimistis kinerja 2022 akan semakin baik, terlebih dengan harga batu bara yang tetap di posisi tinggi. BUMI meningkatkan target produksinya menjadi 90 juta metrik ton pada 2022.

Direktur Bumi Resources Sri Dharmayanti menjelaskan, produksi batu bara tahun depan melalui Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin direncanakan sekitar masing-masing 61 juta ton dan 29 Juta ton.

“Jadi total 90 juta ton. Karena harga masih bertahan di atas US$100, perseroan akan menghasilkan keuntungan yang baik,” katanya dalam paparan publik, Selasa (14/12/2021).

Editor: Zufrizal

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar