ESDM Setujui RKAB Tambang Freeport 2024—2026, Izin Ekspor Dikaji

Kementerian ESDM masih memproses permohonan perpanjangan izin ekspor konsentrat PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk periode tahun ini, meskipun kementerian telah menyetujui RKAB tambang Freeport periode 2024—2026.

Stepanus I Nyoman A. Wahyudi

17 Jan 2024 - 15.46
A-
A+
ESDM Setujui RKAB Tambang Freeport 2024—2026, Izin Ekspor Dikaji

Pekerja melintasi areal tambang bawah tanah Grasberg Blok Cave (GBC) yang mengolah konsentrat tembaga di areal PT Freeport Indonesia, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (17/8/2022). ANTARA FOTO/Dian Kandipi

Bisnis, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) PT Freeport Indonesia periode 2024—2026, sementara ihwal perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu masih terus dikaji.

Dengan persetujuan RKAB tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk periode 3 tahun ke depan, produksi bijih atau ore perusahaan tambang tembaga dan emas itu dipastikan naik hingga 2026.

Berdasarkan paparan Plt Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Suswantono saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/1/2024), rencana produksi ore dari PTFI pada 2024 dipatok di level 63,16 juta ton. 

Selanjutnya, rencana produksi ore PTFI pada 2025 dan 2026 masing-masing ditetapkan sebesar 77,52 juta ton dan 79,12 juta ton. “RKAB PTFI sudah kami setujui untuk 2024 sampai dengan 2026,” kata Bambang. 

Baca juga:

RKAB 2024 Disetujui, Produksi Ore Freeport Tembus 219,7 Juta Ton

Ancang-Ancang Agresif Freeport Garap Tambang Kucing Liar

Utak-Atik Aturan Main Tambang Minerba Muluskan Kontrak Freeport

Bisnis Batu Bara Masih Membara di Tengah Tekanan Transisi Energi

Di sisi lain, Bambang mengatakan, kementeriannya masih memproses permohonan perpanjangan izin ekspor konsentrat PTFI untuk periode tahun ini. Relaksasi ekspor konsentrat Freeport bakal berakhir pada Mei 2024. 

Kendati demikian, PTFI memberi sinyal potensi pemangkasan kapasitas produksi sampai 40% apabila permohonan perpanjangan izin ekspor hingga Desember 2024 tidak disetujui Kementerian ESDM. 

“Untuk masalah ekspor konsentratnya, mereka juga harus izin lagi kepada kita. Saat ini masih proses,” ujar Bambang. 


Terkait dengan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat, EVP External Affairs PTFI Agung Laksamana menerangkan bahwa perseroan telah mengajukan permohonan izin relaksasi ekspor ke pemerintah selepas tenggat yang direncanakan pada Mei 2024.

Agung beralasan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga PTFI di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik (Jawa Timur) baru bisa mencapai kapasitas penuh (ramp-up) pada Desember 2024.

“Dengan demikian, konsentrat tembaga yang telah diproduksi tidak bisa serta merta langsung diserap penuh oleh smelter baru tersebut,” kata Agung saat dikonfirmasi, Selasa (16/1/2024).

Agung berharap agar pemerintah dapat memberi perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat selepas Mei 2024 nanti.

Sebelumnya, PTFI membuka kemungkinan penurunan kapasitas produksi sektiar 40% pada RKAB 2024 seiring dengan tenggat relaksasi ekspor konsentrat yang diputus Mei tahun ini. Penyesuaian produksi itu dilakukan lantaran daya tampung atau input smelter yang masih terbatas saat itu.

Kendati demikian, belakangan Kementerian ESDM menyetujui target produksi PTFI sebesar 1,4 miliar pound tembaga dan 1,6 juta ounces emas tahun ini. “Aktivitas penambangan akan mengikuti target yang telah disepakati pemerintah, dengan selalu mengedepankan sustainable safe production,” kata Agung.

Adapun, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas sebelumnya mengatakan bahwa perseroan kemungkinan bakal memangkas 40% kapasitas produksi pada RKAB 2024 seiring dengan tenggat relaksasi ekspor konsentrat yang diputus pada Mei 2024.

Konsekuensinya, penerimaan negara bisa susut sekitar 50% akibat penyesuaian rencana kerja tahun depan tersebut. Tony mengatakan, kemungkinan penyesuaian itu mesti diambil lantaran izin relaksasi ekspor konstrat tembaga yang diberikan pemerintah hanya sampai Mei 2024. 

“Kalau peraturannya kemudian melarang, ya sayang saja bahwa di RKAB kami 2024 ini kami terpaksa harus mengurangi sekitar 40% dari produksi, penerimaan negara juga berkurang sekitar 50%, itu kan cukup besar,” kata Tony, Selasa (24/10/2023).


Kendati demikian, Tony menegaskan bahwa perseroan terus berkoordinasi dengan pemerintah ihwal kemungkinan relaksasi tambahan hingga Desember 2024 nanti, sehingga rencana produksi masih bisa ditetapkan progresif seiring dengan peningkatan jumlah tambang di sisi hulu tambang bawah tanah, Grasberg, Papua saat ini. 

Lewat tiga blok tambang yang saat ini beroperasi di kawasan Grasberg, kapasitas produksi tahunan PTFI mencapai di angka sekitar 1,6 miliar pound tembaga dan 1,6 juta ounce emas. “Kami bicara terus dengan pemerintah, kami sedang berdiskusi terus,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.