Euforia Pasar Modal Naik Terus, Bagaimana Prospek Tahun Depan?

Kasus Covid-19 diproyeksi terus turun pada 2022. Ekonomi Indonesia juga diproyeksi bakal lebih baik. Namun, BEI tak memasang target yang terlalu optimistis pada tahun depan.

Pandu Gumilar & Annisa Kurniasari Saumi
Oct 27, 2021 - 9:51 AM
A-
A+
Euforia Pasar Modal Naik Terus, Bagaimana Prospek Tahun Depan?

Pengunjung menggunakan smarphone didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis, JAKARTA - Tahun 2021 menjadi tahun gemilang pasar modal Indonesia. Pasalnya, beragam rekor baru terpecahkan di tahun ini.

Salah satu rekor baru yaitu jumlah penggalangan dana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Hingga 16 September 2021, dana yang terkumpul dari aksi korporasi tersebut mencapai Rp32,14 triliun. Total dana itu berasal dari 38 perusahaan yang baru tercatat tahun ini.

Adapun penyumbang terbesar adalah PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) dengan torehan Rp21,9 triliun. Dana yang dihimpun BUKA itu pun menjadi rekor perolehan dana terbesar yang dihimpun perusahaan melalui IPO sejak Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977.

Rekor tersebut diproyeksi bisa terpecahkan dengan rencana PT Dayamitra Telekomunikasi atau Mitratel yang bakal melantai di bursa pada bulan depan. Geliat pasar modal di penghujung tahun ini pun diproyeksi bakal terus berlanjut.

Meski begitu, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak jumawa memasang target tinggi pada 2022. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, BEI justru menyepakati rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT) 2022 yang moderat.

Dalam RKAT disebutkan bahwa proyeksi total pendapatan usaha yang akan diperoleh BEI naik Rp158,8 miliar atau 11,4% menjadi Rp1,55 triliun. Selain itu, biaya usaha BEI diproyeksikan naik Rp122,6 miliar atau 11,85% menjadi Rp1,16 triliun.

Sementara itu, laba sebelum pajak berpotensi naik menjadi Rp496,64 miliar dan setelah dikurangi estimasi beban pajak sebesar Rp107,07 miliar. Dengan begitu, perolehan laba bersih BEI pada 2022 sebesar Rp389,56 miliar.

 

Untuk total aset BEI diproyeksikan sebesar Rp4,24 triliun atau naik 10,29% dari RKAT 2021 yang telah direvisi. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih utamanya ditopang oleh target kenaikan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp13,5 triliun pada tahun depan.

Jumlah itu naik dibandingkan dengan nilai RNTH sebesar Rp12 triliun pada tahun ini. “Dari pasar secondary memberikan kontribusi pendapatan sebesar 75% secara total. Pendapatan dan laba kami akan meningkat 2022 dibandingkan dengan 2021,” katanya Rabu (27/10/2021).

Inarno menambahkan peningkatan RNTH disusun setelah melakukan diskusi dengan para anggota bursa, manajer investasi dan seluruh pihak terkait. Inarno mengatakan target RNTH 2022 sempat di bawah level tersebut. Akan tetapi karena pada 2021 terjadi beberapa penyesuaian target dari Rp9 triliun menjadi Rp12 triliun.

“Kami tidak terlalu optimistis, tetapi tidak pesimis juga, kami moderat saja. Tahun depan pandemi sepertinya akan semakin menurun  dan ekonomi mulai pulih,” katanya.

Selain itu, BEI menargetkan pencatatan efek baru di tahun 2022 sebanyak 68 efek yang terdiri dari pencatatan saham, obligasi korporasi baru, dan pencatatan efek lainnya meliputi exchange traded fund (ETF), dana investasi real estate (DIRE), serta efek beragun aset (EBA).

Sepanjang tahun berjalan 2021, BEI sudah kehadiran 39 perusahaan tercatat baru. Teranyar, PT Ace Oldfields Tbk. (KUAS), resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (25/10/2021).

KUAS menjadi emiten ke-39 yang listing sepanjang 2021 dan tercatat sebagai emiten ke-751 dari total jumlah emiten yang terdaftardi BEI. Memasuki kuartal IV/2021, Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 24 perusahaan masuk dalam daftar perusahaan yang akan menggelar pencatatan saham. Sebanyak 14 di antaranya merupakan perusahaan beraset besar, termasuk Mitratel. 

 

Sebagai upaya untuk mencapai target pencatatan efek baru tersebut, BEI akan melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan kepada perusahaan tercatat dan calon perusahaan tercatat.

Beberapa kegiatan tersebut meliputi peningkatan kapasitas infrastruktur di area pencatatan perusahaan, melakukan sosialisasi, one-on-one meeting, dan workshop yang saat ini telah rutin dilakukan secara virtual melalui media daring.

Di sisi lain, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan bursa tidak memiliki target penggalangan dana terkait pencatatan efek baru. Menurutnya, BEI akan mendukung segala upaya pencatatan instrumen tanpa membeda-bedakan.

Selain itu, Nyoman menyebut bursa sedang mendorong agar pemerintah daerah bisa menerbitkan obligasi di pasar modal. Dana itu dapat digunakan untuk membangun infrastruktur bagi pelayanan publik.

Menurutnya Bursa telah melakukan pertemuan dengan beberapa pemda seperti DKI Jakarta, Medan, Jawa Barat dan Jawa Tengah. “Kami dukung mereka untuk bisa melakukan penerbitan. Bukan hanya melalui pendampingan dan konsultasi tapi juga diskon komisi penerbitan hingga 50%,” pungkasnya.

 

Jumlah Investor Bakal Makin Banyak

Dari sisi jumlah investor, BEI menargetkan pertumbuhannya pada tahun depan mencapai 30%. Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, mengatakan besarannya tergantung dari jumlah investor pada akhir tahun nanti.

“Target [pertumbuhan investor] tahun depan kurang lebih sama dengan tahun ini sebesar 30 persen dari posisi akhir 2021,” katanya.

Hasan mengatakan jumlah investor di pasar modal saat ini mencapai 6,6 juta atau naik 69% dibandingkan dengan akhir 2020 sebesar 3,8 juta. Sedangkan jumlah peningkatan investor saham mencapai 81% tahun ini.

“Pertumbuhan sekitar 10 persen per bulan. Kami harap angka ini tetap stabil setiap bulan,” ungkapnya.

Dengan tingginya minat masyarakat menanamkan dana di pasar modal, Bursa pun terus membuat gebrakan. Salah satunya dengan mengembangkan indeks baru yang rencananya diluncurkan pada tahun depan.

Menurutnya, indeks anyar itu akan melengkapi indeks-indeks yang sebelumnya telah ada. Dia membeberkan indeks anyar akan bersifat tematis seperti syariah atau ESG.

Dia juga menyebut indeks baru itu bakal mengikuti tren di masyarakat. “Kami sedang dalam pembahasan final dengan yayasan kehati yang untuk menerbitkan indeks bersama mereka. [Kemungkinan] ada satu atau dua indeks ESG baru,” katanya.

Selain indeks, Bursa akan fokus dalam pengembangan beberapa hal. Diantaranya adalah pengayaan produk data informasi Kebursaan, enhancement pada Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) untuk mendukung pengembangan perdagangan Efek Non-Ekuitas, enhancement Taksonomi dan Sistem XBRL, pengembangan produk Derivatif dan Waran Terstruktur, enhancement Sistem e-IPO untuk mendukung proses Penawaran Umum, hingga pengembangan Papan Pemantauan Khusus sebagai bentuk perlindungan investor. 

Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar