Free

Faktor Pemicu Pasar Perumahan Global Tumbuh 9% hingga 2027

Pasar residensial global tumbuh 9% dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, menurut hasil penelitian Research and Markets yang bermarkas di Amerika Serikat. Di Indonesia, pertumbuhan rumah dibantu oleh kehadiran stimulus fiskal berupa PPN DTP yang diperpanjang hingga akhir September tahun ini.

M. Syahran W. Lubis

19 Mar 2022 - 23.29
A-
A+
Faktor Pemicu Pasar Perumahan Global Tumbuh 9% hingga 2027

Ilustrasi pembangunan perumahan./Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Pasar properti subsektor residensial secara global diprediksi tumbuh minimal 9% selama 2022 hingga 2027, menurut hasil penelitian Research and Markets yang dilansir Global Newswire.

Pasar real estat perumahan, ungkap Research and Markets, yang bermarkas di Amerika Serikat, dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 dalam beberapa cara.

Di satu sisi, penguncian dan peningkatan penggunaan praktik kerja jarak jauh cenderung meningkatkan permintaan perumahan dan kebijakan moneter yang akomodatif kemungkinan akan meningkatkan keterjangkauannya.

Khusus mengenai hal ini, sebagai contoh di Indonesia adalah bunga acuan Bank Indonesia BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang rendah dan persetujuan kredit perumahan yang dimungkinkan menetapkan uang muka 0%.

Di sisi lain, penurunan ekonomi dan peningkatan pengangguran diperkirakan membebani permintaan secara negatif. Berbagai pembatasan membuat sebagian besar aktivitas konstruksi dan transaksi properti terhenti selama pandemi Covid. Namun, pada 2021 segera setelah relaksasi lockdown terjadi, pasar perumahan pun melonjak.

Pasar real estat perumahan adalah landasan kesejahteraan. Rumah adalah kebutuhan dasar manusia dan terletak di dasar piramida kebutuhan yang terkenal, berdasarkan teori Abraham Harold Maslow. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa cara pasar real estat perumahan bergerak, memiliki efek berombak di sebagian besar orang di seluruh dunia.

Didorong Urbanisasi

Properti residensial seperti apartemen, bungalo, dan vila diperjualbelikan di pasar. Pasar real estat perumahan di negara-negara berkembang sebagian besar didorong oleh urbanisasi.

Kota-kota besar di negara-negara berkembang seperti India, China, Brasil, Argentina, dan Afrika Selatan berkembang pesat dan membutuhkan perumahan tambahan untuk menampung orang-orang yang bermigrasi dari berbagai wilayah negara.

Properti komersial dan residensial vertikal di Beijing, China./Caixin

Selanjutnya, langkah-langkah pemerintah mempromosikan perumahan yang terjangkau merangsang ekspansi pasar. Sebagai contoh, pemerintah di Australia, Amerika Serikat, dan Kanada merencanakan strategi seperti konsesi untuk pembeli pertama kali, subsidi veteran, visa emas, skema perumahan yang terjangkau biaya rendah, dan pengurangan pajak transaksional, yang semuanya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan di pasar real estat perumahan.

Bahkan suku bunga hipotek yang rendah juga memicu pasar real estat perumahan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, India, dan Australia.

Saat ini sekitar 55% dari populasi dunia yang sebanyak 4,2 miliar penduduk tinggal di perkotaan. Tren ini diperkirakan berlanjut. Pada 2050, dengan populasi perkotaan lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan ukuran sekarang, hampir tujuh dari 10 orang di dunia akan bermukim di perkotaan.

Sebagian besar urbanisasi ini terjadi di negara berkembang di kota-kota seperti Lagos, Bangalore, Beijing, dan banyak kota Asia, Afrika, dan Amerika Latin lainnya. Bahkan, dari proyeksi pertumbuhan ini, India, China, dan Nigeria diprediksi menyumbang 35% dari pertumbuhan populasi perkotaan global.

Dengan 80% lebih dari produk domestik bruto (PDB) global dihasilkan di wilayah perkotaan, urbanisasi dapat berkontribusi pada pertumbuhan berkelanjutan apabila dikelola dengan baik dengan meningkatkan produktivitas, sehingga memungkinkan inovasi dan ide-ide baru muncul.

Akan tetapi, di sisi lain, kecepatan dan skala urbanisasi mempercepat permintaan akan perumahan yang terjangkau.

Dalam beberapa tahun terakhir di Australia, ada lebih banyak lahan yang dibebaskan untuk wilayah dengan kepadatan rendah di koridor pertumbuhan kota-kota besar. Akibatnya, terjadi peningkatan pembeli rumah pertama.

Ilustrasi permukiman masyarakat bawah di negara berkembang./Dreams Time

“Terdapat pergeseran ke gaya hidup perkotaan bersama di apartemen dengan 30% rumah di Sydney sebagai apartemen,” ungkap penelitian Research and Markets.

Lembaga penelitian itu menyebutkan pula bahwa terjadi pertumbuhan kota-kota tingkat 2 dan tingkat 3 di negara-negara Asia seperti India dan China, yang memicu lonjakan besar dalam permintaan perumahan di perkotaan dan urbanisasi pun mendorong bisnis properti perumahan.

Kondisi di Indonesia

Terlepas dari penelitian Research and Markets, untuk kondisi di Indonesia jelas suku bunga acuan (BI7DRR) yang rendah yakni hanya 3,5% mendorong peningkatan pasar perumahan.

BI juga telah memperpanjang kebijakan uang muka kredit perumahan 0% alias tanpa uang muka yang dimulai pada awal tahun lalu hingga akhir tahun ini.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan pun memperpanjang pemberlakuan stimulus fiskal berupa Pajak Pertambahan Nilai ditanggung pemerintah hingga akhir September tahun ini.

Serangkaian kebijakan itu, terutama insentif fiskal PPN DTP, terbukti sangat berpengaruh terhadap penjualan perumahan dengan kisaran harga maksimal Rp5 miliar.

Upaya membangkitkan pasar perumahan juga dilakukan dengan mengungkit daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan mendukung biaya pemilikan rumah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan yang untuk tahun ini dialokasikan sebesar Rp23 triliun untuk pemilikan sedikitnya 200.000 unit rumah.

Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) berencana memaksimalkan pemanfaatan dana sebesar Rp23 triliun tersebut sehingga bisa digunakan untuk membiayai 226.000 unit rumah.

Selain itu, BUMN di bawah Kemenkeu PT Saran Multigriya Finansial (SMF) pun akan mendukung pembiayaan FLPP sekitar 25% dari target 200.000 unit hingga 226.000 rumah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: M. Syahran W. Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.