Freeport Cetak Laba Rp48,79 Triliun di 2023, Papua Tengah Kecipratan Rp3,35 T

Pada 2023 PTFI berhasil memproduksi tembaga 1,65 miliar pound serta 1,97 juta ounces emas. Dari kinerja operasi tersebut, PTFI berhasil mencetak laba bersih senilai US$3,16 miliar.

Lukman Nur Hakim

18 Apr 2024 - 14.54
A-
A+
Freeport Cetak Laba Rp48,79 Triliun di 2023, Papua Tengah Kecipratan Rp3,35 T

Pekerja melintasi areal tambang bawah tanah Grasberg Blok Cave (GBC) yang mengolah konsentrat tembaga di areal PT Freeport Indonesia, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (17/8/2022). ANTARA FOTO/Dian Kandipi

Bisnis, JAKARTA — PT Freeport Indonesia (PTFI) mencetak laba bersih senilai US$3,16 miliar atau setara Rp48,79 triliun (asumsi Rp15.439 per dolar AS) sepanjang 2023. Sejumlah daerah di Provinsi Papua Tengah pun ikut terciprat Rp3,35 triliun.

Secara keseluruhan, penerimaan negara dalam bentuk pajak, royalti, dividen, dan pungutan lainnya dari PTFI mencapai lebih dari Rp40 triliun pada 2023, termasuk kontribusi ke daerah yang mencapai lebih dari Rp9 triliun.

Setoran senilai Rp3,35 triliun tersebut diberikan kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kabupaten penghasil, dan kabupaten lain di Provinsi Papua Tengah. “Pembayaran bagian daerah dari keuntungan bersih merupakan realisasi komitmen perusahaan dalam mendorong peningkatan ekonomi pemerintah daerah,” kata Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam keteranganya, Rabu (17/4/2024).

Tony memerinci dana sekitar Rp3,35 triliun itu terbagi untuk Pemprov Papua Tengah sekitar Rp839 miliar dan Pemkab Mimika sekitar Rp1,4 triliun. Sementara itu, kabupaten lain di provinsi Papua Tengah seperti Kabupaten Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya masing-masing mendapatkan sekitar Rp160 miliar.

Sebagai gambaran, pada 2023 PTFI berhasil memproduksi tembaga 1,65 miliar pound serta 1,97 juta ounces emas. Dari kinerja operasi tersebut, PTFI berhasil mencetak laba bersih senilai US$3,16 miliar.

Baca juga:

Open House Menteri Bahlil, dari Urusan Politik, Investasi, Hingga Freeport

PERTAMBANGAN : Babak Baru Kontrak Freeport

Kejar Tayang Perpanjangan Kontrak Tambang Freeport

Setoran Dividen Freeport ke RI Sebesar Rp11 Triliun, Anjlok 437%

RI Bakal Kuasai 61% Saham Freeport

Tony menegaskan bahwa PTFI akan terus berkomitmen memberikan manfaat kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional melalui beragam program investasi sosial. Pada 2023, Tony memerinci nilai investasi sosial PTFI mencapai hampir Rp2 triliun dan akan terus bertambah sekitar US$100 juta atau Rp1,5 triliun per tahun sampai dengan 2041.

“Keberhasilan kami sebagai perusahaan adalah ketika masyarakat di lingkungan sekitar area operasional meningkat taraf hidup dan kesejahteraannya. Kami terus bertumbuh dan berkembang bersama Papua hingga selesainya operasi penambangan pada 2041,” kata Tony.


RELAKSASI EKSPOR

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut belum ada ketentuan terkait dengan perpanjangan relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga bagi PTFI, yang saat ini hanya berlaku hingga 31 Mei 2024.

Tri Winarno, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba, mengatakan bahwa jika sesuai dengan Undang-Undang (UU), pemerintah bakal melihat progres pembangunan smelter yang saat ini dilakukan oleh Freeport sebelum menentukan sikap.

“Belum ada [pembicaraan soal relaksasi]. Yang jelas gini, mau relaksasi, mau enggak, yang jelas poinnya adalah kalau yang namanya tujuan daripada UU itu berdirinya smelter,” kata Tri saat temui di Kementerian ESDM dikutip, Rabu (17/4/2024).

Menurut Tri, untuk pembangunan smelter saat ini sudah memasuki tahapan mechanical completion atau tahapan penyelesaian fisik. Nantinya, tahapan ini bakal dilanjut ke tahap commisioning atau pengujian alat pertambangan.

Namun, Tri menuturkan bahwa dari tahap commisioning tersebut Freeport belum dapat untuk menjalankan smelternya secara menyeluruh. “Nah, commisioning memang belum bisa 100%. Barangnya mau diapain, itu yang akan jadi masalah karena ada potensi US$2 miliar,” ujar Tri.

Sebelumnya, EVP External Affairs PTFI Agung Laksamana mengatakan perseroan telah mengajukan permohonan izin relaksasi ekspor ke pemerintah selepas tenggat yang direncanakan pada Mei 2024.

Agung beralasan smelter tembaga PTFI di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik (Jawa Timur) baru bisa mencapai kapasitas penuh (ramp-up) pada Desember 2024. “Dengan demikian, konsentrat tembaga yang telah diproduksi tidak bisa serta merta langsung diserap penuh oleh smelter baru tersebut,” kata Agung.


PTFI membuka kemungkinan penurunan kapasitas produksi sekitiar 40% pada RKAB 2024 seiring dengan tenggat relaksasi ekspor konsentrat yang diputus Mei tahun ini. Penyesuaian produksi itu dilakukan lantaran daya tampung atau input smelter yang masih terbatas saat itu.

Adapun, Kementerian ESDM telah menyetujui target produksi PTFI sebesar 1,4 miliar pound tembaga dan 1,6 juta ounces emas tahun ini. Lewat persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) PTFI  periode 2024 sampai dengan 2026, rencana produksi bijih dipastikan terus tumbuh 3 tahun mendatang.

Berdasarkan data Minerba, rencana produksi ore dari PTFI pada 2024 dipatok di level 63,16 juta ton. Selanjutnya, rencana produksi bijih PTFI pada 2025 dan 2026 masing-masing ditetapkan sebesar 77,52 juta ton dan 79,12 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.