G20 Dukung Pariwisata Negara Miskin = Dukung Perdamaian Dunia

Dukungan G20 kepada negara miskin melalui perjalanan wisata, dalam perspektif strategis dapat dipandang sebagai upaya menghadirkan perdamaian di muka bumi dan khususnya kesejahteraan yang lebih merata.

Dewa Gde Satrya

1 Apr 2022 - 23.20
A-
A+
G20 Dukung Pariwisata Negara Miskin = Dukung Perdamaian Dunia

Tragedi kemanusiaan yang mewujud dalam perang, tampak nyata pada peradaban dunia saat ini. Konflik Rusia dan Ukraina menegaskan perdamaian dunia haruslah selalu diperjuangkan lintas massa. Dalam konteks itu, komunitas negara-negara maju yang tergabung dalam G20 berperan penting untuk ‘good boy’ yang berperan menjaga dan memperkuat perdamaian antarbangsa, daripada merusak perdamaian dan menimbulkan konflik. 

Tanpa bermaksud memojokkan negara tertentu yang sedang berperang, penegasan eksistensi G20 sebagai komunitas strategis yang powerful dalam menjaga perdamaian dunia, memperbaiki kehidupan bersama di muka bumi ini, dan menghadirkan kebahagiaan saat ini yang berkelanjutan pada masa yang akan datang, patut mendayagunakan sarana pariwisata dalam menciptakan perdamaian dunia.

Pariwisata dunia mengacu pada kode etik yang dirumuskan PBB tahun 1992. Sepuluh filosofi dasar dalam kode etik tersebut adalah, pertama, pariwisata bertujuan membangun saling pengertian dan saling menghormati di antara penduduk dan masyarakat. Kedua, pariwisata merupakan sarana untuk meningkatkan “kualitas hidup”. 

Ketiga, pariwisata adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan. Keempat, pariwisata merupakan pengguna dan penyumbang pelestarian warisan budaya. Kelima, pariwisata adalah kegiatan yang menguntungkan bagi negara dan masyarakat penerima wisatawan. 

Keenam, kewajiban para pemangku kepentingan pariwisata. Ketujuh, hak dasar berwisata. Kedelapan, kebebasan bergerak bagi wisatawan. Kesembilan, hak pekerja dalam industri pariwisata. Kesepuluh, implementasi kode etik. Sepuluh idealisme itu diadopsi dalam UU 10/2009 tentang Kepariwisataan.

Asumsi dasar yang termaktub dalam perundangan kepariwisataan maupun kode etik pariwisata dunia adalah pada dasarnya berwisata hak setiap orang. Dalam Undang-undang Nomer 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 18 ayat 1 butir a disebutkan, setiap orang berhak memperoleh kesempatan memenuhi kebutuhan wisata. 

Dalam UU itu juga disebutkan, pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban menyediakan informasi kepariwisataan, perlindungan hukum, serta keamanan dan keselamatan kepada wisatawan (Pasal 23 ayat 1 butir a). Hak serupa juga dijamin di negara-negara maju anggota G20.

Dukungan G20 kepada negara miskin melalui perjalanan wisata, dalam perspektif strategis dapat dipandang sebagai upaya menghadirkan perdamaian di muka bumi dan khususnya kesejahteraan yang lebih merata. Tahun 1980-an telah berlangsung Konferensi International Kepariwisataan di Manila yang mendeklarasikan, “dunia pariwisata dapat dijadikan elemen penting untuk perdamaian dunia”. 

Pengakuan peran penting pariwisata dalam peningkatan perdamaian dunia telah pula dicetuskan melalui “Columbia Charter”, yang telah dipersiapkan pada First Global Conference: Tourism - A Vital Force for Peace, yang berlangsung di Vancouver tahun 1988.

Banyak tokoh dunia mengakui keuntungan dan sifat kepariwisataan. Mendiang Presiden Amerika Serikat John F. Keneddy mengatakan: perjalanan wisata menjadikan satu kekuatan besar dalam perdamaian dan memahami masing-masing dari kita. 

Sebagai manusia yang hidup berpindah-pindah di dunia dan belajar untuk mengenal orang lain, agar bisa mengerti kebiasaan satu dengan lainnya dan saling dapat menghargai adat kebiasaan yang lain, dan dapat menghargai kualitas dari masing-masing orang dan negara yang berbeda. Kita sedang menumbuhkan saling pengertian internasional yang dapat dengan tepat memperbaiki suasana perdamaian dunia (Keneddy, 1963).

Senada dengan hal itu, beberapa tahun sebelum pandemi Covid-19, UNWTO (UN-World Tourism Organization) pernah meluncurkan kampanye “Satu Miliar Wisatawan, Satu Miliar Kesempatan” (One Billion Tourists: One Billion Opportunities). UNWTO juga memperkirakan jumlah wisatawan internasional akan melonjak hingga 1,8 miliar pada 2030 dan sebanyak 535 juta di kawasan Asia Pasifik.

Melalui program itu, UNWTO dalam kapasitasnya sebagai organisasi pariwisata dunia telah berhasil dan peka dalam menginterpretasikan kerinduan umat manusia bahwa lalu lintas manusia di muka bumi ini untuk kepentingan pariwisata merupakan sarana atau katalisator untuk membangun pemahaman, mendorong inklusi sosial, dan meningkatkan kelayakan standar hidup. Hal tersebut pernah menjadi inspirasi salah satu tema peringatan hari pariwisata sedunia pada tahun 2009, “Tourism-Celebrating Diversity”.

Konkretnya, beberapa langkah yang patut ditempuh oleh para pengambil kebijakan di negara-negara G20 adalah, pertama, memberi insentif dan promosi bagi warga negaranya yang secara umum memiliki kemampuan finansial untuk melakukan perjalanan wisata ke ‘destinasi baru’ yang tersebar di negara-negara miskin di dunia ini. Pariwisata dunia meniscayakan perdamaian segala bangsa, dan karenanya memuliakan kehidupan ini. 

Sebagai manusia yang punya kemampuan dan kesempatan hidup untuk berpindah-pindah di satu negara ke negara yang lain, serta belajar untuk mengenal orang lain, warga negara G20 agar lebih dekat untuk mengerti keadaan dan kebiasaan hidup sesama di negara-negara miskin, berbela rasa, dan tak menutup kemungkinan menimba nilai-nilai positif dari perjuangan hidup mereka di tengah kekurangan dan penderitaan. 

Tentu, logika pasar pariwisata tetap mendasari minat berwisata, yakni daya tarik wisata yang terintegrasi melalui something to see, something to buy dan something to do di destinasi negara-negara miskin. Perbaikan kualitas layanan dalam menyambut wisatawan dan kemampuan sumber daya manusia di bidang pariwisata pada host (negara-negara miskin) menjadi concern untuk diperkuat melalui pendidikan.

Kedua, perlunya konsensus industri penerbangan untuk menambah volume penumpang yang diangkut dari negara-negara anggota G20 ke negara-negara miskin. Turisme akan memberikan efek berganda, bagi host akan bermanfaat antara lain menjadi tulang punggung bagi ekonomi, bagi kedua pihak (guest dan host) sebagai sarana edukasi publik dan perdamaian.

Ketiga, pariwisata dan perdamaian dunia haruslah dirayakan dengan gembira, sebagaimana kehidupan itu sendiri adalah pada dasarnya perayaan syukur umat manusia atas rahmat kehidupan dan karunia ciptaan Tuhan. Belajar dari kearifan lokal berbagai suku bangsa di dunia, termasuk adat dan kepercayaan lokal di negara-negara miskin di daratan Afrika, Amerika Latin dan lainnya, nilai-nilai hidup universal yang tumbuh berkembang dari masa lampau hingga saat ini patut untuk diperkenalkan dan disajikan pada perjumpaan dengan warga bangsa dari negara-negara maju. 

Ilustasi ini sangat kuat di Indonesia, di mana kearifan lokal, kebersamaan, kesejahteraan, panenan dan perdamaian, haruslah dipelahari dan disyukuri dalam laku hidup sehari-hari. Ada even khusus untuk menandai hal itu.

Maluku, misalnya, kepulauan rempah-rempah yang eksotis, memiliki alam yang indah, yang pada masa lalu pernah mengalami konflik, ingin merawat dan menghadirkan perdamaian itu secara nyata melalui keseharian dan perayaan festival. Berturut-turut, pada tahun 2009 dan 2010, misi khusus mempromosikan perdamaian sejati yang tertanam di kepulauan ini dilakukan secara nasional. 

Gubernur Maluku saat itu, Karel Albert Ralahalu, pada puncak peringatan Hari Perdamaian Dunia yang dipusatkan di Taman Pelita Ambon, Maluku, Rabu (25/11/09), menyatakan, rakyat Maluku berkesempatan menegaskan kepada dunia internasional bahwa rakyat Maluku adalah rakyat yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan cinta perdamaian yang terbungkus dalam ikatan adat Pela dan Gadong. 

Pada peringatan itu pula dilakukan pemukulan Gong Perdamaian Dunia dan peresmian Monumen Gong Perdamaian Dunia yang merupakan simbol persaudaraan dan perdamaian bagi umat manusia. Gong ini pertama kali dibunyikan oleh Presiden dan Wapres RI pada 31 Desember 2002 di Bali. Kemudian tampil kedua kalinya di Jenewa, Swiss, pada 5 Februari 2003 untuk membuka Second Global Summit on Peace Through Tourism

Semenjak itu, Gong Perdamaian Dunia dibawa keliling dunia untuk menggemakan pesan persaudaraan dan perdamaian. Setelah singgah di 34 negara, akhirnya Gong Perdamaian Dunia hadir di Maluku untuk memperingati puncak Hari Perdamaian Dunia 2009.

Tiga tindakan konkret di atas kiranya memacu perjalanan wisata warga bangsa dari negara-negara yang tergabung di G20 ke destinasi negara-negara miskin. Bila hal itu terjadi, people mobility dari negara-negara maju ke negara-negara miskin semakin tinggi, diyakini akan menanam bibit perdamaian sejati di benak guest dan host, yang akan berdaya magis bagi perdamaian dunia.

(Penulis adalah Dosen Prodi Pariwisata, School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Tim Redaksi

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.