G20 Indonesia sebagai Penggerak Pemulihan Perekonomian Global

Saat ini, pemerintah berusaha untuk memperbaiki kualitas fasilitas dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat meskipun belum maksimal

Priatmi, S.Pd

1 Apr 2022 - 09.01
A-
A+
G20 Indonesia sebagai Penggerak Pemulihan Perekonomian Global

Indonesia masuk sebagai anggota G20 saat forum ini terbentuk pada tahun 1999 setelah mengalami krisis monetertahun 1997-1999 sebagai negara yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi di Kawasan Asia. Indonesia resmi menjadi presidensi Group Twenty setelah dilakukan penetapan pada Summit atau Konferensi Tingkat Tinggi G20 Ke-15 pada tanggal 22 November 2021 yang diadakan di Riyard, Arab Saudi. Penyerahan presidensi dari Italia ke Indonesia dilakukan sebelumnya pada tanggal 31 Oktober 2021 di Roma, Italia. Tema yang diusung padaPresidensi G20 Indonesia adalah “Recover Together, Recover Stronger” yang mengajak negara- negara di duniauntuk turut serta dalam pemulihan skala global pasca pandemi Covid-19.

Presiden Joko Widodo pada pidato penyerahan presidensi G20 di Roma, menjelaskan bahwa Indonesia mengusung tiga topik yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi ekonomi digital, dan transisi energi. Ketiga topikini sangat erat satu sama lain dalam pemulihan skala global untuk menata kembali perekonomian yang lesu akibat pandemi Covid-19. Tentunya hal ini tidak dapat lepas dari keterlibatan seluruh anggota forum G-20 dalam mewujudkan ekonomi global yang sehat dan berkelanjutan.

Hal pertama yang menjadi perhatian penting untuk menjalankan program yang telah disusun Indonesia dalammemulihkan perekonomian global adalah pemulihan kesehatan pasca Covid-19. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah terutamapermasalahan dalam negeri mulai dari kurang meratanya akses kesehatan, peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kesejahteraan penduduk, dan kerusakan lingkungan akibat pengelolaan sumber daya alam yangkurang memenuhi standar.

Saat ini, pemerintah berusaha untuk memperbaiki kualitas fasilitas dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat meskipun belum maksimal. Pemerintah melalui BPJS Kesehatan telah berusaha menjangkau seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai baik yang berada di daerah perkotaan maupun pedesaan.

Selama pandemi Covid-19, pemerintah juga gencar melakukan vaksinasi agar kekebalan tubuh masyarakat meningkat dan menekan angka kematian. “Sejauh ini secara kuantitas, Indonesia berhasil menjadi satu dari lima negara dengan jumlah penerima vaksin Covid-19 dosis lengkap terbanyak di dunia,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johny G. Plate. Ini membuktikan bahwa pemerintah Indonesia sangat serius untuk segera mengatasi masalah kesehatan akibat Covid-19 yang senada dengan tema G20 Indonesia “Recover Together, Recover Stronger” agar bisa pulih bersama dan pulih lebih tangguh.

Melalui format Joint Finance-Health Task Force, pada skala global Indonesia diharapkan mampu menciptakankolaborasi dalam mengendalikan pandemi dengan memastikan ketersediaan vaksin, pelayanan kesehatan danperalatan kesehatan yang memadai.

Selain itu, pemulihan kesehatan setelah terinfeksi virus Corona juga dibutuhkan agar kita dapat bekerja dan berkarya secara optimal mengingat masih ada efek jangka panjang yang didapat walaupun sudah sembuh dariCovid-19. Pada masa yang akan datang perlu perencanaan dalam pencegahan penularan penyakit dan virus pada skala yang lebih luas, pemeliharan kesehatan, dan penyediaan fasilitas kesehatan untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Akses terhadap vaksin dan alat kesehatan di berbagai wilayah yang belum terjangkau perluditingkatkan untuk menguatkan kapasitas kesehatan secara global.

Selanjutnya melalui format Digital Economy Working Group, Indonesia pada forum G20 menyelenggarakan program untuk meningkatkan konektivitas dan pemulihan pasca Covid-19, menggalakkan literasi digital dan ketrampilan digital, pemutakiran cross data flow dan data free flow with trust. Transformasi digital ini diharapkandapat menjangkau jaringan yang lebih luas dan lebih merata.

Literasi digital diperlukan agar dapat memanfaatkan perangkat digital untuk membangun konektivitas yang lebihluas, meningkatkan kerja sama global dan interaksi masyarakat internasional. Saat ini, perangkat digital lebih banyak digunakan untuk sarana hiburan semata oleh masyrakat luas. Padahal, hal ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi ekonomi pada sektor produksi, jasa, perdagangan (ekspor-impor) maupun distribusi brang.

Kelancaran komunikasi sangat dibutuhkan agar kegiatan ekonomi dapat berjalan dengan lancar. Hal ini memerlukanketerampilan digital agar dapat menggunakan perangkat digital sesuai kebutuhan. Peningkatan jangkauan jaringanyang lebih luas juga diperlukan dengan membangun pusat-pusat jaringan komunikasi agar dapat menjangkau daerah-daerah yang masih belum tersentuh teknologi.

Namun, kita juga harus waspada terhadap kejahatan dunia maya yang banyak merugikan masyarakat sepertikejahatan phising, carding, penipuan online, peretasan situs, skimming, OTP Fraud, dll. Banyak hal negatif yang muncul yang berakibat pada goyahnya kestabilan ekonomi suatu negara. Oleh sebab itu, melalui forum G20 Indonesia diharapkan mampu menciptakan transformasi ekonomi dan digital.

Topik terakhir yang diusung Indonesia adalah transisi energi yang menekankan pada akses, teknologi dan pendanaan. Dalam format Energy Transitions Working Group (ETGW) Indonesia menekankan transisi energikhususnya pada keamanan energi.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan program yang erat kaitannya dengan pembangunanberkelanjutan yang ramah lingkungan seperti mereduksi emisi karbon, meningkatkan produksi migas, pembatasan routine flaring, optimalisasi pemanfaatan gas bumi untuk rumah tangga dan transportasi, serta penurunan emisimetana.

Pengurangan emisi karbon dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi daging merah, penghematan listrik, dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Hal ini dapat mengurangi efek gas karbon yang dapat berdampak pada pemanasan global. Selain itu, perlu dilakukan pengurangan gas suar atau routine flaring pada kegiatan penambangan minyak dan gas bumi karena berdampak besar pada kerusakan lingkungan. Pengurangan gas suar dapat dilakukan untuk mengurangi emisi gas karbondioksida, black carbon, dan polutan dengan caramengembangkan teknologi tepat guna.

Hal lain yang menjadi penyumbang pemanasan global adalah emisi gas metana pada sektor perindustrian, persampahan, dan pertanian. Penurunan emisi metana dapat dilakukan dengan memanfaatkan kembali gasmetana, mengontrol lepasnya gas metana yang tidak diinginkan dari produksi minyak. Selain itu, pemerintah perlu mengatur pengelolaan sampah dan limbah serta memperbaiki tata kelola peternakan untuk mengurangi lepasnyagas metana ke atmosfer.

Pada akhirnya, ketiga topik tersebut menjadi kesatuan yang saling berkaitan satu sama lain. Kesehatan menjadi pondasi yang kuat untuk menciptakan kualitas hidup yang baik agar dapat bekerja secara optimal. Transformasiekonomi dan digital diperlukan untuk memperluas jaringan dan konektivitas untuk mendukung pertumbuhanekonomi. Transisi energi harus terus diusahakan agar terjaga sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secaraberkesinambungan. Dengan hal ini, Indonesia diharapkan dapat menjadi motivator maupun penggerak pemulihanekonomi secara global sesuai dengan tema yang diusung Indonesia “Recover Together, Recover Stronger”

*)Pengajar Bahasa Inggris di SMK Negeri 1 Godean

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Tim Redaksi

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.