Gawat! Pandemi Covid Menyusut, Emisi Karbon Naik Lagi

Pandemi Covid-19 menyusut, jelas itu kabar bagus. Namun, di sisi lain, satu penelitian mengungkapkan bahwa sejalan dengan hal itu, sekarang emisi karbon dioksida mulai meningkat kembali ke level sebelum pandemi.

M. Syahran W. Lubis

4 Nov 2021 - 15.09
A-
A+
Gawat! Pandemi Covid Menyusut, Emisi Karbon Naik Lagi

Ilustrasi pengangkutan batu bara di salah satu sungai di Pulau Kalimantan. — Reuters

Bisnis, JAKARTA – Emisi karbondioksida (CO2) global akan kembali mendekati level sebelum pandemi Covid-19, demikian satu temuan yang mengejutkan para ilmuwan.

Jumlah gas pemanas planet yang dilepaskan pada 2020 turun 5,4% karena pandemi memaksa negara-negara melakukan pembatasan. Namun, sebuah laporan ilmiah oleh Global Carbon Project memperkirakan emisi CO2 akan meningkat 4,9% tahun ini.

Ini menunjukkan kesulitan kita untuk membatasi kenaikan suhu ke ambang kritis 1,5 derajat Celsius. Peningkatan CO2 yang dilepaskan ke atmosfer ini menggarisbawahi urgensi tindakan di puncak seperti KTT Perubahan Iklim COP26 di Glasgow, kata para ilmuwan sebagaimana ditulis BBC.

Kesepakatan penting telah dicapai pada pertemuan pekan ini, tentang pembatasan emisi metana dan pembatasan deforestasi. Namun, emisi dari batu bara dan gas diperkirakan tumbuh lebih banyak pada 2021 daripada penurunan tahun sebelumnya, meski karbon yang dilepaskan dari penggunaan minyak diperkirakan tetap di bawah tingkat 2019.

Negara-negara Penyumbang Emisi Karbon Terbesar di Dunia (megaton/tahun)

Sumber: Komisi Eropa, data 2019, Uni Eropa termasuk Inggris

Dr. Glen Peters, dari Pusat Penelitian Iklim Internasional (Center for International Climate Research/Cicero) di Oslo, Norwegia, mengatakan: "Apa yang banyak dari kita pikirkan pada 2020, termasuk saya, lebih merupakan pemulihan yang tersebar selama beberapa tahun daripada hal besar 2021. Di situlah kejutan datang bagi saya, bahwa itu terjadi begitu cepat, dan juga ada kekhawatiran bahwa masih ada pemulihan yang akan datang."

Rebound cepat dalam emisi ini bertentangan dengan pengurangan CO2 ambisius yang diperlukan untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat C. Ini peningkatan yang dilihat oleh para ilmuwan sebagai pintu gerbang ke tingkat pemanasan global yang berbahaya.

Laporan Anggaran Karbon Global tahunan ke-16 disusun oleh lebih dari 94 penulis yang menganalisis data ekonomi dan informasi tentang emisi dari aktivitas lahan, seperti kehutanan.

Ini menunjukkan bahwa, jika kita terus seperti apa adanya dan tidak mengurangi emisi, ada kemungkinan 50% untuk mencapai pemanasan 1,5 C dalam waktu 11 tahun. Ini sependapat dengan temuan dalam laporan PBB baru-baru ini yang mengingatkan bahwa kita akan sampai di kondisi itu pada awal 2030-an.

NOL BERSIH 2050

Prof Corinne Le Quéré, dari University of East Anglia di Norwich, Inggris, mengatakan untuk membatasi perubahan iklim hingga 1,5 derajat C, emisi CO2 harus mencapai nol bersih pada 2050. Jadi, melakukan hal itu dalam garis lurus berarti mengurangi emisi global hingga 1,4 miliar ton CO2 setiap tahun.

Penurunan pada 2020 adalah 1,9 miliar ton, tetapi itu dalam kondisi banyak pembatasan di seluruh dunia. Jadi, mengurangi emisi dengan jumlah yang kira-kira setara dengan yang pada periode pasca-lockdown menghadirkan tantangan yang menakutkan, tetapi para ilmuwan menekankan bahwa itu tetap dapat dicapai.

"Secara pribadi, saya pikir [tujuan 1,5o C] masih hidup, tetapi semakin lama kita menunggu, semakin sulit. Kita perlu tindakan segera untuk pengurangan emisi karbon," kata rekan penulis Pierre Friedlingstein, dari University of Exeter di Cornwall, Inggris.

Prof Le Quéré sependapat dengan hal itu. Menurut dia, penurunan 1,4 miliar ton emisi setiap tahun ini memang penurunan yang sangat besar, tetapi layak dilakukan dengan tindakan bersama. “Kita perlu membatasi perubahan iklim serendah mungkin dan 1,5o C adalah target yang baik untuk dipertahankan."

Emisi di China diperkirakan 5,5% lebih tinggi pada 2021 dibandingkan dengan 2019 dan juga diproyeksikan meningkat di India yakni naik 4,4% pada 2021 dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi.

Dr Peters mengatakan para komentator harus ingat bahwa China bertanggung jawab atas hampir 30% emisi karbon global, sedangkan 70% sisanya harus ditangani oleh seluruh dunia.

Negara adidaya juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dalam dekade terakhir dan telah beralih ke sumber energi rendah karbon pada tingkat yang lebih cepat daripada banyak negara lain.

Pertumbuhan emisinya tahun ini terkait dengan paket stimulus—yang berfokus pada industri berat—yang pada gilirannya merupakan respons terhadap perlambatan terkait Covid.

"China melakukannya dengan sangat baik di banyak dimensi: menyebarkan tenaga surya, menyebarkan angin, bus listrik, kendaraan listrik, dan ada banyak hal positif yang terjadi di China," jelas Dr Peters. "Namun sayangnya, paket stimulus seringkali cenderung fokus pada sektor industri - konstruksi, baja, semen. Ini membutuhkan batu bara.”

“Jika China dapat membalikkannya, mereka memiliki banyak potensi untuk mengurangi emisi, karena memiliki begitu banyak potensi untuk penyebaran skala besar tenaga surya dan angin yang tidak dimiliki negara lain.”

Pada COP26 pekan ini, India berjanji mencapai nol bersih—dengan emisinya berkurang dan sisanya diimbangi dengan proyek-proyek seperti penanaman pohon—pada 2070. Seperti China, India memasang banyak kapasitas angin dan matahari, tetapi sumber bahan bakar fosil juga berkembang.

Emisi 2021 yang diproyeksikan di AS, Uni Eropa, dan seluruh dunia tetap, masing-masing, 3,7%, 4,2%, dan 4,2% di bawah level 2019, sebagian besar karena kebijakan yang dirancang untuk mengurangi emisi dari bahan bakar fosil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Syahran Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.