Geliat IPO Tak Surut di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Minat calon emiten untuk melantai di Bursa Efek Indonesia diproyeksi masih tinggi. Penggalangan dana di pasar modal terutama melalui penawaran umum perdana (IPO) saham masih bakal tumbuh di tengah tekanan geopolitik global.

Asteria Desi Kartikasari
Apr 21, 2022 - 12:16 PM
A-
A+
Geliat IPO Tak Surut di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Seremoni pencatatan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/4/2022). GoTo meraih dana Rp15,8 triliun dari IPO dan penjualan saham treasury./Istimewa

Bisnis, JAKARTA—   Meski kondisi geopolitik  kurang mendukung, nyatanya tidak menyurutkan aktivitas penggalangan dana melalui aksi penawaran saham perdana atau initial public offering/IPO perusahaan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Buktinya tren IPO menunjukan angka peningkatan. Bahkan diproyeksikan  masih akan bertumbuh.

Realisasi IPO hingga 1 April 2022 mencapai 14 emiten baru dengan penggalangan dana Rp16,93 triliun. Dari IPO tersebut,penggalangan dana terbesar berasal dari perusahaan teknologi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO)  

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021, realisasi tersebut lebih tinggi karena pada periode itu hanya dilakukan 12 emiten dengan dana  yang terkumpul Rp2,13 triliun. 

Faktor lainnya, bursa saham Indonesia juga masih diminati oleh investor asing. Hal tersebut tercermin dari transaksi net buy asing di pasar saham Indonesia yang mencapai Rp43,6 triliun secara tahun berjalan, sedangkan transaksi rata-rata harian tahun berjalan mencapai Rp14,67 triliun. 

Adapun sepanjang tahun ini, bursa menargetkan terdapat 55 emiten baru yang bakal melakukan aksi korporasi melalui IPO. Sejumlah perusahaan yang dikabarkan melakukan IPO tahun ini misalnya saja e-commerce di bawah naungan Grup Djarum,  Blibli.com; lalu ASDP Indonesia Ferry; Pertamina Geothermal Energi; dan anak usaha Telkom yang bergerak di data center yaitu Datacenter co.

Meski begitu, kondisi global juga masih dibayangi risiko yang perlu diantisipasi. Untuk itu, dibutuhkan strategi dan momen yang tepat bagi calon emiten agar mampu menggalang dana sesuai dengan target, termasuk investor mendapatkan manfaat dari IPO. 

Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis aktivitas IPO pada tahun 2022 tumbuh  dengan kondusif seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut. 

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna berujar  prospek pertumbuhan IPO pada tahun ini ditopang oleh kelanjutan pemulihan ekonomi. Beberapa indikator pasar modal seperti minat perusahaan yang akan melakukan penggalangan dana masih relatif tinggi.  Kondisi tersebut juga didukung oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang  menunjukkan pertumbuhan .Hingga 20 April 2022 IHSG  telah menyentuh angka 7.227,36. 

“Indikator lain yang mendukung adalah tren investor di pasar modal Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya saat dihubungi, Kamis (21/4/2022).

Kondisi ekonomi Indonesia juga relatif stabil di tahun 2022 ini.  Tentunya itu dapat memberikan  imbas positif pada kondisi pasar modal lebih kondusif . Selain itu juga didukung  oleh supervisi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kepercayaan stakeholder pasar modal tetap terjaga. “[Ini]  memberikan optimisme tahun ini dapat lebih baik dari tahun sebelumnya,”ujarnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia Samsul Hidayat menjelaskan IPO masih menjadi pilihan yang menarik bagi perusahaan mencari dana. “Dengan kondisi seperti saat ini, perusahaan harus sangat berhati-hati dalam menambah beban perusahaan apabila harus mencari dana dengan beban bunga yang besar,” katanya kepada Bisnis, Kamis (21/4/2022).
 
Menurutnya, faktor pendorong IPO juga dari  besarnya pasar modal Indonesia saat ini sehingga mempunyai kapasitas menyerap penerbitan saham-saham baru. Selain itu, banyaknya keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan dengan IPO, baik dari sisi efisiensi maupun dari sisi administrasi, supervisi dan tata kelola.
 
“Prospeknya masih akan terus bertumbuh, seiring dengan semakin normalnya kegiatan perekonomian, pasca pandemi dan mulai terkontrolnya beberapa ketidakpastian global,” tambahnya.
 
Lebih lanjut, Anggota Dewan Kehormatan Asosiasi Emiten Indonesia Theo Lekatompessy mengungkapkan saat ini sulit memprediksi kondisi pasar dalam waktu lebih dari tiga bulan. Alasannya, eskalasi geopolitik ke perang dunia ketiga bakal mengubah peta pasar. “Saat ini sangat susah memprediksi kondisi pasar bila lebih dari 3 bulan ke depan. Katakan saja bila bulan depan ada eskalasi perang dunia ke-3, maka semua bisa berubah,” paparnya saat dihubungi.
 
Kendati demikian, penggalangan dana lewat IPO menurutnya masih bakal naik terutama perusahaan strategis dan yang dibeli pemiliknya sendiri dengan supervisi investor dari luar negeri. Selain itu, dapat pula IPO dilakukan dengan skema fronting via pihak ketiga dapat semakin marak.“Alasannya, pemain pasar menghindari tahun 2023 yang akan marak persiapan pilpres, yang mana risiko politik dan ekonomi Indonesia akan naik,” tuturnya.
 
Sementara itu, penggalangan melalui right issue masih tetap menarik, bukan hanya perusahaan yang membutuhkan dana investasi, tetapi sebagian pula terdapat perusahaan yang tengah mengalami krisis sehingga memerlukan kolega penyelamat perusahaan tersebut. Masuknya investor baru, baik melalui  melalui rights issue maupun private placement.
 

Selain itu, lanjutnya, penggalangan obligasi korporasi tetap bakal terjadi  meski terbatas karena semua memiliki kekhawatiran dengan adanya perang di Ukraina, yang membuat harga komoditas terutama minyak yang terus naik dan inflasi yang turut tinggi,
 
Berbagai kondisi ini dapat menghasilkan efek domino negatif seperti obligasi pemerintah sepi peminat hingga pelemahan rupiah. Di sisi lain, likuiditas juga akan kembali ke Amerika Serikat (AS) seiring dengan rencana tapering The Fed.
 
“Semua perusahaan berkejaran dengan waktu terutama untuk yang memiliki rating A ke atas seperto BUMN, tambang, kebun, konsumer, logistik, dan maritim akan  kejar tayang obligasi korporasi,” tambahnya.
 
Selain itu, Theo lebih mengkhawatirkan kondisi pasar pada kuartal III/2022 dan kuartal IV/2022, pasca Hari Raya dan subsidi habis. Kemudian, pada 2023 saat penunjukan pelaksana tugas kepala daerah dan kampanye Pilihan Presiden  2024. “Ini yang menjadi tantangan tim BEI dan OJK yang baru, mengendalikan bursa melalui periode yang penuh tekanan makro dan global,” katanya.


Melampaui Malaysia

Sebelumnya, Dalam laporan Ernst & Young (EY) , RI memfasilitasi penggalangan dana senilai US$219 juta yang berasal dari IPO.  Jumlah 12 emiten baru itu melampaui capaian Bursa Malaysia dan Thailand yang mendapatkan lima emiten baru pada periode yang sama.

Meski demikian, dari sisi penghimpunan dana, Indonesia berada di bawah Malaysia yang menghimpun US$362 juta dan Thailand sebesar US$228 juta. Menyusul di belakang Indonesia adalah Filipina yang mencatat empat emiten baru dengan penggalangan dana US$201 juta. Sementara itu, bursa Singapura menyambut tiga emiten baru dengan dana yang terkumpul US$17 juta.

Kepala Strategi dan Mitra Transaksi PT Ernst & Young Indonesia Sahala Situmorang mengatakan Indonesia menyaksikan aktivitas IPO paling aktif pada kuartal I/2022 di antara negara Asean. Kendati menjadi yang paling aktif, menurutnya, realisasi IPO di Tanah Air pada periode ini lebih rendah dibandingkan dengan kuartal IV/2021. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada kuartal IV/2021, 18 emiten baru menggalang dana Rp46,89 triliun.

Sahala melanjutkan sektor yang paling populer di pasar IPO pada kuartal I/2022 adalah barang konsumsi. Tercatat, 58,3 persen dari pendatang baru di bursa melakukan bisnis di sektor ini. Mengikuti jejak perusahaan teknologi seperti Bukalapak dan GoTo, beberapa perusahaan teknologi lain juga berencana untuk IPO.

Sahala menambahkan ketegangan geopolitik juga telah memicu kenaikan harga komoditas yang signifikan. Hal ini diperkirakan akan berdampak positif bagi para pendatang baru yang bekerja di bisnis terkait komoditas.

Sebanyak 3 perusahaan merupakan perusahaan aset skala kecil atau di bawah Rp50 miliar, 12 perusahaan dengan aset skala menengah atau di antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, dan 15 Perusahaan aset skala besar dengan aset di atas Rp250 miliar.

 (Rinaldi Mohammad Azka, Lorenzo Anugrah Mahardhika)

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Geliat IPO Tak Surut di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ