Generasi Muda di Sektor Logistik & Kiat TIKI Bentuk SDM Unggul

Pada 2020–2023, terdapat 19 program studi baru yang didirikan untuk jenjang D3 sampai dengan S2 di bidang logistik berdasarkan data BAN-PT. Di saat yang sama, ada kenaikan minat generasi muda untuk menggeluti studi tersebut.

Jaffry Prabu Prakoso

3 Jan 2024 - 14.10
A-
A+
Generasi Muda di Sektor Logistik & Kiat TIKI Bentuk SDM Unggul

Karyawan PT. Citra Van Titipan Kilat (TIKI) sedang melayani pelaku UMKM yang ingin menggunakan jasa kurir. /Dok. TIKI

Bisnis, JAKARTA – Mengenyam pendidikan di bidang logistik usai sekolah menengah atas (SMA) adalah sebuah kebetulan yang tak pernah diduga bagi Davina Salsabila. Meski begitu, dara asal Bekasi, Jawa Barat itu, tak pernah setengah-setengah mengenal lebih dalam Jurusan Sistem Logistik di Institut Transportasi dan Logistik Trisakti.

Di tahun terakhir SMA, Dav sudah memantapkan diri untuk mengambil pendidikan jurusan psikologi. Berbagai upaya telah dilakukan. Giat belajar dan mencoba banyak latihan soal agar bisa lolos di perguruan tinggi negeri (PTN).

Takdir berkata lain. Tidak ada satupun PTN yang menerima Dav karena peminatnya cukup tinggi. Padahal, hampir semua jenis tes yang diadakan lembaga negara diikutinya.

Dav tidak patah arang. Dia menggali informasi jenis pendidikan yang potensial dan menyerap banyak tenaga kerja. Tak mungkin Dav tetap mengambil jurusan psikologi di perguruan tinggi swasta karena hampir semua kampus memilikinya.

Baca juga: FOKUS Harbolnas; Periode Sibuk Jasa Kurir

Di tengah pencarian itu, Dav mendapat tawaran untuk melirik bidang logistik. Ditelisik lebih dalam, jurusan tersebut adalah jawaban atas pencarian Dav setelah gagal mengejar salah satu impiannya.

“Jadi saya lebih memilih logistik di mana cuma beberapa kampus saja yang menyediakan jurusan ini,” katanya kepada Bisnis akhir tahun 2023.

Dav semakin yakin memilih pendidikan bidang logistik karena keluarga mendukung. Begitu pula dengan tetangga. Apalagi universitas yang dipilih cukup ternama.

Meski bukan pilihan utama, Dav mengerahkan seluruh daya untuk menekuni pendidikan sistem logistik. Beberapa pelajaran sulit dia coba untuk pahami agar bisa ahli dan terampil dalam ilmu yang mempelajari segala bentuk fasilitas serta digunakan untuk menyalurkan barang tersebut.

“Ilmu yang didapat tentu sangat bermanfaat dan sangat berguna bukan hanya di bidang logistiknya, tapi juga untuk jurusan lain,” jelasnya.

Direktur Utama PT. Citra Van Titipan Kilat (TIKI) Yulina Hastuti mengatakan bahwa terjadi peningkatan minat pada generasi muda terhadap bidang logistik. Ini dapat dilihat dari tren tumbuhnya pembukaan program studi baru di beberapa universitas terkait bidang Logistik.

Pada 2020–2023, tambah Yulina, terdapat 19 program studi baru yang didirikan untuk jenjang D3 sampai dengan S2 di bidang logistik berdasarkan data BAN-PT. Di saat yang sama, ada kenaikan minat generasi muda untuk menggeluti studi tersebut.

Yulina melihat peningkatan minat disebabkan oleh kesadaran masyarakat terkait peluang yang terus berkembang di bidang logistik. Lalu, sektor tersebut dan transportasi memunculkan banyak pekerjaan dalam beberapa tahun terakhir.

“Hal lain, perkembangan e-commerce dan kemajuan teknologi dalam integrasi proses logistik juga menarik perhatian generasi muda yang akrab dengan teknologi untuk terlibat dalam pengembangan logistik di era digital,” katanya kepada Bisnis.


Karyawan melayani melabeli barang yang akan dikirim di salah satu gerai Tiki di Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha


Menurut Yulina, talenta muda adalah cerminan konsumen saat ini dan masa depan. Mereka dapat memberikan masukan juga ide-ide segar yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen masa kini.

Selama 53 tahun hadir di Tanah Air, TIKI terus mendukung dan berkontribusi pada pembangunan dan pengembangan sektor kurir dan logistik di Indonesia. Regenerasi perlu diupayakan dengan melibatkan para pelaku industri. Tujuannya adalah agar kompetensi yang dicetak sesuai dengan kebutuhan industri masa depan yang semakin digital.

Berdasarkan latar belakang tersebut, TIKI bekerja sama dengan tiga kampus untuk menciptakan kualitas SDM yang unggul di bidang logistik. Kolaborasi mencakup program pelatihan dan pendidikan mahasiswa melalui praktisi mengajar dan kunjungan mahasiswa.

Lalu, program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan magang. Kerja sama tersebut juga membuka peluang kewirausahaan melalui program kemitraan TIKI. Perusahaan juga memfasilitasi karyawan TIKI yang ingin memperkaya ilmu pengetahuan dan menempuh pendidikan.

Baca juga: Menangkap Peluang dengan Layanan Same Day Delivery

“TIKI berharap dapat mendukung lembaga pendidikan dalam penyelarasan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri, menjaring lebih banyak talenta-talenta muda berbakat untuk bergabung bersama TIKI memajukan industri kurir dan logistik nasional,” terang Yulina.

Kebutuhan dan Ketersediaan Pasar

Pelaku usaha menilai SDM menjadi penggerak utama dalam tumbuhnya ekonomi nasional, termasuk sektor logistik. Oleh karena itu, kompetensi dan semangat juang tenaga manusia perlu dibangun.

Sayangnya, yang terjadi di industri logistik masih belum ideal. Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Akbar Djohan mengatakan bahwa ada kesenjangan yang cukup tinggi antara penyedia kerja dan pencari kerja.

Industri logistik butuh banyak SDM yang terdidik dan terlatih sehingga siap pakai. Itu karena sistem pendidikan yang ada belum berorientasi pada membentuk keahlian. Hal tersebut membuat industri kekurangan tenaga terampil. Jurang pemisah ini sangat lebar.

Sebagai perbandingan, tambah Akbar, paling banyak 30% SDM yang mampu memenuhi kriteria pasar dari kebutuhan yang ada. Artinya, hanya 3 orang yang bisa terserap dari 10 peluang lapangan kerja.

Untuk mengatasi ini, pelaku industri membajak karyawan kompetitor. Akhirnya membuat biaya SDM tinggi yang bermuara pada biaya logistik.

“Dunia pendidikan kita baik perguruan tinggi bahkan diploma atau vokasi belum menjadi matchmaker. Jadi, belum ketemu antara kebutuhan SDM dan pencari kerja,” katanya kepada Bisnis.




Untuk mengatasi hal tersebut, Akbar menuturkan bahwa perlu ada perubahan sistem pendidikan yang bisa mengikuti pasar. Secara paralel, dibentuk mahasiswa yang tersertifikasi sesuai dengan kebutuhan industri.

Dia mencontohkan perlakuan pengiriman logistik untuk perayaan hari besar sangat berbeda dengan ke daerah bencana. Perlu keahlian sendiri sehingga rantai pasok berjalan dengan lancar, tepat, dan cepat.

Apabila hal tersebut bisa diselesaikan, Akbar optimistis tidak akan ada lagi pelaku industri berebut SDM berpengalaman. Di saat yang sama, generasi muda lulusan logistik cepat terserap pasar.

“Supaya pameo bahwa lulusan perguruan tinggi itu akan nganggur, bisa dikembalikan jadi pameo bahwa sebelum lulus bisa kita pakai,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.