Generasi Terakhir Perajin Tusuk Konde Patri Tiup, Simak Kisahnya

Patri Tiup adalah teknik pertama dan merupakan warisan leluhur yang digunakan oleh masyarakat Kotagede, Yogyakarta, untuk membuat tusuk konde.

Luke Andaresta
Dec 15, 2021 - 6:57 AM
A-
A+
Generasi Terakhir Perajin Tusuk Konde Patri Tiup, Simak Kisahnya

Tusuk konde patri tiup (Dok. Bonfilio Yosafat)

Bisnis, JAKARTA – Tak bisa dipungkiri Indonesia memang kaya akan keragaman budaya dan warisan leluhur.

Namun, kemajuan peradaban yang begitu cepat mengorbankan banyak aspek dalam kehidupan, termasuk warisan budaya leluhur.

Salah satu warisan budaya yang hampir punah adalah tusuk konde Patri Tiup.

Patri Tiup adalah teknik pertama dan merupakan warisan leluhur yang digunakan oleh masyarakat Kotagede, Yogyakarta, untuk membuat tusuk konde.

Bagi masyarakat Jawa, tusuk konde merupakan aksesori penting yang berfungsi sebagai hiasan sanggul.

Aksesori ini senantiasa digunakan oleh perempuan Jawa dalam berbagai keperluan seperti penari tradisional, pengantin perempuan, hingga acara-acara resmi.

Pak Bardian (67), perajin generasi terakhir tusuk konde patri tiup di Kotagede, Yogyakarta (Dok. Bonfilio Yosafat)

Seperti namanya, proses pembuatan tusuk konde satu ini menggunakan tangan (handmade) dengan metode patri, kemudian ditiup. 

Sayangnya, saat ini perajin pembuat tusuk konde dengan teknik patri tiup semakin berkurang dan hanya menyisakan Pak Bardian (67), perajin patri tiup generasi terakhir yang ada di wilayah Kotagede.

Pak Bardian sudah menekuni kerajinan tusuk konde sejak SD melalui didikan sang kakak. Meski beragam alat modern bisa memudahkan proses pembuatan sanggul, Pak Bardian masih mengandalkan kemampuan tiupnya untuk membuat tusuk konde yang terbuat dari bahan kuningan.

Founder of Nusantara Documentary, Bonfilio Yosafat, membagikan proses di balik pembuatan tusuk konde patri tiup dalam karya dokumenter bertajuk Generasi Terakhir Pengrajin Tusuk Konde Patri Tiup yang bekerja sama dengan manufaktur sepeda motor India, Royal Enfield.

Menurut Bonfilio, hal yang paling menarik dalam membuat tusuk konde ini adalah ketika menyambungkan antara motif dan tangkai tusuk konde. Pak Bardian, kata Bonfilio, perlu mengolah napas kapan dihembuskan dan kapan ditahan dalam proses pemanasan patrinya.

“Pembuatan tusuk konde ini menggunakan metode patri tiup. Metode patri sendiri ada gembosan dan ada tiup,” katanya dalam diskusi daring, Selasa (14/12/2021).

Proses pembuatan

Pembuatan tusuk konde ini diawali dengan lembaran kuningan yang sudah tercetak menjadi tangkai dan lembaran tusuk konde.

Hasil cetakan tersebut kemudian disatukan dengan cara meniup “plong” agar tercipta kobaran api. Semua proses ini mengandalkan kemampuan tiup untuk menjaga agar api tetap menyala.

Untuk merekatkan besi pada kuningan diperlukan panas api. Dalam prosesnya, pompa tradisional berbahan kayu untuk menghasilkan nyala api berwarna biru, sementara matri menghasilkan nyala api berwarna merah.

Pak Bardian harus mengenali level panas secara manual, untuk berjaga-jaga agar kuningan tidak habis meleleh dimakan api.

Untuk mengendalikan panas api, Pak Bardian mengandalkan instingnya untuk mengetahui ritme tiupan agar apinya tidak terlalu panas, dengan hentakan menjaga ritme tiup-diam-tiup agar api menyala konstan.

Ketika diam api ikut meredup, keseimbangan panas ini yang harus terjaga. Hal ini yang disebut teknik byar pet.

“Byar pet itu adalah teknik mengolah nafas saat meniup plong dalam proses pembuatan tusuk konde. Jadi dalam proses penyambungan harus ada jeda [untuk memperoleh motifnya],” lanjut Bonfilio.

Generasi terakhir

Kerja keras Pak Bardian dalam 2 hari mampu menghasilkan 5 kodi tusuk konde  yang akan didistribusikan ke toko-toko di Kotagede.

Dahulu, hampir semua perajin sanggul di Desa Selokraman menggunakan teknik patri tiup.

Cetakan tusuk konde patri tiup (Dok. Bonfilio Yosafat)

Seiring waktu, kini hanya Pak Bardian satu-satunya perajin yang masih menggunakan teknik patri tiup karena beberapa rekannya yang juga menggunakan teknik tradisional itu telah meninggal dunia.

Bonfilio juga mengungkapkan bahwa Pak Bardian sempat vakum selama tiga tahun, karena dirinya terkena stroke. Namun, akhirnya dia kembali pulih dan tetap semangat melakukan pembuatan tusuk konde patri tiup.

“Kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan Pak Bardian dalam membuat tusuk konde patri tiup semoga dapat menginspirasi generasi muda untuk mengingat warisan budaya leluhur mereka,” kata Bonfilio.

Video dokumenter Generasi Terakhir Pengrajin Tusuk Konde Patri Tiup dari Nusantara Documentary merupakan bagian dari kampanye sosial Royal Enfield, #LeaveEveryPlaceBetter.

Kampanye ini bertujuan mempromosikan budaya berkendara secara bertanggung jawab dan mengajak para pengendara sepeda motor Royal Enfield untuk ride with a good cause (berkendara dengan tujuan baik).

Editor: Rustam Agus

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar