Geosains, Upaya Minimalkan Korban Gempa Bumi

Meskipun kerap kali didera gempa dan tsunami, Jepang mampu menekan jatuhnya korban jiwa. Formula Jepang dalam meminimalisasi korban jiwa yaitu secara literasi kegempaan sudah dilakukan sejak dini

Redaksi

30 Nov 2021 - 21.52
A-
A+
Geosains, Upaya Minimalkan Korban Gempa Bumi

Kedahsyatan gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018./Reuters

Bisnis, JAKARTA – Indonesia kerap kali dilanda gempa karena memang di bawahnya terdapat pertemuan sejumlah lempeng Bumi yang menjadi penyebab gempa tektonik. Indonesia pun “kaya” akan gunung api yang membuat tanah sebur, tapi juga memicu gempa vulknik.

Gempa memang tidak bisa diprediksi, tapi bukan berarti kita cukup diam dan menunggu saja. Gejala gempa dan pemetaan gempa dapat dipelajari dalam kajian ilmu ilmiah, sehingga berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa manusia.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Nuraini Rahma Hanifa mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk meneliti gerakan dan getaran bawah tanah untuk dipetakan sebagai potensi besar.

Dia bahkan pernah mendapatkan gelar penghargaan Women's International Network for Disaster Risk Reduction (WIN DRR) Leadership Awards 2021 dari UNDDR di Bangkok, Thailand, atas dedikasinya sebagai perempuan yang mempelajari pemetaan dan karakteristik gempa.

“Penelitian saya di bidang Teknik Geodesi, Geomatika, dan Geospatial bertujuan memahami geodnamika bumi untuk studi sains dan rekayasa kegempaan, tsunami, dan disaster science, tapi saya lebih nyaman menyebutnya Geosains,” kata Nuraini seperti ditulis Antara.

Indonesia merupakan negara kepulauan dan juga negara seismik aktif, sehingga banyak sekali terjadi gempa, tsunami, dan bencana alam lainnya yang memakan korban, mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi.

Lulusan dengan sebutan Doctor of Science dari Universitas Nagoya Jepang ini mempelajari fenomena gempa dari kejadian Pangandaran 2006 yaitu sebagai tsunami senyap dan berkesempatan langsung belajar dengan Professor Emeritus seismologi dan penemu Tsunami Senyap.

Gempa melanda Bali pada 17 November 2019./Antara

Kemudian, pada 2008, setelah terpasang alat monitoring dari Badan Informasi Geospasial (BIG) Continuous GPS Network (Ina-CORS), data itu dia gunakan dalam studi S3 untuk mengkuantifikasi estimasi potensi gempa megathrust di selatan Jawa bagian barat.

Data cGPS selama 3 tahun menunjukkan adanya akumulasi energi di bidang megathrust Jawa setara dengan paling tidak 8,7 magnitudo dan dipublikasikan pada jurnal Q1/2014.

11 JENIS BAHAYA

Area pantai selatan di Jawa Barat merupakan salah satu area yang rentan terdampak bahaya gempa megathrust dan tsunami. Hasil penelitian Nuraini mendapati modelling yang dapat digunakan sebagai dasar analisis dampak potensial gempa dan tsunami di Pangandaran.

Lebih lanjut, dia menjelaskan banyak negara di Asia Pasifik rawan akan bencana. Dia mencontohkan Indonesia memiliki setidaknya 11 jenis bahaya yang bisa memicu risiko bencana yang kompleks dan mengancam hampir seluruh penduduk sekitar 272 juta orang.

Seismograf, alat pengukur kekuatan gempa./Reuters

Salah satu bencana tersebut, lanjutnya, adalah tsunamigenic Sumatra 2004, serangkaian gempa tsunami di sepanjang Palung Sunda, hingga gempa, tsunami dan likuefaksi Palu pada 2018. Untuk itu, ilmu pengetahuan tentang kebencanaan perlu diwariskan lintas generasi dan disebarkan di tingkat lokal.

Hasil studi S3 yang dilakukan Nuraini kemudian menjadi salah satu input dalam penyusunan pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Nasional 2017 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), yang selanjutnya memutakhirkan SNI 1726:2019 Kode Bangunan Tahan Gempa untuk Gedung dan Non Gedung, serta dijadikan dasar dalam penyusunan peta kajian risiko gempa sesuai dengan Perka BNPB 2/2012.

Nuraini belajar kegempaan di Jepang yang sering dihantam gempa. Dia menjelaskan meski sama-sama kerap didera gempa dan tsunami, Jepang mampu menekan jatuhnya korban jiwa.

“Gempa sedikit rasionya untuk mematikan, rata-rata korban jiwa disebabkan tertimpa runtuhan bangunan dan konstruksi lainnya yang roboh. Jepang bisa minim korban karena menyadari hal itu,” paparnya.

Dia menilai formula Jepang dalam meminimalisasi korban jiwa yaitu secara literasi kegempaan sudah dilakukan sejak dini dengan banyak mengadakan simulasi gempa di sekolah-sekolah, sehingga spontanitas dalam bertindak saat bencana sudah terbentuk.

Selain itu, bangunan harus tersertifikasi tahan gempa dan dengan materi yang ringan, sehingga ketika roboh tidak mematikan mereka yang tertimpa.

Bencana terjadi pada saat manusia yang hidup di atas bumi tidak siap hidup harmonis dengan dinamika bumi, sehingga aspek manusia kemudian menjadi hal yang sangat penting.

Hal itu mendorong untuk mentranslasi dan menjembatani hasil-hasil riset kebumian untuk mendorong kebijakan dan aksi di masyarakat sehingga dapat hidup lebih tangguh terhadap bencana dengan berbasis sains.

Berbagai kejadian bencana seperti gempa dan tsunami Aceh pada 2004, gempa tsunami Pangandaran 2006, gempa-tsunami-likuifaksi Palu 2018, tsunami Krakatau 2018 dan masih banyak lagi mengajarkan bahwa Nusantara yang demikian luasnya memiliki karakteristik lokal di setiap daerah.

Untuk itu, riset mendetail secara lokal perlu lebih banyak lagi dilakukan dan diperdalam, disandingkan dengan kearifan lokal, sehingga dapat membantu masalah akan bencana alam, untuk mengurangi disrupsi pembangunan, dan memajukan kesejahteraan bangsa, dalam mencapai Indonesia Emas 2045.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Syahran Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.