Gerak Saham JSMR Diproyeksi Tertahan Meski Trafik Jalan Tol Naik

Kebutuhan belanja modal Jasa Marga (JSMR) diproyeksi bakal meningkat karena jumlah proyek yang dikerjakan oleh perusahaan semakin banyak.

Dwi Nicken Tari
Sep 13, 2021 - 12:20 PM
A-
A+
Gerak Saham JSMR Diproyeksi Tertahan Meski Trafik Jalan Tol Naik

Tengara Jagorawi di salah satu titik ruas jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi. Jalan tol Jagorawi merupakan jalan tol pertama yang dikelola oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. - Jasa Marga

Bisnis, JAKARTA - PT Jasa Marga (Persero) Tbk. mulai mencatatkan kenaikan trafik lalu lintas di jalan tol pada bulan ini. Namun, katalis positif itu tidak cukup mendongkrak laju saham emiten berkode JSMR tersebut.

Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Dwimawan Heru menjelaskan trafik lalu lintas selalu terdampak oleh kebijakan pembatasan aktivitas dari pemerintah. Jika melihat JSMR, trafik jalan tol pada awal tahun turun 15 persen dibandingkan kondisi sebelum pandemi.

Saat pemerintah memberlakukan PPKM Darurat pada awal Juli 2021, trafik jalan tol JSMR kembali berkurang hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal.  Pendapatan tol JSMR pada periode PPKM Darurat diperkirakan berkurang sekitar 4 persen dibandingkan kondisi normal.

Meski begitu, keadaan berangsur pulih pada Agustus ketika pemerintah melonggarkan PPKM menjadi ke Level 4. Trafik jalan tol pun membaik dengan penurunan hanya 20-30 persen dari kondisi normal.

“Dan sekarang ini September sudah turun hanya sekitar 12 persen dibandingkan kondisi sebelum pandemi,” ujar Heru.

Lebih lanjut, dia menyebut bisnis jalan tol merupakan salah satu sektor yang paling tahan banting pada masa pandemi. Kinerja perusahaan jalan tol juga bakal cepat pulih ketika pemerintah kembali melonggarkan pembatasan.

Perusahaan pun menyakini jika tingkat trafik lalu lintas bakal segera pulih. “Seperti awalnya PPKM Darurat sekarang di beberapa kota sudah PPKM Level 3, ini akan mendorong juga peningkatan lalu lintas dan pendapatan Jasa Marga tentunya,” kata Heru dalam paparan publik, Rabu (8/9/2021).


Dengan kondisi tersebut, J.P. Morgan Sekuritas Indonesia tetap memberikan rekomendasi netral untuk JSMR. Itu lantaran harga saham Jasa Marga akan dipengaruhi oleh risiko tingginya kebutuhan belanja modal di masa depan.

Analis J.P. Morgan Sekuritas Indonesia Henry Wibowo dan Arnanto Januri menjelaskan pendapatan mingguan Jasa Marga dari jalan tol pulih menjadi 14 persen di bawah level sebelum pandemi pada pekan ketiga Agustus 2021. Sebelumnya, trafik jalan tol milik Jasa Marga sempat anjlok 38 persen di bawah label sebelum pandemi pada pekan 19-25 Juli 2021.

Namun, trafik kembali terangkat setelah pemerintah melonggarkan level PPKM dari Level 4 menjadi Level 3 di kawasan Jabodetabek dan sebagian besar kawasan di Pulau Jawa mulai 24 Agustus 2021. “Kami perkirakan volume trafik dapat kembali ke level setelah Lebaran [seperti pada akhir Mei atau akhir Juni] ketika trafik 5 persen di atas level prapandemi,” tulis J.P. Morgan dalam riset yang dipublikasikan lewat Bloomberg, dikutip dari bisnis.com pada Senin (13/9/2021).

Hambatan Gerak Saham JSMR

Walaupun kenaikan trafik menjadi sentimen positif, Henry dan Arnanto menilai dayanya tidak akan cukup untuk menaikkan harga saham dari level sekarang ini. Pasalnya, pelaku pasar terlihat sudah menduga hal tersebut dan priced-in.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham JSMR melemah 2,5 persen menjadi Rp3.900 pada penutupan perdagangan Senin (13/9/2021). Adapun harga saham JSMR sudah naik sekitar 17 persen dari level terendahnya saat PPKM yang mengindikasikan pasar sudah memperkirakan pemulihan trafik tersebut.

Di luar sentimen trafik, Henry dan Arnanto menilai harga saham JSMR selama 6 hingga 12 bulan ke depan akan dipengaruhi oleh risiko belanja modal atau capital expenditure (capex) yang meningkat. Itu karena JSMR memiliki dua proyek jalan tol yang belum masuk tahapn konstruksi yang membutuhkan belanja modal seitar Rp30 trliun.

Selain itu, JSMR juga tampaknya akan berinvestasi di proyek baru ruas tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap. Proyek tersebut memerlukan capex sekitar Rp18 triliun.

“Kami melihat potensi divestasi aset ke Indonesia Investment Authority (INA) sebagai katalis jangka pendek, tapi risiko kenaikan capex menutup semua manfaat yang didapat dari deleveraging,” tulis J.P. Morgan. J.P. Morgan memberikan rekomendasi netral untuk JSMR dengan target harga Rp3.700.

 

 

Irit Belanja Modal

Meski diproyeksi belanja modal JSMR bakal membengkak tahun depan. Perusahaan itu justru sedang irit mengunakan capex pada tahun ini.

Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto memperkirakan serapan belanja modal mencapai kisaran Rp5 triliun - Rp7 triliun hingga akhir tahun ini. Hingga akhir semester I/2021, perseroan baru membelanjakan sekitar Rp2 triliun dari anggaran capex Rp7 triliun.

“Mengingat PPKM seperti sekarang ini, memang progres di lapangan jauh lebih lambat dibandingkan rencana awal,” kata Adri dalam paparan publik, pekan lalu.

Adapun, anggaran capex dari emiten dengan kode saham JSMR ini menciut dibandingkan tahun lalu yang mencapai dobel digit. Hal ini seiring dengan beberapa proyek konstruksi jalan tol yang tidak semasif sebelumnya.

Penggunaan capex untuk tahun ini pun bakal digunakan sesuai dengan kondisi di lapangan pada semester II/2021 utamanya untuk pembebasan lahan. Beberapa jalan tol yang saat ini dalam pembebasan lahan dan konstruksi a.l. ruas tol Jakarta - Cikampek II Selatan sepanjang 64 kilometer, ruas tol Yogya - Bawen sepanjang 75,82 kilometer, dan ruas tol Probolinggo - Banyuwangi sepanjang 172,9 kilometer.

Untuk ruas tol Jakarta - Cikampek II Selatan saat ini progres pembebasan lahan mencapai 51,79 persen dan konstruksi 22,83 persen. Ruas tol Yogya - Bawen memiliki progres pembebasan lahan 0,97 persen, karena konstruksi belum dimulai sama sekali alias nol persen.

Begitu pula progres konstruksi di ruas tol Probolinggo - Banyuwangi juga belum dimulai. Meski begitu, progres pembebasan lahan mencapai 24,88 persen.

Hingga akhir semester I/2021, panjang jalan tol beroperasi kelolaan Jasa Marga mencapai 1.246 kilometer yang termasuk jalan tol Balikpapan - Samarinda sepanjang 32,4 kilometer yang beroperasi mulai 25 Agustus 2021. Sedangkan jumlah panjang hak konsesi mencapai 1.603 kilometer.

Dalam perkembangan selanjutnya, JSMR akan segera mengoperasikan ruas tol Manado-Bitung secepatnya pada Desember 2021. Konstruksi ruas tol Manado-Bitung diproyeksi rampung pada Oktober sehingga bakal langsung diikuti oleh proses uji laik fungsi pada bulan berikutnya. Apabila sesuai jadwal, tol Madano-Bitung akan mulai dioperasikan pada Desember 2021.

 

 

Dorong Kinerja Anak Usaha

Di sisi lain, Jasa Marga mendorong anak usahanya, PT Jasamarga Related Business (JMRB), untuk melantai di bursa saham. Direktur Keuangan Jasa Marga Donny Asral mengatakan pihaknya terus memoles kinerja JMRB agar siap go public.

Hal itu pula yang menyebabkan perseroan belum bisa memastikan jadwal pelaksanaan initial public offering anak usahanya. “Kami mencoba untuk membangun pondasi bisnis dulu sehingaa solid, kemudian baru kita lihat waktu yang tepat untuk bisa IPO,” kata Donny dalam paparan publik, pekan lalu.

Saat ini fokus emiten dengan kode saham JSMR ini adalah untuk membesarkan JMRB terlebih dahulu. Sebelumnya, JSMR sempat menyebut IPO dari JMRB akan dilangsungkan pada 2023 dan saat ini perseroan masih melakukan kajian terkait dana yang akan dihimpun.

JMRB merupakan anak usaha JSMR yang bergerak di bidang usaha non jalan tol. Sebelumnya JMRB bernama PT Jasamarga Properti telah mengembangkan usaha yang mendukung bisnis inti perseroan

Kini, Jasamarga Related Business memiliki lini bisnis yang mencakup pengembangan properti, pengembangan dan pengelolaan rest area di seluruh Indonesia, pengelolaan unit iklan dan utilitas, pengembangan bisnis digital, serta building management.

Salah satu lini bisnis yang sedang dikembangkan oleh JMRB juga yaitu toll corridor development (TCD) yang seterusnya memiliki bisnis turunan lain yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Beberapa bisnis yang potensial dari TCD a.l. pengembangan residensial, kawasan industri, hingga kawasan komersial, termasuk transportation hub, logistic hub dan sebagainya. Adapun dalam waktu dekat, Jasamarga Related Business akan mengembangkan TCD di sekitar ruas jalan tol JORR dan Jagorawi.

Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar