Free

Geser ke Material Ramah Lingkungan, Semen OPC Ditinggalkan

Selama ini, semen ordinary portland cement (OPC) dianggap tidak ramah lingungan, lantaran material yang digunakan berupa batu kapur, tanah liat, hingga gipsum.

Tim Redaksi

4 Jun 2024 - 21.11
A-
A+
Geser ke Material Ramah Lingkungan, Semen OPC Ditinggalkan

Tumpukan semen grup Semen Indonesia./Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memproyeksi penyerapan semen ordinary portland cement (OPC) menjadi 0% untuk segmen konstruksi pada akhir tahun ini. Prediksi tersebut seiring dengan rencana pembaruan spesifikasi bahan baku material ramah lingkungan oleh pemerintah.

Ketua Umum ASI Lilik Unggul Raharjo mengatakan hal ini juga berkaitan dengan strategi dekarbonisasi industri semen untuk mencapai net zero emission (NZE) 2050, salah satunya dengan meningkatkan penyerapan semen ramah lingkungan atau non-OPC.

"Jadi pelan-pelan, kami harapkan akhir tahun ini bisa betul-betul 0% [OPC]. Akhir tahun ini bisa 0% karena di Kementerian PUPR juga ada beberapa proyek yang sudah berjalan jadi nanti mulai yang baru benar-benar menggunan non-OPC," kata Lilik kepada wartawan, Senin (3/6/2024).

Semen OPC dianggap tidak ramah lingungan, lantaran material yang digunakan berupa batu kapur, tanah liat, hingga gipsum.

Dalam catatan ASI, kapasitas produksi semen nasional mencapai 119,9 juta dengan penyerapan domestik mencapai 65,5 juta pada tahun 2023. Adapun sebesar 70% penyerapan di pasar merupakan semen ramah lingkungan.

Sementara itu, 30% produk semen sebagian besar masih OPC meskipun terdapat produk yang sebagian lainnya semen hidrolik.

Baca Juga :

 

"Ini pekerjaan rumah utama untuk meyakinkan para pengambil keputusan untuk mengubah spesifikasi nya, jadi sebenarnya, beberapa proyek-proyek non-pemerintah itu sudah mulai memakai semen ramah lingkungan, untuk konstruksi," ujarnya.

Untuk mendorong penyerapan semen non-OPC, pihaknya tengah menggodok revisi aturan spesifikasi penggunaan bahan baku material untuk konstruksi bangunan menjadi ramah lingkungan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Namun, Lilik menegaskan bahwa transisi penyerapan semen non-OPC akan dilakukan secara gradual. Pasalnya, masih ada beberapa proyek konstruksi yang sudah berjalan menggunakan semen OPC.

"Konstruksi ini masih mengacu ke OPC, ini ada task force khusus yang melibatkan PUPR dan ASI dalam mengubah spek, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa, harapannya yang untuk konstrksi menggunakan spek ramah lingkungan," tuturnya.

Lebih lanjut, Lilik menerangkan, pada tahun 2010-2022, intensitas karbon industri semen Indonesia berkurang dari 725 kg CO2 per ton semen menjadi 631,70 kg CO2 per ton semen, terdapat pengurangan emisi absolut sebesar 6,54 juta ton CO2 atau telah berkurang 12,9%.

"Industri semen memainkan peran penting dalam mengurangi CO, emisi, dan komitmennya untuk menerapkan inisiatif strategis sangat penting untuk mencapai emisi karbon net-zero," terangnya.

IKN

Sebagai salah satu proyek strategis pemerintah, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara juga berupaya merealisasikan target ekonomi Indonesia 2045, terutama pemanfaatan energi terbarukan dan rendah emisi karbon.

“Sebagai salah satu Kementerian yang diberi tugas untuk pembangunan IKN, Kementerian PUPR ingin mendorong pasokan sumber daya material dan peralatan konstruksi berbasis industri dalam negeri yang mampu mendukung prinsip pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan”, kata Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Mohammad Zainal Fatah, ungkapnya.

Terbaru, salah satu realisasi yang dilakukan Pemerintah untuk memastikan pembangunan infrastruktur berkelanjutan di IKN, adalah melalui penandatanganan kerja sama antara PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dengan PT Bina Karya (Persero) (Bina Karya) dalam penyediaan solusi bahan bangunan termasuk produk berbahan dasar semen, green cement, produk turunan semen dan bahan bangunan yang dilakukan oleh Direktur Utama SIG, Donny Arsal dan Direktur Utama Bina Karya, Boyke Prasetyanto di The East Tower, Jakarta, pada Kamis, 30 Mei 2024.

Green cement dalam proses produksinya menghasilkan emisi gas rumah kaca (emisi karbon) yang lebih rendah dibandingkan semen konvensional (OPC), namun tetap memberikan kinerja setara di kelas peruntukannya. Sebagai contoh hasil karya green cement SIG, semen hidraulis untuk proyek proyek infrastruktur dan aplikasi turunan semen (misal paving porous untuk solusi air tergenang, SpeedCrete untuk solusi beton cepat kering). 

Semen PCC untuk infrastruktur umum dan soil stabilizer, slag cement untuk marine structure, highrise building dan bendungan serta semen masonry untuk aplikasi non-struktural. 

Green cement hasil karya SIG sejauh ini telah menghasilkan penurunan emisi karbon sampai dengan 38% per ton semen lebih rendah dibandingkan OPC. Kesiapan SIG dalam menyediakan green cement diharapkan bisa menjawab kebutuhan solusi bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, kerja sama ini juga mencakup pemanfaatan aset dan sumber daya pendukung kegiatan bisnis di IKN dan daerah mitra yang dikelola oleh kedua belah pihak, serta potensi kerja sama lainnya.

Baca Juga :

 

“Selain memiliki portofolio produk-produk dan solusi bahan bangunan rendah karbon, SIG memiliki keunggulan jaringan produksi dan distribusi yang ekstensif yang mampu memenuhi kebutuhan pembangunan di seluruh wilayah di Indonesia. Maka, selain produk berkualitas dan rendah karbon, SIG juga memberi nilai tambah efisiensi untuk jaminan ketersediaan pasokan dan pengiriman yang tepat waktu,” kata Donny Arsal. 

Sejak Desember 2022, SIG dipercaya memasok bahan bangunan untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur IKN. Hingga Februari 2024, SIG telah memasok sekitar 400 ribu ton semen dari fasilitas di Balikpapan dan Samarinda yang secara geografis dekat dengan lokasi proyek. Kerja sama dengan Bina Karya ditargetkan menjadi katalis yang menjadikan SIG sebagai penyedia bahan bangunan dalam kategori green atas penerapan prinsip-prinsip ESG dalam proses produksi dan rantai pasoknya.

Diketahui, bahwa estimasi kebutuhan material dan peralatan konstruksi di IKN periode tahun 2022-2024 di antaranya material semen sebesar 1,94 juta ton dan material beton pracetak dan prategang sebesar 748 ribu ton. Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Bina Konstruksi mendorong pemenuhan kualitas kebutuhan material terstandarisasi untuk menghasilkan konstruksi/infrastruktur yang berkualitas dan sesuai umur rencana, mendukung transformasi industri konstruksi 4.0 dengan mendorong peningkatan penggunaan sumber daya material dalam negeri.

Direktur Utama Bina Karya, Boyke Prasetyanto menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat berjalan dengan lancar. “Kami harap, melalui kerja sama ini, semua bangunan di Nusantara tidak hanya mengusung konsep green building, tapi juga green construction karena menggunakan bahan bangunan ramah lingkungan,” ujarnya.

Dalam pembangunan insfrastruktur IKN Nusantara, produk bahan bangunan SIG digunakan untuk berbagai paket pekerjaan, seperti Istana Negara, Kantor Presiden, dan Lapangan Upacara yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) hingga Jalan Tol IKN Seksi 3A (Karangjoang-KKT Kariangau), Seksi 3B (KKT Kariangau-Simpang Tempadung), dan Seksi 5A (Simpang Tempadung-Jembatan Pulau Balang). Keberadaan Jalan Tol yang akan terhubung dengan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda ini diharapkan dapat mempersingkat jarak tempuh dari Balikpapan menuju KIPP IKN dari sebelumnya sekitar 2 jam menjadi 45 menit.

Selain itu, produk semen SIG juga digunakan untuk infrastruktur pendukung KIPP, yaitu Intake Sepaku dan Bendungan Sepaku yang akan berfungsi sebagai sarana penunjang untuk mencukupi kebutuhan air baku di IKN yang bersumber dari Sungai Sepaku yang berfungsi sebagai pengendali banjir di IKN.(Afiffah Rahmah Nurdifa, Rinaldi Azka)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.