Greenshoe Option, Upaya Tangkal Kejatuhan Harga Emiten Baru BUMN

Implementasi skema greenshoe dalam penawaran umum perdana saham dinilai dapat menjadi opsi stabilisasi harga saham emiten anyar di tengah dinamika pasar pada periode awal pencatatan saham.

Emanuel Berkah Caesario
Mar 7, 2022 - 1:14 PM
A-
A+
Greenshoe Option, Upaya Tangkal Kejatuhan Harga Emiten Baru BUMN

Karyawan melintas di dekat layar yang menampilkan logo Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (26/1/2022). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis, JAKARTA — Banyaknya emiten pendatang baru yang justru berguguran harganya di pasar menjadikan Kementerian BUMN waswas hal yang sama bakal terjadi pada emiten-emiten keluarga BUMN lainnya yang bakal segera listing di pasar modal tahun ini.

Tren di pasar modal Indonesia akhir-akhir ini tampaknya berbalik dibanding tren di tahun-tahun sebelumnya. Jika dulunya kerap kali emiten yang baru menggelar initial public offering (IPO) akan cenderung melonjak harganya setelah listing, kini justru cenderung anjlok.

Di lantai bursa, tiga saham pendatang baru yang tercatat pada awal 2022 ini mengalami penurunan harga di bawah harga IPO mereka.

Tiga saham tersebut ialah saham anak usaha BUMN yakni PT Adhi Commuter Properti Tbk. (ADCP) yang terkoreksi 18,46 persen sejak listing, saham PT Nusatama Berkah Tbk. (NTBK) -25 persen, dan saham PT Champ Resto Indonesia Tbk. (ENAK) -4,12 persen.

Selain ADCP, saham anak usaha BUMN lainnya PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) juga tergelincir ke level Rp770 atau di bawah harga IPO Rpp800 sejak tercatat pada 22 November 2021.

Merespons kinerja saham korporasi pelat merah yang baru IPO, Kementerian BUMN mengusulkan penerapan opsi greenshoe dalam aksi go public entitas keluarga BUMN berikutnya.

Greenshoe option merupakan suatu mekanisme opsi penjatahan yang bisa diambil oleh calon emiten dalam masa penawaran umum atau IPO.

Umumnya, opsi itu dipakai oleh calon emiten yang mengalami kelebihan permintaan dalam IPO sehingga memberikan penjatahan lebih dengan batas maksimal sebesar 15 persen.

Hal itu mengacu pada aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No.XI.B.4 tentang Stabilisasi Harga Saham dalam Rangka Penawaran Umum Perdana (IPO).

Harold Tjiptadjaja, Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas, menilai opsi greenshoe merupakan kebijakan yang baik dari Kementerian BUMN untuk menghindari anjloknya harga saham emiten BUMN yang baru masuk bursa.

Greenshoe adalah kebijakan yang umum dalam pelaksanaan IPO di luar negeri. Kebijakan ini penting, karena diperlukan adanya satu pihak yang dapat melakukan stabilisasi jika harga saham tersebut turun di bawah harga IPO setelah saham emiten BUMN tersebut dicatatkan di bursa,” tuturnya melalui pesan elektronik kepada Bisnis, baru-baru ini.

Melalui greenshoe untuk IPO BUMN, lanjut Harold, sekuritas yang ditunjuk menjadi agen stabilisasi dapat melakukan stabilisasi dengan membeli saham pada harga IPO selama periode stabilisasi dengan harapan harga saham tersebut tidak turun di bawah harga IPO.

“Dengan adanya greenshoe, investor yang membeli saham IPO tersebut akan mendapatkan comfort bahwa jika harga saham anjlok akan ada pihak yang menjaga harga saham tersebut selama periode stabilisasi,” imbuhnya.

Mandiri Sekuritas, lanjutnya, akan mendorong perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat dan prospek bisnis yang baik untuk memanfaatkan momentum yang baik sekali di pasar modal Indonesia dengan melakukan IPO pada tahun ini dan tahun depan. 

Saat ini, Mandiri Sekuritas mengantongi beberapa perusahaan swasta dan BUMN yang sedang dalam pipeline IPO.

Secara terpisah, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan, Frankie Wijoyo Prasetio, menuturkan penggunaan skema greenshoe option dalam IPO BUMN ke depannya memang cukup baik terutama dalam menjaga kepercayaan para investor yang mengikuti penawaran IPO dengan tujuan berinvestasi.

“Jadi, dengan greenshoe option ini ada pihak yang menjaga stabilitas harga saham, umumnya adalah pihak penjamin emisi atau underwriter. Salah satu hal utama dari skema greenshoe ini pihak penjamin emisi dapat melakukan penjualan ataupun pembelian saham selama masa stabilisasi untuk menjaga kemungkinan harga saham yang anjlok,” urainya kepada Bisnis, Minggu (6/3).

Lebih lanjut, skema ini dinilai cukup baik dan dapat menekan keraguan para investor yang ingin berinvestasi pada saham-saham BUMN yang akan IPO nantinya.

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menuturkan efektifitas greenshoe option cukup baik dalam menjaga harga saham tetap stabil. Hal ini membuat investor tidak perlu panik menjual saham IPO secara terburu-buru.

“Kalau dikatakan efektif memang cukup efektif untuk menstabilkan harga, dengan adanya greenshoe investor tidak membuat investor panik menjual,” katanya.

Namun, Azis menegaskan dalam berinvestasi tetap kembali lagi pada prospek dan minat investor pada saham yang baru IPO tersebut. Jangka pendek efektif stabilkan harga, untuk jangka panjang pasti investor akan melihat kembali prospeknya.

CALON EMITEN

Direktur Keuangan, Teknologi Informasi, dan Manajemen Risiko PT ASDP Indonesia (Persero) Ferry Djunia Satriawan menjelaskan opsi greenshoe memang suatu mekanisme bagi para calon emiten untuk mengantisipasi kelebihan permintaan pada saat IPO.

“Namun, masih terlalu dini bagi ASDP untuk memutuskannya saat ini. Sambil berjalannya proses IPO, kami akan terus melihat perkembangan pasar,” paparnya kepada Bisnis, Minggu (6/3).

Lebih lanjut, ASDP setidaknya melihat ada dua hal penting yang perlu diperhatikan perseroan dalam IPO. Pertama, persepsi calon investor terhadap ASDP, yang akan menentukan valuasi dari pasar.

Kedua, kondisi pasar modal dan IHSG saat menjelang IPO. Saat ini, ASDP terangnya akan terus memantau dampak pandemi Covid-19 yang bakal bergeser menjadi endemi terhadap pasar.

Pada pekan ini, tiga perusahaan akan melantai di Bursa Efek Indonesia. Mereka ialah PT Sumber Mas Konstruksi Tbk. (SMKM) akan mencatatkan saham pada Rabu (9/3), serta PT Sumber Tani Agung Resources Tbk. (STAA) dan PT Nanotech Indonesia Global Tbk. (NANO) yang dijadwalkan listing bersamaan pada Kamis (10/3).

Dari IPO, SMKM melepas 2,5 juta lot saham seharga Rp264 per saham sehingga berpotensi meraih Rp66 miliar. Sementara itu, STAA yang bergerak di sektor perkebunan sawit berpotensi meraih dana hasil IPO Rp526,24 miliar dengan melepas 8,77 juta lot saham seharga Rp600 per saham.

Selanjutnya, NANO menawarkan hingga 1,28 miliar saham dalam aksi IPO atau 29,99 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh ke publik. Saham perdana NANO dibanderol Rp100 per saham sehingga perseroan sektor teknologi itu berpotensi meraih dana segar hingga Rp128,50 miliar dalam aksi go public.

(Reporter: Ana Noviani & Rinaldi M. Azka)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Greenshoe Option, Upaya Tangkal Kejatuhan Harga Emiten Baru BUMN

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ