Gurita Bisnis Crazy Rich Bandung Jahja Tear Tjahjana

Jahja Tear Tjahjana belakangan menjadi nama yang populer di kalangan investor saham. Sepak terjang Jahja sebelumnya tidak banyak beredar karena lebih banyak di belakang layar.

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Dec 10, 2021 - 11:05 AM
A-
A+
Gurita Bisnis Crazy Rich Bandung Jahja Tear Tjahjana

(Dari kanan ke kiri) Direktur Utama PT Oneject Indonesia Jahja Tear Tjahjana, Mantan Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, dan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Engko Sosialine Magdalene meresmikan awal konstruksi pabrik kedua PT Oneject Indonesia di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/10/2019). - Bisnis / Oktaviano D.B. Hana

Bisnis, JAKARTA — Aksi akuisisi saham PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk. (DGIK) melalui PT Global Dinamika Kencana (GDK) seketika menjadikan nama Jahja Tear Tjahjana populer di kalangan investor saham.

Sepak terjang Jahja sebelumnya tidak banyak beredar karena lebih banyak di belakang layar. Namun, seiring dengan kiprahnya pada aksi akuisisi tersebut namanya kian menjadi pembicaraan.

Namanya mulai banyak dicari seiring dengan dimulainya aksi penawaran tender wajib atau tender offer yang dijalankan GDK bagi investor DGIK setelah aksi akuisisi itu rampung pada Oktober 2021 lalu. Tender offer ini telah dimulai kemarin, Kamis (9/12) atas sekitar 1,16 miliar saham atau 21,01 persen saham DGIK.

Penawaran wajib itu dilakukan di harga Rp80 per saham. Artinya, total nilai tender offer ini mencapai Rp93,15 miliar. Adapun, porsi kepemilikan GDK atas DGIK per akhir Oktober 2021 mencapai 51,85 persen.

DGK juga membeli saham DGIK pada Oktober 2021 lalu dengan harga Rp80 per saham senilai total Rp229,84 miliar.

Saham tersebut dibeli dari pemegang saham lama seperti PT Lokasindo Aditama (7,6 persen), PT Lintas Kebayoran Kota (34,12 persen), PT Rezeki Segitiga Emas (9,32 persen) dan PT Multidaya Hutama Indokarunia (0,81 persen).

Jahja merupakan sosok yang membangun PT Global Dinamika Kencana. Berdasarkan penelusuran Bisnis, sosok kelahiran Bandung tersebut memiliki pengalaman bisnis yang luas.

Kiprah bisnis Jahja bermula pada 1982, ketika ia merintis usaha pertamanya, yakni penjualan komputer asal Taiwan dan penyedia material untuk proyek konstruksi dan renovasi.

Konglomerasi Jahja Tear Tjahjana

Jam terbang awal itulah yang kemudian mendorong Jahja untuk mendirikan PT Citra Cendana Kencana pada 1988. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi Global Dinamika Kencana pada 2002.

Bisnis konstruksi melalui PT Dirgantara Yudha Artha (DYA) dijalankan Jahja pada 1990. Sampai hari ini, perusahaan yang rencananya bakal disinkronisasikan dengan DGIK tersebut telah memiliki 5 segmen bisnis. Di antaranya adalah konstruksi, pabrik aspal, pabrik beton, rental  alat berat, bahkan kontraktor pertambangan.

Beberapa contoh proyek besar yang sempat diikuti DYA di antaranya pembangunan Bandara Husein Sastranegara Bandung, Bandara Thaha Jambi, Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Tol Solo-Jogja-Kulonprogo, Tol Jakarta-Cikampek, hingga tol Semarang Batang. Perusahaan ini juga masih aktif berpartisipasi dalam Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Dalam salah satu diskusi virtual yang dihelat Koperasi Berbagi Rakyat, awal November 2021 lalu, Jahja berkata bahwa kesuksesan di berbagai proyek tersebut langsung tidak sekali jadi. Ada proses panjang layaknya lari marathon yang menurut Jahja juga melelahkan untuk dilalui.

“Pada dasarnya semua itu proses, tidak bisa langsung besar. Saya melakukan ini dalam lebih dari 10 tahun, 15 tahun bahkan. Jadi, tidak tiba-tiba bikin jalan tol. Kalau bicara omzet, dari awalnya Rp10 juta, jadi Rp100 juta, jadi Rp1 miliar, jadi Rp10 miliar, jadi Rp100 miliar dan seterusnya itu ada tahapan yang harus terus diikuti,” katanya.

Selain pada bidang konstruksi, Jahja juga masuk ke segmen bisnis kesehatan. Ia telah mengantarkan distributor jarum suntik sekali pakai PT Itama Ranoraya Tbk. (IRRA) melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2019 lalu.

Selain IRRA, Jahja juga memiliki dua perusahaan lain pada bidang kesehatan. PT Neumedik Indonesia dikelola langsung dibawah GDK, sementara PT Oneject Indonesia yang dikendalikan lewat entitas bernama PT Tri Mitra Sehati.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar