Hampir Lewati Batas, Kenaikan Mi Instan Perparah Inflasi?

Di saat inflasi hampir melewati batas atas, harga mi instan bakal naik tiga kali lipat. Seberapa parah efek kenaikan makanan sejuta umat terhadap inflasi?

Jaffry Prabu Prakoso

10 Agt 2022 - 18.39
A-
A+
Hampir Lewati Batas, Kenaikan Mi Instan Perparah Inflasi?

JAKARTA – Inflasi tahun ini sudah mendekati batas atas yang ditetapkan pemerintah meski masih di pertengahan 2022. Di saat yang sama, makanan sejuta umat, yaitu mi instan diperkirakan bakal naik hampir tiga kali lipat.

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Faisal Rachman mengatakan bahwa naiknya harga mi instan berpotensi mengerek inflasi. 

Dia mencatat kenaikan 10 persen harga mi, bakal menyumbang inflasi sekitar 0,03-0,07 ppt. Meski meningkat, tidak secara signifikan memengaruhi konsumsi total.

"Peningkatan harga mi masih wajar di tengah naiknya harga gandum global. Jadi, sepertinya tidak secara signifikan mempengaruhi konsumsi total," katanya kepada Bisnis, Rabu (10/8/2022).

Faisal menjelaskan bahwa hal tersebut karena pemerintah telah memberikan bantuan langsung tunai dan subsidi untuk golongan tidak mampu. Menurutnya, ini bisa mengkompensasi sebagian kenaikan harga mi instan. 

Berbeda dengan Faisal, Ekonom Indef Esther Sri Astuti memandang inflasi tidak akan bertambah apabila hanya harga mi yang naik. Pasalnya, inflasi terjadi akibat harga barang-barang secara umum naik. 

Apalagi, dia mencatat proporsi konsumsi mi instan terhadap pendapatan per kapita juga kecil. Dengan begitu, diperkirakan tidak menimbulkan gejolak inflasi jika harganya naik 3 kali lipat.

"Tapi kalo harga mi instan, ditambah harga bahan bakar naik, harga gas naik, harga listrik naik, maka pasti terjadi inflasi," terangnya. 


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam rilis kinerja ekspor dan impor Februari 2022, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (15/3/2022). /BPS

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Juli 2022 mencapai hampir 5 persen atau tepatnya 4,94 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono mengatakan bahwa krisis pangan dan energi yang terjadi secara global memberikan tekanan pada inflasi di dalam negeri terutama pada komponen energi. 

Secara bulanan, tingkat inflasi pada periode tersebut tercatat mencapai 0,64 persen (month-to-month/mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,61 persen mtm. 

Meski terus mengalami peningkatan, dia menilai inflasi di dalam negeri hingga Juli 2022 masih relatif terjaga. 

“Inflasi Indonesia secara tahunan mengalami peningkatan yang persisten, namun kondisi tersebut jika dibandingkan dengan beberapa negara, kita masih lebih baik. Kategorinya masih aman,” katanya pada konferensi pers awal bulan ini. 

Penyebab Mi Instan Naik


Petugas sedang menurunkan karton produk mi instan Indomie. Mi instan merupakan salah satu produk unggulan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. - indofood.com


Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa harga mi instan di dalam negeri berpotensi naik hingga 3 kali lipat. Hal tersebut seiring dengan tingginya harga gandum dunia yang disebabkan konflik Rusia-Ukraina.

Selain pandemi Covid-19 dan perubahan cuaca yang tak menentu, perang antara Rusia dan Ukraina menyebabkan melonjaknya harga gandum. Kedua negara tersebut menjadi salah satu lumbung bahan utama mi instan terbesar di dunia.

"Gandum besok harganya 3 kali lipat itu. Maafkan saya bicara ekstrem saja. Ada gandumnya tapi harganya akan mahal banget. Sementara kita impor terus mi gitu loh," kata Syahrul melalui Youtube Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Selasa (9/8/2022).

Syahrul menjelaskan bahwa perang Rusia-Ukraina menyebabkan kendala konektivitas yang besar terhadap komoditas gandum dan juga pupuk

Harga pupuk telah terkerek hingga 5 kali lipat dari harga normal karena pasokannya terhambat. Kedua negara tersebut juga merupakan pemasok bahan baku pupuk terbesar secara global. 

Setidaknya, tambah Syahrul, ada 13 juta orang di dunia tengah menghadapi ancaman kelaparan. Lalu, sebanyak 62 negara tengah menuju kondisi krisis pangan akibat kondisi-kondisi yang menekan sektor pangan tersebut. 

"Oleh karena itu ada dua krisis yang segera di hadapi dunia adalah krisis energi dan krisis pangan," jelasnya.

(Reporter: Ni Luh Angela dan Maria Elena)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.